Penindasan Terhadap Perempuan Papua dan Sosialisme.
Oleh. Zinta dan Revolusi Tetesan Air Mata Ibunda, Kota Tua Asmat, Melangkah Tanpa Alas Kaki, Seksisme, kapitalisme, dan kolonialisme menjerat perempuan Papua ke dalam belenggu penindasan berlapis yang mengerikan . Perempuan Papua makin hari kian tercekik dan hampir tidak berdaya serta tidak lagi bebas mengekspresikan dirinya sebagai manusia. Satu sisi, akibat budaya turun-temurun yang kental seksisme, dan di sisi lain, akibat masuknya kebudayaan baru oleh kapitalisme-kolonialisme. Di sisi pertama misalnya, perempuan Papua ditempatkan sebagai makhluk nomor dua yang tidak berhak bersuara dalam setiap pengambilan keputusan [1], tidak memiliki hak atas tanah adat, digunakan sebagai objek seksual, bahkan di beberapa suku perempuan dijadikan sebagai alat tukar-menukar. Fenoma penindasan akibat budaya atau penindasan dari dalam ini telah ada lebih dulu dan bertahan cukup lama sebelum masuknya penindasan dari luar. Walaupun hal tidak dicatat dengan baik, namun realitas ...