Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi Nietzsche Sebuah Api yang Hilang dari Ilmu Pengetahuan

Gambar
"Mereka dingin, para sarjana ini! Kiranya sambaran petir menghantam makanan mereka, dan mulut mereka belajar memakan api!" Itulah terjemahan bebas dari Nietzsche yang, begitu dibaca, menimbulkan banyak begitu penafsiran, intinya membahas sekumpulan orang terpelajar duduk mengelilingi meja, dengan piring-piring pengetahuan tersaji rapi di depan mereka. Mereka makan dengan tenang, mengunyah dengan sopan, mencatat rasa dengan teliti. Tapi tidak ada api dalam tubuh mereka. Nietzsche, sambil menyaksikan pemandangan itu, berharap petir menyambar makanan mereka agar mulut yang selama ini hanya mengunyah data, akhirnya belajar memakan api. Ini bukan sekadar metafora indah. Ini adalah salah satu serangan paling tajam Nietzsche terhadap dunia akademis bukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan terhadap cara ilmu itu dihidupi, atau lebih tepatnya, tidak dihidupi sama sekali. Apa yang membuat seorang sarjana "dingin" di mata Nietzsche? Bukan kebodohan. J...

KAU dan Aku dilibatkan "SANJAK" Penyatuan Atau Perpisahan Cinta

Gambar
POV Suami “Aku mencintainya… tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Dia sudah berubah. Dan aku mulai mencari hangat itu… di wanita lain.” BAB 1 – SENTUHAN YANG DITEPIS Lampu kamar sudah padam sejak satu jam lalu. “Aku belum tidur, Mas…” suara Marlina pelan, nyaris berbisik. Tidak ada jawaban. Di sisi lain ra njang, napas Johan terdengar teratur. Terlalu tenang. Marlina menatap gelap. Lalu bergeser sedikit. “Mas…” Hanya itu. Ujung jarinya menggantung di udara, ragu. “Aku cuma… mau dekat,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Ia akhirnya menyentuh punggung Johan. Hangat. Namun terasa jauh. Belum sempat ia mendekat— Johan bergerak. Menjauh. Sedikit saja. Namun cukup terasa. “Tidur saja, ya,” ucap Johan datar. “Aku capek.” Marlina terdiam. “Oh… iya.” Tangannya perlahan ditarik. “Maaf… aku ganggu ya.” Tidak ada jawaban. Ia kembali membelakangi. Matanya terbuka. “Aku cuma kangen…” bisiknya pelan. Sunyi. Johan tidak merespon. Tidak bergerak. Tidak mendekat. Marlina ...

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Gambar
Mari Rekap Bersama  Mari Rekap Bersama  Sebuah Rumah yang kokoh tidak bisa di bangun sendirian, melainkan dengan kerjasama, Saling menopang bangunannya dengan tiang kepercayaan  Agar tidak mudah runtuh ketika angin bada mencoba meruntuhkan kesetiaan,  Suami istri harus saling menjaga Marwah Dari mata-mata yang tidak ramah Sebab cinta itu indah  Maka dari itu harus tetap di jaga keindahan taman rumahnya. Nabire Kota Jeruk 🍊 01.08.2026 Sanjak yegema ✍️ =ooo0ooo=== 🍀🌺🌺🍀 𝗞𝗮𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗿𝗱𝗲𝗸𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗿𝗱𝗲𝗸𝗮 Katanya… kita sudah merdeka, tapi perut-perut kosong di kolong jembatan tak pernah ikut upacara. Katanya… hukum itu tajam, tapi rupanya hanya untuk rakyat jelata sementara para petinggi menjadi penari lincah di panggung pasal-pasal yang lentur. Katanya… lapangan pekerjaan terbuka luas, nyatanya banyak yang berdesakan di pintu-pintu pabrik asing yang gajinya tak cukup untuk membeli mimpi sendiri. Katanya… ...