KAU dan Aku dilibatkan "SANJAK" Penyatuan Atau Perpisahan Cinta
POV Suami
“Aku mencintainya… tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri.
Dia sudah berubah. Dan aku mulai mencari hangat itu… di wanita lain.”
BAB 1 – SENTUHAN YANG DITEPIS
Lampu kamar sudah padam sejak satu jam lalu.
“Aku belum tidur, Mas…” suara Marlina pelan, nyaris berbisik.
Tidak ada jawaban.
Di sisi lain ra njang, napas Johan terdengar teratur.
Terlalu tenang.
Marlina menatap gelap.
Lalu bergeser sedikit.
“Mas…”
Hanya itu.
Ujung jarinya menggantung di udara, ragu.
“Aku cuma… mau dekat,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia akhirnya menyentuh punggung Johan.
Hangat.
Namun terasa jauh.
Belum sempat ia mendekat—
Johan bergerak.
Menjauh.
Sedikit saja.
Namun cukup terasa.
“Tidur saja, ya,” ucap Johan datar. “Aku capek.”
Marlina terdiam.
“Oh… iya.”
Tangannya perlahan ditarik.
“Maaf… aku ganggu ya.”
Tidak ada jawaban.
Ia kembali membelakangi.
Matanya terbuka.
“Aku cuma kangen…” bisiknya pelan.
Sunyi.
Johan tidak merespon.
Tidak bergerak.
Tidak mendekat.
Marlina menggigit bibirnya.
“Aku lebay, ya…” ia tersenyum kecil, walau tak terlihat.
Air matanya jatuh.
Pelan.
Cepat ia hapus.
“Enggak boleh nangis… nanti kedengeran,” gumamnya.
Ia memejamkan mata.
Namun pikirannya tidak.
“Aku masih istrimu, kan…?” pertanyaan itu hanya berputar di kepalanya.
Tak pernah sampai ke bibirnya.
—
Pagi datang.
Seperti biasa.
“Kenapa aku kelihatan beda ya…” Marlina menatap cermin.
Ia menyentuh rambutnya.
“Putih lagi…”
Tangannya turun ke wajah.
“Ada garis di sini…”
Ia tersenyum kecil.
“Sejak kapan aku jadi begini…”
“Mas…” suara dari luar memanggil.
“Iya!” jawabnya cepat.
Ia menarik napas.
“Udah, jangan aneh-aneh…”
Ia menatap dirinya sekali lagi.
Lama.
“Aku masih aku, kan…”
Namun bayangan di cermin tidak menjawab.
—
Di meja makan, Johan sudah duduk.
“Mas, sarapannya,” kata Marlina sambil meletakkan piring.
“Hmm.”
Marlina duduk di depannya.
Menatap.
Menunggu.
“Mas… enak?” tanyanya pelan.
“Lumayan.”
Hanya itu.
“Mas udah makan dari tadi pagi belum?”
Marlina mencoba lagi.
“Udah.”
Singkat.
Selalu singkat.
Marlina tersenyum.
“Kamu capek, ya kemarin…”
“Iya.”
“Kerjaannya banyak?”
“Iya.”
“Mas…” Marlina berhenti sejenak.
Johan tetap makan.
Tanpa menoleh.
“Aku ganggu nggak sih semalam…” suaranya makin kecil.
Johan berhenti sebentar.
Lalu melanjutkan makan.
“Enggak. Aku memang capek.”
“Oh…”
Marlina mengangguk kecil.
Ia menunduk.
Sendok di tangannya diam.
“Mas… kita jarang ngobrol ya sekarang,” katanya hati-hati.
Johan tidak langsung menjawab.
“Biasa aja, Lin.”
Biasa.
Kata itu terdengar ringan.
Namun jatuh berat.
“Dulu nggak gini…” Marlina tersenyum kecil.
“Dulu kita sering cerita…”
Johan menghela napas pelan.
“Sekarang juga bisa.”
“Tapi…” Marlina menatapnya.
“Kamu kayak nggak ada waktu.”
“Aku kerja, Lin.”
Nada suaranya mulai berubah.
Marlina cepat-cepat mengangguk.
“Iya… aku tahu.”
Hening lagi.
Hanya suara sendok.
Marlina mencoba tersenyum.
“Mas…"
“Iya?”
“Kamu… masih nyaman sama aku, kan?”
Johan akhirnya menoleh.
Sebentar.
Lalu kembali makan.
“Kenapa nanya gitu?”
“Enggak… cuma pengen tahu aja.”
“Jangan aneh-aneh.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat Marlina diam.
“Iya…”
Ia menunduk lagi.
“Maaf…”
Tidak ada yang membalas.
—
Beberapa detik berlalu.
Atau mungkin lebih.
“Mas…” Marlina mencoba lagi.
“Iya?”
“Kamu… nggak ada yang mau diceritain ke aku?”
“Enggak ada.”
“Kerjaan… atau apa gitu…”
“Biasa aja.”
Biasa lagi.
Marlina tersenyum kecil.
“Kayaknya aku yang kebanyakan mikir ya…”
Johan tidak menjawab.
“Mas…”
“Iya?”
“Kamu pernah… ngerasa bosan nggak sama aku?”
Johan langsung menoleh.
“Lina.”
Nada itu cukup.
Marlina langsung diam.
“Iya… maaf…”
Ia menunduk dalam-dalam.
Sendoknya tidak lagi bergerak.
“Lupa aja, ya,” katanya pelan.
Johan kembali makan.
Seolah percakapan itu tidak pernah ada.
—
Marlina menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya pelan.
“Aku cuma pengen dekat lagi…” bisiknya dalam hati.
Ia mengangkat wajahnya.
Memaksakan senyum.
“Mas, nanti malam aku masak yang kamu suka ya.”
“Terserah.”
“Terserah apa?”
“Ya apa aja.”
“Dulu kamu selalu minta…” Marlina tersenyum kecil.
“Sekarang nggak pernah lagi.”
Johan tidak menjawab.
Marlina mengangguk pelan.
“Iya… mungkin aku aja yang terlalu ingat.”
—
Sarapan selesai.
Johan berdiri lebih dulu.
“Aku berangkat.”
“Iya, Mas.”
“Jangan lupa makan.”
“Iya.”
Marlina berdiri.
“Makasih ya…”
Johan hanya mengangguk.
Tanpa menatap.
Tanpa senyum.
Langkahnya menjauh.
Pintu tertutup.
Pelan.
Namun terasa keras.
Marlina berdiri di sana.
Diam.
Lama.
“Aku kenapa ya…” gumamnya.
Ia melihat kursi kosong di depannya.
“Aku salah di mana…”
Tangannya menyentuh meja.
Dingin.
Seperti sesuatu yang perlahan hilang.
—
Ia kembali duduk.
Sendok di tangannya digerakkan pelan.
Namun tidak ada yang benar-benar dimakan.
“Aku masih ada di sini…” bisiknya.
“Tapi kenapa rasanya kayak… nggak dianggap…”
Matanya mulai panas.
Namun ia menahan.
“Jangan nangis lagi…”
Ia menarik napas.
Panjang.
Lalu berdiri.
Melangkah ke dapur.
Rutinitas kembali berjalan.
Namun tanpa rasa yang sama.
—
Dan tanpa mereka sadari…
pagi itu bukan sekadar pagi biasa.
Ada sesuatu yang mulai retak.
Pelan.
Diam.
Namun pasti.
Sesuatu yang dulu hangat…
perlahan kehilangan rasanya.
—
Dan Marlina belum tahu…
bahwa malam nanti—
saat ia kembali mencoba mendekat—
yang ia temukan bukan lagi jarak…
tapi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
👉 Mau lanjut Bab 2 ?
Surga Yang Tak Lagi Hangat ( Menopouse) - Deelove
Cerita selengkapnya on Going di aplikasi KbmApp 💫
Tamat.
Kota Jeruk 🍊 11.04.2016
SANJAK Kau dan Aku Yegema
Pos. Admin
Ibu mertua melarangku berju4lan lagi agar fokus mengurusnya. Awalnya aku mau mengiyakan tapi tidak berselang lama ibu mertua berkata jika aku lebih baik cari pekerjaan sebagai pembantu saja dan pergi meninggalkan anaknya karena tidak sepadan. Apakah aku salah jika aku....
**********
BAB 08
Di atas kursi kayu dengan bantal tipis, Bu Darmi duduk sambil memegangi kakinya yang tampak bengkak. Matanya tajam mengarah pada menantunya yang baru saja meletakkan kompres dikakinya.
Bu Darmi bicara dengan suara datar tapi tegas.
"Sar, lebih baik kamu itu merawat Ibu jadi tidak usah jualan dulu."
Sari menoleh sekilas. Tatapannya jatuh ke kaki ibu mertuanya. Ia tahu ucapan itu akan datang, seperti dugaannya.
Sari menjawab dengan suara lesu, tapi berusaha tenang.
"Bu... besok aku harus tetap jualan, karena sudah belanja..." Suaranya nyaris berbisik, seolah menahan letih yang mengendap.
Bu Darmi menaikkan nada, nadanya menggugat.
"Sar! Ibu ini sakit. Lihat kaki Ibu bengkak! Sedangkan Bagus sedang berada di luar kota. Masa kamu enggak mau ngurus Ibu?"
Sari diam. Ia menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dadanya. Lalu menghembuskan perlahan.
Sari menjawab lembut tapi tegas.
"Aku bukan tidak mau merawat Ibu... Nanti setelah jualan, aku ke sini lagi. Aku tetap jaga Ibu. Tapi aku juga harus mikirin dagangan. U4ng belanja juga buat kebutuhan rumah."
Bu Darmi memalingkan wajah, wajahnya cemberut. Ia menarik selimut tipis ke atas pahanya.
Bu Darmi menjawab datar, tapi terdengar kecewa.
"Ya sudah, sana kamu pulang saja. Ibu mau tidur. Mana nomor teleponmu, biar Ibu enak kalau ada apa-apa..."
Sari mengeluarkan ponsel, membuka kontak, dan menuliskan nomor teleponnya di secarik kertas. Ia meletakkannya di atas meja.
Sebelum keluar, Sari menatap sebentar ke arah mertuanya. Wajah itu dulu penuh wibawa dan senyum ketika mereka berkomunikasi lewat ponsel karena semenjak pacaran dengan Bagus, ia tidak pernah bertemu langsung. Bahkan ketika hari pernikahan saja ia hanya melihat dari panggilan video.
Kini wajah itu hanya tersisa tuntutan dan keluhan. Ia tak berkata apa-apa, hanya melangkah pelan, pintu kayu berderit menandai kepergiannya.
Langit malam sudah menghitam sempurna. Lampu jalan redup-redup menerangi jalan setapak yang dilalui Sari. Langkahnya pelan, sesekali ia mengusap mata yang terasa berat.
Suara jangkrik dan gesekan daun diterpa angin jadi teman setia malam itu. Di dalam hati, ia berusaha menenangkan diri. Tapi kata-kata Bu Darmi masih menggema. Ia merasa seperti selalu salah di mata ibu mertuanya, tak peduli seberapa keras ia mencoba.
"Apa aku memang menantu yang tidak tahu diri? Tapi kalau aku enggak jualan, terus kami makan apa...? Sedangkan gaji Mas Bagus saja sebagian harus diberikan kepadanya,"
Setibanya di kontrakan, ia membuka pintu pelan-pelan. Dapur masih berantakan dengan bahan masakan yang sebagian sudah ia siapkan tadi sore. Ia menatapnya sejenak, lalu duduk sebentar di kursi kayu tua di dapur. Kepalanya bersandar, mata mulai mengatup. Sari memutuskan untuk beristirahat.
Alarm ponsel berbunyi lirih. Sari terbangun dengan cepat, membenarkan rambut yang berantakan, ia langsung menuju dapur mulai memotong tahu, menggoreng tempe, dan memotong sayuran untuk bakwan.
Setelah itu menyiapkan adonan untuk gorengan mengulek bumbu dan segera membawanya kedepan karena ia akan menggoreng di teras tempat ia berjualan.
Matanya masih sembab, tapi tangannya lincah bekerja. Dalam diam, ia menguatkan hati.
Sari berbicara sendiri, dengan suara pelan.
"Aku cuma perlu sabar sedikit lagi. Semua ini demi masa depan."
Saat langit mulai berubah warna, matahari mulai muncul masih malu-malu. Sari mulai menyalakan kompor dan bersiap menggoreng.
Langit mulai terang, tapi mentari belum sepenuhnya naik. Pasar perlahan hidup, dengan suara pedagang yang bersahutan, dan pembeli yang datang satu-satu membawa keranjang.
Sari menggoreng pisang terlebih dahulu setelah itu baru tempe, lalu tahu isi dan terakhir bakwan.
"Cuma ini yang sempat aku jual," Gumamnya pelan sambil menata dagangannya yang masih panas.
Beberapa langganan barunya datang.
"Lho, Mbak Sari... kok cuma jual gorengan aja hari ini? Kue manisnya enggak ada?"
Sari tersenyum lelah tapi tetap ramah.
"Maaf ya, Bu. Tadi malam ibu mertua lagi sakit, jadi saya enggak sempat masak semua..." Jawab Sari dengan nada sopan.
"Oh, ya ampun... semoga cepat sembuh ya. Ya sudah, saya ambil gorengannya aja. Seperti biasa, sepuluh ribu."
Sari melayani dengan cekatan, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Setiap suara yang menyapa, ia sambut dengan senyum, walau hatinya sesak. Ia tahu, banyak yang bergantung padanya. Termasuk mertuanya yang sedang sakit.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Gorengannya tinggal separuh.
Sari berbisik dalam hati.
"Kalau habis semua, bisa beli bahan buat masak besok. Jangan sampai dagangan hari ini sia-sia..."
Lalu ia mengambil ponsel yang ia letakkan di meja, mengecek layar. Ada satu pesan dari nomor baru:
( Kalau kamu sudah selesai jualan, segera ke rumah. Kaki Ibu makin sakit. ) tulis sang mertua.
Sari terdiam. Pandangannya menatap lurus ke jalanan pasar yang mulai ramai. Ia tahu, istirahat hari ini tidak akan lama. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Ia menutup ponsel, menarik napas panjang.
"Bismillah. Hari ini harus kuat menghadapi Ibu," Setelah jualannya habis Sari segera kepasar untuk berbelanja karena ia harus memasak untuk ibu mertuanya.
Terik matahari mulai memanaskan ubin depan rumah Bu Darmi. Sari tiba wajahnya tampak lelah, namun ia tetap mencoba tersenyum saat mengetuk pintu.
"Bu... ini Sari, aku bawa makanan."
Ia membuka pintu perlahan. Bu Darmi muncul di balik pintu kamarnya dengan kain batik melilit tubuh dan wajah masam. Ia melirik tas jinjing di tangan Sari lalu berjalan pincang ke ruang tengah tanpa berkata apa-apa. Sari mengikuti pelan.
Sari meletakkan makanan di meja.
"Bu, aku masak sayur asem sama goreng ayam. Ibu makan ya? Aku siapin,"
Bu Darmi duduk di kursi, menatap makanan sekilas, lalu mengernyit.
"Loh, kok cuma ini? Ibu tuh lagi pengin makan rawon. Dari tadi malam udah ngidam rawon."
Sari terdiam. Matanya sejenak menatap makanan yang ia bawa, lalu menatap Bu Darmi dengan ekspresi sulit dipercaya.
Sari berusaha sabar, nada suara pelan tapi terasa tertekan.
"Maaf, Bu... Aku enggak sempat masak rawon. Bahan-bahannya juga belum beli. Aku pikir makanan ini cukup dulu buat siang ini..."
Bu Darmi menyela cepat, lalu bicara dengan nada tinggi.
"Kamu itu gimana sih, Sar? Ibu sakit, loh! Masa pengin makan rawon saja enggak bisa? Bukannya kamu ke pasar tadi?"
Sari menunduk, menggenggam ujung bajunya, mencoba menahan air mata.
"Aku ke pasar belanja sayur ini, Bu... bukan belanja untuk bahan rawon. Ibu juga enggak ngomong semalam kalau mau makan rawon," Jawab Sari sedikit menekan.
"Kamu ini menyahut terus jika mertua ngomong!" Hardiknya dengan nada kesal.
"Ibu makan saja ini dulu, aku kepasar dulu beli daging dan bumbunya sekalian," Jawab Sari mengalah.
Bu Darmi menjawab dengan bersungut-sungut, menyandarkan tubuh.
"Ya sudah sana... Ibu juga enggak doyan sayur asem. Mending Ibu tidur aja sekalian, daripada makan makanan yang enggak enak."
Sari berdiri diam. Rasanya perih. Segala letih, peluh, dan perjuangannya sejak subuh seolah tak berarti. Tapi ia tetap tak menjawab kasar. Ia membereskan makanan perlahan, lalu mengambil air putih dan menuangkannya ke gelas untuk Bu Darmi.
"Kalau Ibu lapar nanti, makanlah sedikit... biar ada tenaga. Aku tinggal dulu kepasar takut Ibu nanti ngiler kalau enggak ku masakkan rawon." Jawab Sari dengan kesal.
Bu Darmi hanya melengos dan tidak menjawab. Sari memandangi ibu mertuanya sekali lagi ingin marah, tapi tak sanggup. Ia melangkah keluar dengan langkah pelan, membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangnya.
"Andai saja aku...
Junin 21.04.2026
Kereta yang Sengaja ditinggalkan
Kereta Yang Sengaja Kau Tinggalkan
Ada kereta yang tidak pernah kau sesali,
meski semua orang mengira kau terlambat.
Mereka hanya melihat pintunya tertutup,
tidak pernah melihat alasan mengapa kakimu berhenti.
Peron itu masih sama seperti kemarin.
Suara peluit kembali memecah pagi.
Orang-orang berlari mengejar gerbong terakhir,
sementara kau hanya memandangi rel
yang memanjang tanpa kata.
Ransel di bahumu terasa lebih berat,
bukan karena isinya.
Melainkan karena semua harapan
pernah kau masukkan ke dalamnya,
lalu kau bawa menuju tempat
yang ternyata tidak pernah menunggumu.
Ada saat ketika tanganmu hampir terulur,
menggapai pegangan pintu yang mulai bergerak.
Namun entah mengapa,
hatimu memilih diam meski langkahmu sudah siap berlari.
Napasmu sempat dipenuhi penyesalan.
Kau membayangkan hidup yang mungkin berbeda,
andaikan pagi itu kau memaksa diri ikut berangkat,
bersama kereta yang perlahan menghilang di tikungan.
Akan tetapi,
hari-hari berikutnya membawa jawaban
yang tak pernah kau duga.
Jalan yang kau kira tertutup,
ternyata sedang menjauhkanmu
dari tujuan yang memang bukan milikmu.
Jauh setelah suara rel itu menghilang,
kau mulai berjalan tanpa terburu-buru.
Untuk pertama kalinya,
kau melihat jalan kecil di samping stasiun
yang tak pernah kau perhatikan.
Itu bukan jalan yang megah.
Tidak banyak orang melaluinya.
Namun setiap langkah terasa lebih ringan,
seolah kakimu akhirnya mengenali arah pulang.
Waktu membuatmu mengerti,
bahwa tidak semua kereta harus dinaiki.
Ada perjalanan yang hanya tampak indah dari kejauhan,
tetapi membawa kita semakin jauh dari diri sendiri.
Akhirnya kau menoleh sekali lagi ke arah rel itu.
Bukan untuk berharap keretanya kembali.
Melainkan untuk berterima kasih,
karena pagi itu kau memilih
tidak memaksakan sebuah keberangkatan.
Kini setiap kali mendengar suara peluit dari kejauhan,
kau tidak lagi bertanya,
" Bagaimana jika dulu aku ikut ? "
Kau hanya tersenyum pelan,
karena baru sekarang kau mengerti...
Kereta yang sengaja kau tinggalkan,
ternyata bukan kehilangan.
Melainkan cara Tuhan menjaga langkahmu
menuju tujuan yang lebih tepat.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
✦ kawruh pranajiwa // KST-260804-43 ✦
Komentar
Posting Komentar