Langsung ke konten utama

Keuskupan di Indonesia Dikecam karena Mengusir Masyarakat Adat


Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Jeruk ๐ŸŠ _Melangkah Tanpa Alas Kaki_"Para imam harusnya melindungi masyarakatnya dari ancaman pengusiran dan kriminalisasi. Gereja harus mengutamakan dialog yang bermartabat untuk menyelesaikan konflik semacam itu" di Nangahale, Kabupaten Sikka pada 22 Januari 2025.
-Maximilianus Herson Loi-

Sebuah keuskupan di Pulau Flores yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dituduh mendorong kekerasan setelah sebuah perusahaan yang dikelolanya menghancurkan puluhan rumah dalam upaya untuk mengusir sekitar 200 masyarakat adat dari tanah yang disengketakan.

Sekelompok orang yang disewa oleh PT Kristus Raja Maumere, perusahaan milik Keuskupan Maumere, menghancurkan 50 rumah dan tanaman di lahan pertanian milik masyarakat adat Soge Natarmage dan Goban Runut-Tana Ai di Nangahale, Kabupaten Sikka pada 22 Januari 2025.
UCA News memperoleh gambar yang memperlihatkan polisi dan tentara militer menjaga peralatan berat, termasuk ekskavator, yang digunakan untuk upaya penggusuran.

Gambar video juga menunjukkan sekelompok pekerja bayaran menghancurkan rumah-rumah dan mengabaikan protes penduduk asli.

Beberapa perempuan dari masyarakat adat terlihat duduk di atas peralatan berat dan memprotes, menangis dan menjerit, serta memasukkan tanah ke dalam mulut mereka sebagai ekspresi keputusasaan yang ekstrem.

Tindakan penggusuran itu dilakukan di tengah persidangan pengadilan yang sedang berlangsung terhadap delapan orang masyarakat adat yang ditangkap oleh polisi tahun lalu karena diduga merusak aset perusahaan.
Antonius Toni, seorang anggota suku Goban, mengatakan bahwa dia berada di Pengadilan Negeri Sikka mendampingi delapan warga ketika dia mendengar bahwa rumahnya hancur dan istrinya terluka akibat tertimpa reruntuhan.

Ia mengatakan istrinya dan beberapa penghuni lainnya sedang berada di rumah ketika sekelompok orang datang, memaksa masuk, dan mengendarai ekskavator melewati halaman. Istrinya saat ini dirawat di rumah sakit.

Konflik berpusat pada 868.730 hektar tanah yang dirampas selama pemerintahan Belanda di Indonesia. Setelah kemerdekaan, tanah tersebut diserahkan kepada Keuskupan Agung Ende melalui perseroan terbatas, PT. Perkebunan Kelapa Diag. 

Keuskupan Maumere mulai memilikinya setelah berdiri pada tahun 2005.

Izin tanah perusahaan keuskupan berakhir pada tahun 2013, dan masyarakat Pribumi yang tinggal dan menggarap tanah tersebut berupaya mengklaimnya.

Namun pada tahun 2023, perusahaan memperoleh perpanjangan izin, tetapi perselisihan tetap berlanjut.
Konsorsium Pembaruan Agraria (ARC), aliansi yang beranggotakan 92 organisasi advokasi dan masyarakat adat, dalam pernyataan pada 23 Januari mengecam tindakan perusahaan tersebut sebagai โ€œbrutal, biadab, dan tidak manusiawi.โ€

Sekitar 200 orang yang digusur kini terpaksa bermalam di reruntuhan rumah mereka. Penggusuran yang dilakukan saat proses peradilan masih berlangsung, merupakan "bentuk arogansi" dari pihak perusahaan.

โ€œLangkah ini sungguh ironis,โ€ mengingat tindakan tersebut datang dari keuskupan yang seharusnya โ€œmelindungi masyarakat dan mengutamakan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan,โ€ kata aliansi tersebut.

Mereka juga mengkritik pemerintah karena โ€œmengabaikan kejahatan agrariaโ€ yang dilakukan oleh perusahaan.

Uskup Martinus Ewaldus Sedu dari Maumere menolak berkomentar ketika UCA News menghubungi.

Maximilianus Herson Loi, Ketua Pelaksana Cabang Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Flores, mengatakan, โ€œPara imam harusnya melindungi masyarakatnya dari ancaman pengusiran dan kriminalisasi. Gereja harus mengutamakan dialog yang bermartabat untuk menyelesaikan konflik semacam itu."

Loi juga mengritik aparat keamanan yang bertindak sebagai pelindung dan penjaga perusahaan.

โ€œApakah karena Masyarakat Adat tidak punya uang sehingga mereka tidak layak dilindungi?โ€ tanya Herson.

Pada tahun 2024, setidaknya terdapat 111 kasus konflik agraria akibat konsesi perkebunan masyarakat adat, menurut ARC.

Konflik perkebunan selalu menjadi penyumbang tertinggi konflik agraria, dengan 1.242 konflik agraria yang tercatat dalam dekade terakhir, kata kelompok itu.

โ€œHal ini menunjukkan adanya permasalahan mendasar dan akut terkait dengan penerbitan, perpanjangan, dan pembaharuan hak atas tanah di Indonesia, โ€ tandasnya.

Diterjemahkan dengan google translate dari sumber di bawah ini (kesalahan hasil terjemahan terbuka untuk dikoreksi), Fransia

https://www.ucanews.com/news/indonesian-diocese-under-fire-for-evicting-indigenous-people/107660

Jakarta, 24 Januari 2025

post. Admin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG PERAHU KERTAS

"Satu Pucuk Melawan Seribu" Satu pucuk senjata, melawan seribu musuh Tidak ada harapan, tidak ada kekuatan Tapi aku tidak menyerah, aku tidak mundur Aku akan melawan, dengan satu pucuk senjataku Seribu pucuk senjata, menghadapku dengan garang Tapi aku tidak takut, aku tidak gentar Aku akan melawan, dengan keberanian dan kehormatan Aku akan membuktikan, bahwa satu pucuk senjata bisa menang Musuhku banyak, tapi aku tidak sendirian Aku memiliki keadilan, aku memiliki kebenaran Aku akan melawan, dengan semangat dan kepercayaan Aku akan menang, dengan satu pucuk senjataku Satu pucuk senjata, melawan seribu musuh Tapi aku tidak menyerah, aku tidak mundur Aku akan melawan, dengan keberanian dan kehormatan Aku akan menang, dengan satu pucuk senjataku. TanahAirTercinta WestPapua ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ Anak yg Boleh Mencintainya. Anak ku. Ayah sangat merindukan mu. Tetapi Apa yang ayah lakukan hari ini suatu ketika anak besar akan mengerti penindasan atas negeri mu. Anak ku. Ay...

SETELAH DENGAR HASIL UJIAN PAKAIAN SISWA/I SMA Kelas XII Di NABIRE DIWARNAI BINTANG KEJORA POLISI MEMUKUL Mince Heluka, BEBERAPA ORANG MENANGKAP POLISI

Siswi SMA kelas XII,Foto Mince heluka dapat pukul dari Polisi Nabire. Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua- Kota Jeruk ๐ŸŠ -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Nabire Siswa/i SMA kelas 3 dengar hasil ujian, mereka mewarnai pakeyan abu putih dirubah Bendera Identitas diri Papua Barat, Bendera Bintang Kejora/Bintang Fajar Polisi Melakukan pukulan dan penangkapan terhadap siswa/Siswi. Dengan melihat Siswa Mewarnai dengan warna Identitas sehingga beberapa orang anggota polisi dan ada pula yang dapat pukulan dari Polisi pada Senin 06/05/2024. Kata M.D melalui Handphone genggamnya. Penangkapan dan pemukulan dari polisi terhadap teman-teman SMA yang turun pawai kebahagiaan setelah mendengar kelulusan mereka, namun kami merasa kecewa karena polisi-polisi yang berada di Nabire melarang kegiatan kami, Lanjutnya. Kronologis yang Terjadi  Pukul 16: 7 wp. Kurang lebih 9 orang pelajar dikejar oleh 2 orang polisi berpakaian preman dengan kendaraan beroda 2 pengejaran tersebut lokas...

GEREJA BUKAN TEMPAT TERPROVOKASI,GEREJA MENGAJARKAN PERDAMAIAN DUNIA

Artikel, Viktor Yeimo  Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua- Kota Jeruk ๐ŸŠ -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Gereja jangan lupa memberi pesan Firman Tuhan tentang pembebasan, keadilan, dan perjuangan kepada umat Tuhan yang sedang terjajah itulah kerja yang benar demi umat di seluruh dunia kata Viktor Yeimo korban rasis satu ini dalam artikelnya. Kurangi khotbah yang menekankan pada ketabahan dan kepasrahan tanpa memberi dorongan untuk bertindak, karena itu akan membuat umat menjadi pasif dan apatis terhadap kondisi penindasan yang mereka alami. Firman Tuhan harus menginspirasi dan memotivasi umat untuk bangkit dan berjuang melawan penindasan. Gereja seringkali kurang mengakomodasi teologi pembebasan yang relevan dalam konteks umat yang terjajah. Teologi pembebasan menekankan pada pentingnya perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sebagai bagian dari iman Kristen. Gereja perlu mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam setiap khotbah dan pengajaran agar umat merasa didukung d...