MERENUNG MASA LALU PAPUA: "Meraih Impian di Masa Depan"
" _Tanah air dan bangsa Papua sedang dalam kehancuran dan pemusnahan; Apa yang kita harus buat untuk selamatkannya?_ "
Hari ini 30 Desember pengunjung tahun 2025. Mari kita bermenung masa lalu bangsa Papua untuk menata masa depan Papua yang damai sejahtera.
Segala yang ada di Tanah Air Papua adalah titipan dari Tuhan Allah pencipta langit dan bumi. Di atas Tanah air Papua telah dihuni oleh para leluhur kita. Kita suku suku asli di Papua adalah ahli warisnya.
Berdasarkan penelitian, di Tanah Papua Barat dihuni sekitar 273 suku asli. Kita 273 suku asli ini adalah ahli waris Tanah air yang dijuluki "negeri cenderawasi, negeri Kangguru, negeri Kasuari"; Pulau Papua dijuluki demikian karena pulau ini berbentuk tiga margasatwa ini. Tanah air Papua dijuluki pula "negeri emas" karena sungai sungai di Papua mengalirkan emas.
Allah moyang Papua yang adalah moyang segala bangsa menempatkan suku suku asli di Tanah ini dengan batas yang amat jelas. Setiap suku menghormati batas-batas itu, dan apabila melanggar ketentuan-ketentuan batas berarti pelanggaran hukum Adat.
Pusat peradaban dunia yang paling penting dimulai dari Yunani. Istilah Negara Bangsa baru lahir kemudian mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Misalnya, bangsa Indonesia lahir di hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928; dan Negara Indonesia lahir pada 17 Agustus 1945. Sedangkan dasar hukum berdirinya Negara dan bangsa Papua lahir pada 19 Oktober 1961 melalui Deklarasi manifesto.
Setiap bangsa di dunia punya sejarah. Masing-masing bangsa di dunia berdiri di atas fondasi sejarahnya.
Bangsa Papua punya sejarah. Mari kita berdiri di atas sejarah yang pernah diukir oleh para pendahulu. Tak ada pijakan hidup jika kita tidak menghargai sejarah dan tak berdiri di atas sejarah bangsa kita.
Negara Belanda punya jasa besar atas bangsa Papua. Negara Belanda bekerjasama dengan para misionaris sehingga Sumber Daya Manusia Papua disiapkan di segala bidang kehidupan.
Dengan adanya kaum terdidik asal Papua yang disebut kaum elit Papua, sehingga para pendahulu kita mendirikan 12 partai politik pada tahun 1960, dan menggelar Pesta Demokrasi untuk memilih para wakil rakyat pada awal tahun 1961. Pada 5 April 1961 para wakil rakyat yang dipilih melalui Pesta Demokrasi dilantik, sehingga pada 5 April 1961 Nieuw Guinea Raad terbentuk.
Tidak berhenti sampai di situ, NGR (Dewan Papua) membentuk Komite Nasional Papua (KNP) atas restu Pemerintah Belanda. KNP memfasilitasi sebuah pertemuan akbar yang disebut Kongres Papua I antara tanggal 17 - 19 Oktober 1961.
Di pengunjung forum akbar ini sekitar 70 wakil bangsa Papua mendeklarasikan Manifesto. Kita harus tahu bahwa "manifesto" inilah dasar berdirinya Negara Bangsa Papua. Dan atas restu Ratu Yuliana, hari selebrasi kemerdekaannya dirayakan pada 1 Desember 1961 dalam upacara resmi yang disaksikan oleh wakil utusan Belanda, Australia, PNG, Inggris, dan Prancis.
Namun, pada 19 Desember 1961, presiden Soekarno mengumumkan untuk menganeksasi negara bangsa Papua ke dalam NKRI. Dan hasilnya perjanjian New York 15 Agustus 1962 dan Perjanjian Roma, 30 September 1962.
Tanpa melibatkan perwakilan dari bangsa Papua, perjanjian-perjanjian itu ditanda-tangani. Sehingga terjadi perdebatan dan protes yang dilakukan oleh bangsa Papua. Dewan Papua (NGR) mengajukan note protes kepada para pihak, namun sikap mereka tidak direspon.
Masa depan bangsa Papua untuk merdeka dan berdaulat di atas kaki sendiri "disalibkan atau digantungkan" oleh para kolonial hanya demi kepentingan politik, keamanan dan ekonomi semata.
Bangsa Papua menjadi korban dari perang dingin antara Unisoviet dan Amerika Serikat, dan di atas semuanya ini hanya demi kepentingan ekonomi yaitu merampok Sumber Daya Alam di Tanah Papua.
Penemuan gunung emas (gresberg dan etberg) di Timika pada tahun 1936 menjadi daya tarik bagi Amerika Serikat. Sehingga Amerika Serikat memainkan peran yang luar biasa untuk membantu Negara Indonesia menganeksasi bangsa Papua ke dalam NKRI melalui traktat perjanjian.
Negara Belanda ditekan habis-habisan oleh Presiden J. F. Kennedy untuk menyerahkan bangsa Papua ke dalam NKRI. Presiden Amerika Serikat memakai isu dunia bebas dari komunis. Padahal motif terselubungnya adalah Sumber Daya Alam Papua, termasuk gunung emas gresberg dan etberg di Timika. Selain presiden John F. Kennedy, ada tangan tersembunyi lain yang memainkan peran luar biasa yaitu Allen Dulles (direktur CIA) atas perintah Rockefeler Family (pembisnis terkemuka di Amerika Serikat).
Dengan berat hati, Pemerintah Belanda yang telah mempersiapkan bangsa Papua angkat kaki dari Tanah Papua sejak 1 Oktober 1962. Sejak itu, administrasi pemerintahan atas Papua diserahkan kepada badan PBB yang disebut UNTEA. Dan dari UNTEA, administrasi pemerintahan diserahkan lagi kepada Negara Indonesia pada 1 Mei 1963.
Bangsa Papua telah mengalami perjalanan penderitaan yang amat panjang sejak bangsa Papua dianeksasi ke dalam NKRI pada 1 Mei 1963.
Tahun ini genap 62 tahun bangsa Papua mengembara dalam pelukan penjajahan Negara Indonesia dan para sekutunya. Kita sudah melewati tantangan demi tantangan hingga pada pengunjung tahun ini, 30 Desember 2025.
Kita juga telah mengukir sejarah. Apa yang selama ini kita perjuangkan untuk mempertahankan deklarasi Manifesto 19 Oktober 1961 dan selebrasi kemerdekaan bangsa Papua, 1 Desember 1961.
Dalam perjalanan 62 tahun, ada pula orang Papua yang menjadi pengkhianat. Ini bukan hal yang baru, pada tahun 1960-an ada pula orang Papua menjadi pengkhianat. Mereka yang dianggap paling berjasa itu, Negara Indonesia menobatkan mereka menjadi Pahlawan Indonesia.
Sudah lama banyak orang Papua menjadi kaki tangan Indonesia, sehingga banyak aktivis Papua merdeka diburu dan dibunuh. Mereka ini mengambil peran seperti Yudas Iskariot yang menjual Yesus Kristus hanya demi 30 keping perak. Ironisnya, Yudas Iskariot menggantungkan diri karena dilanda penyesalan.
Bagi orang Papua yang selama ini menjadi Yudas sebaiknya merenung, sadar, menyesal dan bertobat sebelum ajal atau musibah menimpa hidupmu.
Hari ini Negara Indonesia merasa hebat dan kuat karena ada orang Papua yang bekerjasama menjadi pion. Mereka yang bekerjasama ini mendapatkan jabatan, fasilitas dan uang yang memadai.
Orang Papua yang bekerjasama dengan Negara Indonesia untuk mempertahankan Papua Barat dalam bingkai NKRI adalah para budak, atau boleh dibilang "anjing atau babi piaraan". Jika babi atau anjing piaraan itu tidak produktif lagi, maka pasti suatu saat mereka akan disembelih alias dibunuh oleh majikannya, atau terkena hukum karma dan mati tertimpa atas ulahnya sendiri.
Para budak NKRI adalah mereka yang mensukseskan rencana Pemerintah Pusat, termasuk meloloskan Tambang, Transmigrasi, PSN, Pamekaran Propinsi dan Kabupaten, serta rencana jahat lainnya.
Banyak yang berpandangan bahwa dengan adanya Tambang, PSN, Transmigrasi dan Pemekaran akan meningkatkan kesejahteraan orang Papua. Ternyata fakta membuktikan bahwa itu hanyalah menguntungkan pihak lain, sementara orang Papua menjadi penonton, miskin dan menderita, serta menjadi minoritas di tengah Sumber Daya Alam yang melimpah bagaikan tikus mati dilumbung padi.
Banyak tokoh asal Papua, baik Adat, Gereja, Pemuda, Perempuan, dan Mahasiswa yang menjadi pion Jakarta untuk menghancurkan bangsa Papua. Para tokoh ini berpandangan bahwa dengan bekerjasama dengan Pemerintah akan membawa dampak positif bagi warga masyarakat, ternyata sebaliknya, mereka menjadi jembatan atau alat untuk menghancurkan tananan hidup bangsa Papua dan menghancurkan Tanah air Papua.
Hari ini, kondisi hidup bangsa Papua sangat memprihatinkan. Kehidupan bangsa Papua sedang tidak baik baik saja.
Banyak orang Papua berada di bawah garis kemiskinan. Ada kemiskinan struktural, dan ada yang dimiskinkan karena operasi militer di beberapa Kabupaten sehingga banyak orang Papua mengungsi (yang terdata di Dewan Gereja Papua sebanyak 103.000 jiwa), dan pada umumnya hidupnya melarat di tempat pengungsian.
Kematian orang Papua juga semakin hari semakin meningkat. Kematian ini disebabkan karena banyak sebab, antara lain: miras, seks bebas (prostitusi - HIV AIDS), tabrakan mobil/motor, keracunan lewat makan/minum, dan lewat medis di Rumah Sakit, culik dan bunuh, serta operasi militer.
Tatanan struktur dan nilai nilai Adat juga sedang dihancurkan, komponen perjuangan bangsa Papua juga sudah lama berpuing puing, dan Negara Indonesia juga sudah lama berusaha menghancurkan tananan persekutuan Agama/Gereja di Tanah Papua.
Tatanan Adat, Agama/Gereja serta komponen politik sudah terpecah-belah. Hari ini tak ada sandaran bagi bangsa Papua, kecuali sandaran kepada Allah Pencipta, karena Tananan Adat dan Gereja/Agama juga sedang dihancurkan oleh Negara Indonesia melalui kaki tangannya.
Tatanan Adat dan Agama/Gereja adalah benteng terakhir, namun hari ini kedua benteng ini sedang terguncang. Maka itu, mari kita ambil waktu sejenak berdoa dan bermenung, lalu bangsa Papua harus sadar dan segera rekonsiliasi serta konsolidasi bersatu untuk melangkah bersama meraih impian bangsa Papua.
Papua sudah dilanda krisis multi dimensi dan sudah berada pada ancaman ekosida (kehancuran ekosistem alam lingkungan), etnosida (penghancuran sosial budaya), spiritsida (kehancuran moral akhlak), dan genosida (pemusnahan etnis Papua).
Untuk keluar dari mata rantai kematian tanah air dan bangsa Papua ini, setiap kita ambil peran menjadi agen pemerhati, agen rekonsiliasi, agen pemersatu, dan agen perubahan untuk mendatangkan kebaikan yang menggembirakan bagi bangsa Papua pada masa kini, dan masa depan bangsa Papua.
Atas pertolongan Tuhan, PAPUA PASTI BISA.
Oleh: Selpius Bobii, Aktivis HAM Papua // Nabire: Selasa, 30 Desember 2025.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar