Postingan

SEJARAH : HUBUNGAN SENEGAL DAN PAPUA BARAT TELAH LAMA TERJALIN, DIPLOMASI BENNY WENDA KEBERLANJUTAN.

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Senegal Afrika Selatan-Melangkah Tanpa Alas Kaki- Senegal, Memang hubungan Senegal dan Papua Barat telah lama terjalin sejak era 1970 hingga 1980-an.  Presiden Senegal waktu itu, Leopold Sedar Senghor (1960-1981), pernah berpesan kepada Bernard Tanggahma, meski kantor OPM telah ditutup tetapi hubungan baik harus terus terjalin. Pasalnya, saat Presiden Senghor pernah mengizinkan untuk membuka kantor perwakilan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Dakkar, ibukota Senegal. Namun akhirnya kantor itu ditutup dan Bernard Tanggahma, pemimpin OPM di Senegal, harus kembali ke Den Haag Belanda. Benny Wenda saat menyerahkan topi kepala suku kepada Presiden Senegal waktu itu, Abdolade Waye, di Parlemen Senegal Dakar.  “Saya tidak tahu mengapa Bernard Tanggahma pergi meninggalkan Dakkar Senegal. Namun sekarang kami anak-anak muda Papua Barat kembali menjalin hubungan dengan Senegal,” kata Benny Wenda, Pemimpin United Liberation Movement for West Pa...

"AGAMA ADALAH CANDU RAKYAT" KARL MARX, KONTROVERSI, SUBSTANSI DAN RELEVANSINYA

Gambar
Pandangan Karl Marx Tentang Agama   I. Sandyawan Sumardi  Kutipan Karl Marx "Agama adalah Candu Rakyat" (1844) sering disalahpahami sebagai sekadar kebencian, padahal sebenarnya merupakan analisis sosial-historis di era industrialisasi Eropa.  Marx melihat agama secara paradoksal sebagai pelipur lara sekaligus protes bagi kaum tertindas, yang meredakan penderitaan tanpa menyembuhkan akar ketidakadilan.  Solusi yang ditawarkan Marx bukanlah sekadar menghapus agama, melainkan mengubah sistem sosial yang membuat manusia membutuhkan "penghibur" tersebut.  Para teolog, termasuk  beberapa teolog teologi pembebasan, kemudian merespons ini sebagai peringatan penting untuk menjadikan agama sebagai kekuatan emansipasi, bukan pembiaran terhadap ketidakadilan. "AGAMA ADALAH CANDU RAKYAT" Kutipan terkenal Karl Marx bahwa "Agama adalah Candu Rakyat" berasal dari pengantar karya awalnya, "A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy...

PEJUANG DIBAWA TANAH DEMI RAKYATNYA

Gambar
𝗦𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗦𝗼𝗲𝗵𝗮𝗿𝘁𝗼, 𝗧𝗼𝗸𝗼𝗵 𝗜𝗻𝗶 𝗝𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗗𝗶𝗸𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗱𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 Eurico Barros Gomes Guterres, yang lahir pada 4 Juli 1969, merupakan seorang tokoh pro-integrasi Timor Timur yang pernah menjabat sebagai Wakil Panglima Milisi pro-Indonesia di Timor Leste serta Anggota DPRD Timor Timur dari Fraksi Golkar untuk periode 1999–2004. Ia dituduh terlibat dalam sejumlah aksi pembantaian di Timor Timur, termasuk menjadi tertuduh utama milisi dalam Pembantaian Gereja Liquiçá pada April 1999. Selain itu, dirinya diidentifikasi sebagai pemimpin milisi utama dalam peristiwa pembantaian pasca-referendum serta penghancuran ibu kota Dili. Terkait dengan tindakan milisinya, Eurico Guterres dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada November 2002, di mana putusan tersebut dikuatkan hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Setelah upaya banding yang diajukannya gagal, ia baru mulai menjalani masa h...

Sejak kapan PAPUA Milik militer Indonesia...?.

Gambar
Tanah di Papua bukan sekadar wilayah geografis, melainkan bagian dari identitas, sejarah, dan warisan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.  Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura, 7 Juni 2026 – Pertanyaan tajam dan menyentuh hati, “Sejak kapan tanah Papua ini milik TNI punya?”, meluncur dari bibir Pastor Jhon Bunay, tokoh masyarakat dan pemuka agama yang dikenal vokal memperjuangkan hak-hak warga Papua.  Pernyataan diatas ini bukan sekadar kalimat tanya, melainkan cerminan kegelisahan mendalam yang dirasakan banyak warga di tanah ini terkait keberadaan dan penguasaan wilayah yang kian meluas oleh aparat pertahanan.   Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, penuh kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab, Pastor Jhon Bunay mengungkapkan keresahan yang sudah lama bersemayam di benak masyarakat adat. Baginya, tanah di Papua bukan sekadar wilayah geografis, melainkan bagian dari identitas, sej...

Keluarga Laporkan Mama Yasinta Hilang Kontak, Diduga Dibawa ke Jakarta Terkait Film "Pesta Babi"

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Merauke -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Merauke - Keluarga tokoh adat Suku Marind-Anime, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau "Mama Yasinta", melaporkan kehilangan kontak dengan beliau sejak Minggu 24/5/2026. Pengakuan ini disampaikan keluarga lewat video yang diunggah kanal YouTube Jubi TV pada Minggu 31/5/2026. Kronologi Versi Keluarga   Menurut anggota keluarga dalam video tersebut, kontak terakhir dengan Mama Yasinta terjadi Sabtu 23/5/2026. Itu bersamaan dengan viralnya video pengakuan Mama Yasinta soal penggunaan wajahnya tanpa izin di film dokumenter "Pesta Babi". Mulai Minggu 24/5/2026, keluarga mengaku tak bisa menghubungi Mama Yasinta. Ia disebut sudah tidak berada di kediamannya sejak Minggu malam. Keluarga menduga Mama Yasinta saat itu berada di "Pos TNI" Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Merauke. Ia juga terlihat bersama seseorang yang diduga personel TNI pengamanan Proyek Strategis Nasional di Kampung W...

Sutradara Film Pesta Babi, Dandhy Laksono Semprot Pihak yang Antar Mama Sinta ke Jakarta Lapor Polisi, Diam saat Tanah Direbut

Gambar
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Jakarta melangkah Tanpa Alas Kaki- JAKARTA, Framing News TV – Sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, memberikan tanggapan terkait laporan yang diajukan Mama Yasinta atau Mama Sinta terhadap film tersebut. Mama Sinta merupakan salah satu tokoh yang tampil dalam film dokumenter tersebut. Namun, belakangan ia menyampaikan keberatan dan melaporkan persoalan tersebut kepada pihak kepolisian. Dandhy Hormati Langkah Hukum Mama Sinta Dalam keterangannya pada Sabtu (30/5/2026), Dandhy menegaskan bahwa dirinya menghormati keputusan Mama Sinta untuk menempuh jalur hukum. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan keberatan dan mencari penyelesaian melalui mekanisme yang berlaku. Di sisi lain, Dandhy juga menilai masyarakat memiliki hak untuk mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di Papua sebagaimana diangkat dalam film dokumenter tersebut. "Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormat...

PAPUA IS NOT EMPTY LAND:A CALL FOR JUSTICE, INDIGENOUS PEOPLES' RIGHTS, AND THE FUTURE OF PAPUA

Gambar
Sorong, Southwest Papua 2 June 2026 Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Sorong -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Today, Indigenous youth and local communities in Malamoi once again raise their aspirations. This is not an act of rejecting development. This is a call for justice. This is a call for respect. This is a call for the recognition of Indigenous Peoples' rights, environmental protection, and democratic participation in every decision that directly affects our lives, our forests, and our future. For generations, Indigenous communities throughout Papua have lived side by side with nature. Long before modern development programs arrived, our ancestors fulfilled their needs through local food systems that were deeply connected to the land. Sago, sweet potatoes, cassava, taro, bananas, forest products, rivers, and traditional ecological knowledge have sustained Indigenous communities for centuries. Therefore, many Indigenous communities continue to ask one simple but importan...