Postingan

FILSAFAT ILMU MAMA DARI SEMUA ILMU

Gambar
HIDUP BUKAN PIIHAN, Refleksi Filosofis tentang Kebebasan, Takdir, dan Keterbatasan Manusia. Sering kali kita mendengar ungkapan yang tampaknya sederhana namun penuh makna, “hidup adalah pilihan.” Kalimat ini sering digunakan untuk mengingatkan kita akan pentingnya mengambil tanggung jawab atas hidup kita sendiri, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan dan keputusan yang datang. Namun, apakah benar hidup itu adalah pilihan? Ataukah justru ini adalah sebuah pandangan yang lahir dari posisi yang sangat nyaman, yang tidak bisa melihat kenyataan bahwa banyak orang hidup dalam keterbatasan yang sangat besar, dan tidak diberi kebebasan untuk memilih? Hidup sebagai Pemberian yang Tak Diminta Kita mulai hidup tanpa pilihan apapun. Kita tidak memilih untuk dilahirkan, tidak memilih orang tua kita, tempat di mana kita dilahirkan, atau kondisi sosial dan ekonomi yang membentuk diri kita sejak awal. Bahkan agama yang kita anut, bahasa yang kita pelajari, dan budaya yang kita waris...

Ketika Masyarakat Mempertahankan Alam Leluhur-Nya, Negara di Penjarakna Rakyat

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua-Kota Holandia Jayapura -Melangka Tanpa Alas Kaki- Upaya warga dalam mempertahankan lingkungan tempat mereka tinggal tidaklah mudah. Mereka berhadapan dengan ancaman pemenjaraan hingga kekerasan. Di Indonesia, kasus semacam ini senantiasa berulang. Apa pemicunya? Alam merupakan elemen penting bagi masyarakat adat Maba Sangaji yang menetap secara turun-temurun di Halmahera Timur, Maluku Utara. Setiap unsur di dalamnya mempunyai keterkaitan erat dengan laku para penghuninya. Tanah, misalnya, serupa ibu yang menyediakan limpahan berkah kepada seorang anak. Masyarakat adat Maba Sangaji yang mayoritas mencari nafkah dengan bertani, begitu mengandalkan keberadaan tanah untuk menanam segala yang hidup: pala, kopra, cengkeh, sagu, kakao, hingga ubi. Aliran sungai yang membentang panjang adalah tumpuan tak kalah penting. Sungai induk, Sangaji, bercabang ke dalam bentuk-bentuk lebih kecil—Kaplo, Tutungan, serta Semlowos—yang turut menopang daya tahan ...

6 Negara Ini Dulu Bagian Indonesia, Sekarang Sudah Maju Baca artikel CNBC Indonesia "6 Negara Ini Dulu Bagian Indonesia, Sekarang Sudah Maju"

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua-Kota Holandia Jayapura -Melangka Tanpa Alas Kaki- Indonesia memiliki kekayaan budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika' menjadi keunggulan Indonesia, sebab di dalam perbedaan seyogyanya masih satu juga.  Jika saat ini Indonesia sudah memiliki budaya yang beraneka ragam, dulunya sebenarnya lebih besar lagi. Pasalnya, beberapa negara tetangga yang kini berdiri sendiri dan menjadi negara maju, dulunya ternyata merupakan bagian dari kerajaan-kerajaan yang berbasis di Indonesia. Berikut daftarnya: 1. Singapura Singapura di masa lampau kerap disebut Temasek, Tumasik, atau Kota Laut (Sea Town). Dikutip dari Jurnal Lektur Keagamaan dalam artikel berjudul Tumasik: Sejarah Awal Islam di Singapura (1200-1511 M), posisi Singapura dianggap strategis sebagai pusat perdagangan. Beberapa kerajaan yang sempat menguasainya adalah Sriwijaya sampai akhir abad ke-13 M, Majapahit sampai abad ke-14 M, Ayutthaya-Thai...

Legenda – Dari Mana Datangnya BerasManusia makan nasi. Ada yang setiap hari. Tetapi, pernahkah kita terpikir bagaimana beras bisa muncul ??

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua- Holandia Jayapura -Melangka Tanpa Alas Kaki- Sebelum membaca legendanya, mohon luangkan sedikit waktu untuk menandatangani sebuah petisi untuk menolak kejahatan yang sedang terjadi di Tiongkok. Sebuah kebaikan kecil tidak luput dari catatan Sang Pencipta. Bantuan Anda sangat berharga. Sementara itu, anjing kecil berenang sekuat tenaga, tubuhnya penuh bulir padi. Tapi oh! Satu per satu biji padi hanyut, “plup! plup!” terbawa ombak. Anjing berusaha melengkungkan tubuhnya, menegakkan ekornya tinggi-tinggi. Penuh perjuangan! Ia sadar, hanya padi di ujung ekornyalah yang masih tersisa. Dengan gigi terkatup rapat, ia berenang terus sampai hampir terengah-hengah. Akhirnya… ia sampai di daratan! Manusia menyambut dengan sorak gembira ketika melihat buliran padi di ujung ekor anjing itu—cikal bakal makanan yang kelak menyelamatkan dunia. Sejak hari itu, padi hanya tumbuh pada ujung tangkai, tak penuh dari pangkal ke atas, karena hanya itulah yang be...

Ramalan Mengejutkan Nostradamus untuk Tahun 2026 Terungkap : ‘Perang Besar dan Kawanan Lebah’

Gambar
Nostradamus juga terkesan mengisyaratkan adanya ketegangan baru antara Eropa Barat dan kemungkinan Asia, meski ia tidak menyebutkan wujudnya secara jelas. Pertarungan ini bisa berbentuk persaingan ekonomi, mengingat Eropa masih berjuang keluar dari kelesuan ekonomi — tetapi ada pula yang menilai bahwa ini adalah ramalan tentang kebangkitan kecerdasan buatan (AI). Dengan Tiongkok dan Jepang yang terus memacu kemajuan teknologi AI, kekhawatiran bahwa robot akan menggantikan pekerjaan manusia makin besar — sesuatu yang mungkin berkaitan dengan gambaran “Barat kehilangan cahayanya dalam keheningan.” Namun tak semua ramalan Nostradamus muram; ia justru menutup prediksinya untuk 2026 dengan nada optimistis. “Bayangan akan runtuh, tetapi manusia cahaya akan bangkit,” tulisnya. “Dan bintang-bintang akan menuntun mereka yang menoleh ke dalam dirinya.” Setelah krisis perang dan kobaran api, Nostradamus menggambarkan masa kelahiran kembali — kemungkinan hadirnya pemimpin baru atau car...

Anak Orang Terkaya di Dunia Hilang di Papua, Belum Ketemu Hingga Kini

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua- Jayawijaya Wamena -Melangka Tanpa Alas Kaki- Sebagai antropolog muda, Michael Rockefeller sangat tertarik mempelajari kehidupan sosial dan budaya di wilayah-wilayah terpencil dunia.  Ketika mendengar tentang ekspedisi yang akan meneliti suku-suku pedalaman di Nugini Belanda (Kini Papua) dan mendokumentasikan kehidupan mereka, dia tak ragu untuk ikut serta. Masalah pendanaan bukan halangan baginya. Sebab Michael berasal dari trah Rockefeller, salah satu keluarga terkaya di dunia yang menguasai bisnis minyak Amerika Serikat. Ayahnya, Nelson Rockefeller, adalah Gubernur New York. Kelak, dia menjabat sebagai Wakil Presiden AS periode 1974-1978. Sementara sang ibu berprofesi sebagai perawat. Warisan bisnis Rockefeller saat ini adalah Rockefeller Capital Management, sebuah firma wealth management elit. Per Januari 2025, perusahaan ini mengelola aset US$151 miliar. Pada November 1961, Michael Rockefeller tiba di Papua setelah menempuh...

Bukan Konsep, tapi Mekanisme dan Siasat Elite Mencuri Pers (Respon terhadap Konseptor FMP I)

Gambar
17 Jan 2026 Siorus Ewainaibi Degei Pencinta Media Papua Duduk Perkaranya Pasca kegiatan Festival Media Papua (I) yang berlangsung di Nabire, ibu kota provinsi ilegal Papua Tengah (13 Januari-15 Januari 2026) saya sempat melayangkan sebuah tulisan dengan judul “Festival Media Papua (I) sebagai Molotov tanpa Bunyi: Catatan Kritis seputar Festival Media Papua I”. Tulisan tersebut berisi kritikan saya atas kegiatan FMP, sasaran tembak kritikan itu adalah mekanisme kegiatan FMP dan siasat elite mencuri denyut kritisisme pers atau operasi penjinakan suara-suara kritis opisisi pers di tanah Papua oleh penguasa dan pengusaha. Tulisan tersebut saya muat pada media Nadi Papua, sebuah media yang menurut saya masih teguh menjaga marwah jurnalisme Papua, ia memang baru lahir, namun tentu tidak dengan jurnalis-jurnalisnya yang punya rekam jejak baik, kredibel, dan independen. Tidak berselang lama ketika tulisan itu terekspos datang banyak tanggapan, termasuk dari pihak-pihak yang turut t...