Postingan

Kisah Cerita Bapak Filep Karma: Bapak Bangsa Papua yang Berjuang Tanpa Senjata

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura, Nama lengkapnya Filep Jacob Semuel Karma — banyak orang Papua memanggilnya dengan akrab Felep Karma, dan menyematkan gelar yang paling ia hargai: Bapak Bangsa Papua. Selama hampir setengah abad, ia berjalan di jalan yang paling sulit: menuntut kemerdekaan tanah leluhurnya, tapi tidak pernah sekali pun mengajarkan atau menggunakan kekerasan. Baginya, bendera bukan alasan untuk berperang — melainkan alasan untuk berdiri tegak dengan kepala tinggi, meski harganya adalah belasan tahun di balik jeruji besi.       Dari Anak Pejabat Jadi Orang yang Paling Diburu Negara   Filep lahir pada 14 Agustus 1959 di Jayapura, dari keluarga yang sangat terpandang di tanah Biak. Ayahnya, Andreas Karma, adalah bupati yang disegani — pernah memimpin Wamena, Serui, dan menjadi wakil bupati Jayapura di era Orde Baru. Masa kecil Filep penuh kenyamanan: ia sekolah di sekolah terbaik, kuliah I...

Jalan Sunyi Viktor Yeimo, Banyak Luka Bangsaku Selama Hidupku Seakan Itu Luka Batin Saya, Namun Tidak Akan lupah luka bernama Mama Yasinta Moiwen.

Gambar
Artikel, Jalan sunyi  Viktor Yeimo  Jalan Sunyi, 17 Juli 2026 00.40 Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura,  Ada satu sumpah yang saya pilih jauh sbelum jln perjuangan ini membawa saya ke ruang-ruang interogasi, penjara, ruang sidang, dan pengasingan, itu adalah memikul luka bangsaku sebagai lukaku sendiri. Dan satu dari sekian luka yang terus menyayat batin ini adalah luka bernama Mama Yasinta Moiwen. Sebulan berlalu sa di Jakarta dg satu kerinduan: bawa pulang Mama Yasinta, kembalikan mama pada tanah tempat mm berjuang. Sa ingin duduk bersamanya, mendengar suaranya tanpa sorotan kamera, menggenggam tanganmu, dan berkata: "Mama, mari tong pulang. Di tanah air masih ada kopu anak2 bangsa yg mencintaimu dan tra akan berhenti perjuangkan martabat dan harga diri." Tapi dalam sapu hati terus ada pertanyaan: sudahkah sa mampu memastikan seorang mama Papua hidup dg layak dan bermartabat di atas tanah leluhurnya send...

Generasi Muda Papua Tidak Harus Mengubload Aktivitas Sehari-hari Tetapi Mengubload masalah Sosial

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura Pimpinan Kosapa sekaligus Wartawan Jubi Hengky  Yeimo Menegaskan, Media Sosial harus  bijak memberikan masalah sosial yang ada tidak harus sebagai mengubload aktivitas sehari-hari. Generasi muda Papua saat ini diharapkan mengunakan media sosial dengan bijak, tidak hanya sekedar digunakan untuk mengubload aktivitas sehari-hari melainkan mengunakan media sosial untuk mengadvokasi masalah sosial yang terjadi di tanah Papua. Hengky Yeimo, Wartawan Jubi ketika membawakan materi tentang Peran Media Sosial dalam kegiatan seminar sehari di Jayapura. Dalam penyampaian materinya, ia mengajak anak-anak muda Papua untuk mengunakan media sosial untuk mengkampanyekan sesuatu yang bisa berikan kepada pembaca. “tulis status sesuatu yang bisa memberikan satu pengetahuan baru kepada orang lain, baik itu sosial, ekonomi, budaya, kerusakan lingkungan, sampah dan politik,” katanya. lanjutnya, media ...

Artikel Sanjak

Gambar
MEMBACA RINDUMU Aku membaca rindumu sebagaimana embun mengakrabi dedaunan sebelum fajar membuka kelopak langit. Tiap aksara yang kautinggalkan menjelma jejak samar di relung ingatan, berkilau lirih, mengalir bersama desir angin yang memungut gema langkah kita. Ada musim yang telah beranjak, tetapi kenangan tetap memilih bersemayam, mengakar di kedalaman batin yang enggan menghapus namamu. Barangkali rindu memang tercipta sebagai kitab paling sunyi. Halamannya dipenuhi sela-sela hening, sementara setiap keheningan menyimpan doa yang tak sempat dilisankan. Aku menelusuri tiap lariknya dengan kesabaran seorang peziarah, berharap menemukan seberkas cahaya yang dahulu singgah di matamu. Namun, yang kutemukan hanya lengang, bertumbuh perlahan hingga menjelma samudra yang memeluk sepi. Di antara senja yang menggugurkan warna dan malam yang menyalakan gugus-gugus cahaya, aku memahami bahwa kehilangan memiliki bahasanya sendiri. Ia tak pernah berteriak, hanya merambat pelan pada den...

KOALISI PENEGAK HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA PAPUA

Gambar
Siaran Pers  Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua Nomor : 017 / SP-KPHHP / VII / 2026 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SEGERA CARI LAKAH-LAKAH PENYELESAIAN PERSOALAN POLITIK ANTARA INDONESIA UNTUK MENGHENTIKAN PENDEKATAN KEAMANAN DI PAPUA  “Mentri HAM RI Segera Beck-Up Komnas HAM Bentuk Tim Ad Hock Untuk Menyelidiki Kasus Dugaan Pelanggaran HAM Berat Dalam Konflik Bersenjata Di Kabupaten Intan Jaya Yang Mengorbankan 14 Orang Masyarakat Sipil” Eskalasi Konflik Bersenjata antara TNI-Polri melawan TPN PB di Wilayah Kabupaten Intan Jaya terus meningkat terhitung sejak Bulan Mei 2026 sampai dengan awal Juli 2026. Sepanjang 3 (tiga) Bulan tersebut terdata telah terjadi beberapa peristiwa yang telah mengorbankan Masyarakat Sipil di Kabupaten Intan Jaya. Kondisi itu tentunya mempertanyakan komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam menjalankan perintah ketentuan “melakukan klarifikasi sejarah Papua dan merumuskan dan menetapkan langkah-langkah rekonsiliasi” sesuai Pasal 46 aya...

LETNAN KOLONEL RUI ALBERTO MAGGIOLO GOUVEIA: SEORANG PERWIRA PORTUGAL YANG GUGUR DALAM TRAGEDI TIMOR 1975

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Jayapura -Di antara sekian banyak korban yang jatuh dalam perang saudara Timor tahun 1975, nama Letnan Kolonel Rui Alberto Maggiolo Gouveia menempati tempat yang istimewa dalam sejarah Portugal maupun Timor. Ia bukan seorang politikus, bukan pula tokoh yang memimpin sebuah gerakan politik. Ia adalah seorang perwira Angkatan Bersenjata Portugal yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri kepada negaranya. Lahir di Sintra pada 11 Oktober 1929, Maggiolo Gouveia meniti karier militer sejak muda dan berkali-kali bertugas di Angola pada masa perang kolonial Portugal.  Pengabdiannya membuat ia menerima berbagai penghargaan militer atas keberanian dan dedikasinya. Ketika ditugaskan ke Timor Portugis pada tahun 1973 sebagai Komandan Polícia de Segurança Pública (PSP) di Dili, tidak seorang pun membayangkan bahwa pulau kecil di ujung timur Nusantara itu kelak menjadi tempat di mana ia menghembuskan napas terak...

Perlakuan buruk dan diskriminasi keluarga tentara KNIL Maluku yang dipindahkan ke Belanda pada 1951 – 'Tidak cukup kata maaf untuk penderitaan yang dialami'

Gambar
Tetesan air Mata Ibunda Kota Tua Maluku -- Tanpa Alas Kaki- Maluku Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakuan buruk yang dialami 12.500 tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku dan keluarga mereka, yang dipindahkan ke Belanda pada 1951. Namun, permintaan maaf itu disebut menjadi tak bermakna jika tak diikuti rencana dan langkah konkret untuk memulihkan kehidupan keturunan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) Maluku di Belanda. Pasalnya, perlakuan buruk, trauma dan diskriminasi yang dialami mereka disebut masih membekas, melintasi empat generasi. Mulai dari kehidupan di kamp yang tidak layak, janji-janji palsu pemerintah Belanda, hingga perlakuan diskriminatif yang dialami keturunan serdadu KNIL Maluku itu. Lalu, apa saja penderitaan yang dialami puluhan ribu orang Maluku itu di Belanda? Mengapa mereka dipindah paksa dari akar kelahiran mereka dan bagaimana mereka kini memandang Belanda, Indonesia, dan Maluku?...