LOGIKA FILSAFAT
Kebaikan Tanpa Pamrih:
Keheningan Kebajikan
Di dalam kehidupan sosial manusia, kebaikan sering kali tercampur dengan harapan yang tersembunyi.
SESEORANG BERBUAT BAIK DAN DIAM-DIAM BERHARAP DIHARGAI. IA MENOLONG DAN BERHARAP DIINGAT. IA MEMBERI DAN BERHARAP SUATU HARI MENERIMA BALASAN YANG SETIMPAL.
Namun kebijaksanaan moral yang diajarkan oleh para filsuf Stoik menunjukkan arah yang berbeda, arah yang lebih sunyi namun lebih murni.
Bagi mereka, kebaikan bukanlah alat untuk memperoleh pengakuan.
Kebaikan adalah bagian dari kewajiban moral manusia sebagai makhluk yang berakal dan hidup bersama sesamanya.
Filsuf sekaligus kaisar Romawi Marcus Aurelius pernah mengungkapkan sebuah gambaran yang sederhana namun penuh makna: manusia seharusnya berbuat baik sebagaimana pohon menghasilkan buah.
Pohon tidak memamerkan hasilnya. Ia tidak memanggil orang untuk memujinya. Ia tidak bertanya siapa yang akan menikmati buahnya.
Ia hanya tumbuh, berbuah, dan memberi.
Dalam keheningan proses itulah, pohon menjalankan kodratnya.
Begitu pula manusia yang memahami makna kebajikan. Ia tidak menjadikan kebaikan sebagai panggung untuk dilihat dunia.
Ia tidak menggantungkan nilainya pada pujian yang datang dari orang lain.
Ia melakukan kebaikan karena kebaikan itu sendiri adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan.
Dalam perspektif filsafat moral, tindakan semacam ini menunjukkan kedewasaan etis yang mendalam.
Seseorang tidak lagi digerakkan oleh keinginan untuk dipuji, tetapi oleh kesadaran akan nilai intrinsik dari tindakan baik itu sendiri.
KEBAIKAN MENJADI BAGIAN DARI KARAKTER, BUKAN SEKADAR PERISTIWA SESAAT.
Dan ketika manusia memberi tanpa pamrih, sesuatu yang halus terjadi dalam jiwanya.
Hatinya menjadi lebih luas.
Pikirannya menjadi lebih jernih.
Ia tidak lagi terikat oleh kebutuhan akan pengakuan.
Kebaikan yang sunyi justru membentuk kemuliaan yang paling kuat.
Karena kemuliaan sejati tidak selalu bersinar di hadapan banyak mata.
Sering kali ia tumbuh diam-diam di dalam hati yang setia melakukan hal yang benar.
PADA AKHIRNYA, DUNIA MUNGKIN TIDAK SELALU MENCATAT SETIAP KEBAIKAN YANG DILAKUKAN MANUSIA. NAMUN JIWA YANG TULUS TIDAK MEMBUTUHKAN CATATAN ITU.
Ia telah menemukan kepenuhannya dalam tindakan memberi itu sendiri.
Dan di situlah manusia menjadi benar-benar mulia, bukan karena ia dipuji oleh dunia,
melainkan karena ia setia hidup dalam kebajikan yang lahir dari kedalaman hatinya sendiri.
Sukai komen dan bagikan serta ikuti Logika Para Filsuf agar kita berjumpa dalam Mencari Arti Mengejar Makna berikutnya
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar