Artikel Sanjak
MEMBACA RINDUMU Aku membaca rindumu sebagaimana embun mengakrabi dedaunan sebelum fajar membuka kelopak langit. Tiap aksara yang kautinggalkan menjelma jejak samar di relung ingatan, berkilau lirih, mengalir bersama desir angin yang memungut gema langkah kita. Ada musim yang telah beranjak, tetapi kenangan tetap memilih bersemayam, mengakar di kedalaman batin yang enggan menghapus namamu. Barangkali rindu memang tercipta sebagai kitab paling sunyi. Halamannya dipenuhi sela-sela hening, sementara setiap keheningan menyimpan doa yang tak sempat dilisankan. Aku menelusuri tiap lariknya dengan kesabaran seorang peziarah, berharap menemukan seberkas cahaya yang dahulu singgah di matamu. Namun, yang kutemukan hanya lengang, bertumbuh perlahan hingga menjelma samudra yang memeluk sepi. Di antara senja yang menggugurkan warna dan malam yang menyalakan gugus-gugus cahaya, aku memahami bahwa kehilangan memiliki bahasanya sendiri. Ia tak pernah berteriak, hanya merambat pelan pada den...