Langsung ke konten utama

TNI dan Polisi di Papua Sebagai Guru dan Kesehatan termasuk Pengojek dan Sopir

Artikel. Arnoldus Belau
Baru-baru ini pernyataan Panglima TNI beredar dengan sangat cepat di jagat maya dalam. Pernyataan itu berkaitan dengan Papua. Dimana panglima TNI menyatakan, di Papua TNI mengajar di sekolah, dan hadir pula sebagai tenaga kesehatan dan juga dalam bantuan apapun mereka yang diberikan tugas bukan tugas sebagai TNI sepama ini, Pernyataan ini tidak bisa dibantah kata Arnoldus Belau pada 24/3/2025 dalam naskahnya, Memang benar adanya. 

Bahwa kita sering menjumpai para anggota TNI melakukan pelayanan kesehatan gratis di tengah masyarakat. Juga para anggota TNI biasanya hadir di sekolah-sekolah, di ruang kelas di hadapan para anak-anak untuk mengajar. Atau pun hadir untuk bercerita dan membagikan pengalaman. Tentunya dengan menenteng senjata.
 
Pemandangan TNI hadir dengan tentengan senjata di badan lalu mengajar itu sudah biasa. Di seluruh pelosok negeri ini senjata bukan barang asing yang menakutkan. Mereka sudah terbiasa dengan kondisi-kondisi ini. Dampaknya adalah ingatan akan kehadiran sosok-sosok yang menakutkan. 

Balik lagi ke pernyataan Panglima TNI. Ia adalah orang nomor satu dalam tubuh TNI. Ia menyampaikan pernyataan seperti itu berdasarkan program mereka, dan pelaksanaan program mereka. Tentunya berdasarkan laporan dari lapangan tentang pelayanan kesehatan dan pendidikan di Papua. Pernyataan Panglima TNI itu juga bukan sebuah kejutan. Tetapi memang seperti itu adanya. 

Carut marut pembangunan di segala bidang di tanah Papua ini bukanlah sebuah cerita dongeng pengantar tidur. Melainkan pengabaian secara sistematis sejak dulu. Ada bangunan sekolah, ada anak-anak yang mau sekolah, tetapi tidak ada guru adalah cerita yang setiap hari kita dengar, dan setiap hari kita bisa jumpai di seantero tanah Papua ini. Ada bangunan Puskesmas Pembantu dan Puskesmas, tetapi tidak ada nakes, juga merupakan cerita yang setiap hari kita dengar, setiap hari kita baca dan selalu kita jumpai. 

Pendidikan dan Kesehatan, pelayanannya merupakan masalah klasik dari waktu ke waktu yang tidak pernah ada masalah tersendiri. Pemerintah yang diharapkan menjadi pemecah masalah ini tidak pernah menyelesaikan masalah ini. 

Pernyataan TNI ini menggambarkan bahwa TNI hadir sebagai solusi atas masalah pendidikan. Ketika anak-anak butuh guru dan pada saat yang sama guru tidak ada, mereka hadir sebagai guru. Mereka juga hadir sebagai solusi atas masalah kesehatan dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang memang membutuhkan kehadiran nakes dan dokter. Dan ini tidak salah. Salah ketika TNI memaksa para guru tidak mengajar, salah ketika TNI memaksa para nakes tidak memberikan pelayanan kesehatan. 

Pembakaran gedung sekolah, pembakaran gedung pustu dan puskesmas. Atau tidak adanya guru di tempat tugas, demikian pula para nakes tidak di tempat adalah masalah lain. Karena itu dampak dari masalah lain yang kalau dibahas, lebih dalam dan mengangkar. Penembakan dan pembunuhan terhadap para guru dan para nakes, juga masalah serius yang mesti dibahas secara menyeluruh dan mendalam. Karena selama api yang menjadi sumber asap tidak dipadamkan, maka masalah-masalah di tanah Papua tidak akan pernah selesai. 

Lalu, apa dan siapa yang harus menjadi jawaban dan Solusi yang tepat supaya TNI tidak lagi hadir sebagai guru di sekolah untuk mengajar, dan hadir sebagai nakes untuk melakukan pelayanan Kesehatan di Papua ini?

Pos. Admin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG PERAHU KERTAS

"Satu Pucuk Melawan Seribu" Satu pucuk senjata, melawan seribu musuh Tidak ada harapan, tidak ada kekuatan Tapi aku tidak menyerah, aku tidak mundur Aku akan melawan, dengan satu pucuk senjataku Seribu pucuk senjata, menghadapku dengan garang Tapi aku tidak takut, aku tidak gentar Aku akan melawan, dengan keberanian dan kehormatan Aku akan membuktikan, bahwa satu pucuk senjata bisa menang Musuhku banyak, tapi aku tidak sendirian Aku memiliki keadilan, aku memiliki kebenaran Aku akan melawan, dengan semangat dan kepercayaan Aku akan menang, dengan satu pucuk senjataku Satu pucuk senjata, melawan seribu musuh Tapi aku tidak menyerah, aku tidak mundur Aku akan melawan, dengan keberanian dan kehormatan Aku akan menang, dengan satu pucuk senjataku. TanahAirTercinta WestPapua 🍁🍁🍁 Anak yg Boleh Mencintainya. Anak ku. Ayah sangat merindukan mu. Tetapi Apa yang ayah lakukan hari ini suatu ketika anak besar akan mengerti penindasan atas negeri mu. Anak ku. Ay...

SETELAH DENGAR HASIL UJIAN PAKAIAN SISWA/I SMA Kelas XII Di NABIRE DIWARNAI BINTANG KEJORA POLISI MEMUKUL Mince Heluka, BEBERAPA ORANG MENANGKAP POLISI

Siswi SMA kelas XII,Foto Mince heluka dapat pukul dari Polisi Nabire. Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua- Kota Jeruk 🍊 -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Nabire Siswa/i SMA kelas 3 dengar hasil ujian, mereka mewarnai pakeyan abu putih dirubah Bendera Identitas diri Papua Barat, Bendera Bintang Kejora/Bintang Fajar Polisi Melakukan pukulan dan penangkapan terhadap siswa/Siswi. Dengan melihat Siswa Mewarnai dengan warna Identitas sehingga beberapa orang anggota polisi dan ada pula yang dapat pukulan dari Polisi pada Senin 06/05/2024. Kata M.D melalui Handphone genggamnya. Penangkapan dan pemukulan dari polisi terhadap teman-teman SMA yang turun pawai kebahagiaan setelah mendengar kelulusan mereka, namun kami merasa kecewa karena polisi-polisi yang berada di Nabire melarang kegiatan kami, Lanjutnya. Kronologis yang Terjadi  Pukul 16: 7 wp. Kurang lebih 9 orang pelajar dikejar oleh 2 orang polisi berpakaian preman dengan kendaraan beroda 2 pengejaran tersebut lokas...

GEREJA BUKAN TEMPAT TERPROVOKASI,GEREJA MENGAJARKAN PERDAMAIAN DUNIA

Artikel, Viktor Yeimo  Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua- Kota Jeruk 🍊 -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Gereja jangan lupa memberi pesan Firman Tuhan tentang pembebasan, keadilan, dan perjuangan kepada umat Tuhan yang sedang terjajah itulah kerja yang benar demi umat di seluruh dunia kata Viktor Yeimo korban rasis satu ini dalam artikelnya. Kurangi khotbah yang menekankan pada ketabahan dan kepasrahan tanpa memberi dorongan untuk bertindak, karena itu akan membuat umat menjadi pasif dan apatis terhadap kondisi penindasan yang mereka alami. Firman Tuhan harus menginspirasi dan memotivasi umat untuk bangkit dan berjuang melawan penindasan. Gereja seringkali kurang mengakomodasi teologi pembebasan yang relevan dalam konteks umat yang terjajah. Teologi pembebasan menekankan pada pentingnya perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sebagai bagian dari iman Kristen. Gereja perlu mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam setiap khotbah dan pengajaran agar umat merasa didukung d...