Kita Menggali Tapi Menutup Jauh Lebih Banyak dirugikan


Tetesan Air Mata Ibunda-Kota Tua- Kota Jeruk 🍊 -Melangka Tanpa Alas Kaki- Negeri ini terlihat begitu sibuk menggali, seolah seluruh masa depan tersembunyi di kedalaman tanah. Setiap izin tambang diumumkan dengan dramatis, seakan-akan itu adalah hadiah ulang tahun bagi rakyat. Padahal hadiah sebenarnya hanya diterima oleh segelintir orang yang duduk di meja perundingan. Kita menggali untuk mencari pendapatan, tetapi yang ditemukan justru daftar panjang kerusakan ekologis. Setiap lembah yang dibuka melahirkan harapan sementara, namun juga ketakutan yang lebih panjang. Ironinya, semakin dalam kita menggali, semakin dangkal alasan yang diberikan pemerintah untuk membenarkannya.

Hutan yang hilang tidak pernah masuk berita utama kecuali saat banjir datang, barulah semua orang mendadak peduli. Sungai yang keruh dianggap biasa saja, seperti batuk perokok yang sudah dianggap bagian dari identitas. Negara terus berkata bahwa ini semua demi pembangunan, meski pembangunan itu sering hanya terlihat di PowerPoint pejabat. Ketika alam merana, laporan resmi tetap tegar dan penuh angka keberhasilan. Kita diajak percaya bahwa kerusakan adalah investasi. Dan seperti biasa, rakyat diminta maklum.

Setiap alat berat yang masuk ke hutan membawa dua hal: janji lapangan pekerjaan dan ancaman bencana. Yang pertama sering hanya bertahan sebentar, yang kedua bertahan jauh lebih lama. Ketika perusahaan pergi, yang tertinggal adalah lubang-lubang besar seperti kenangan buruk yang tak bisa ditutup. Negara datang belakangan, membawa kunjungan formal dan foto-foto penuh senyum. Seolah semua bisa beres hanya karena kamera menyala. Padahal lubang itu tidak peduli pada retorika.

Penerimaan negara dari pajak makin meningkat, sementara kontribusi sektor ekstraktif terasa seperti uang rokok dibandingkan biayanya. Ironis karena rakyat yang tidak merusak justru membayar lebih mahal untuk memperbaiki kerusakan. Kita menggali untuk menambah kekayaan nasional, tetapi akhirnya rakyat yang menambal kerusakan nasional. Pajak naik, lingkungan turun, kombinasi yang tidak pernah disebutkan dalam seminar-seminar pertumbuhan ekonomi. Negara menutup mata, tetapi rakyat menutup hidung. Bau kerusakan tidak bisa disensor.

Setiap tahun ada bencana yang diberi nama baru, tapi pola penyebabnya tetap sama: eksploitasi yang dilegalkan. Namun laporan resmi selalu menyalahkan cuaca, seperti cuaca punya KTP. Alam dianggap berubah tanpa sebab, padahal sebabnya sudah dipotret berkali-kali dari udara. Kita menggali tanah, tapi alasan selalu menggali lebih dalam. Dan ketika tragedi terjadi, negara kembali menutup-nutupi fakta dengan frasa “situasi terkendali”. Kata yang paling sering digunakan untuk menutupi ketidakmampuan.

Bisnis ekstraktif membuat negara tampak sibuk, seperti pelajar yang terlihat belajar padahal hanya menyalin pekerjaan temannya. Aktivitasnya banyak, hasilnya minim. Kedalaman galian meningkat, tetapi kedalaman berpikir tidak ikut bertambah. Kita menutup lebih banyak kesalahan dengan menyalahkan alam, menyalahkan warga, dan menyalahkan takdir. Seolah kerusakan ini turun dari langit, padahal datang dari surat izin yang ditandatangani di ruang ber-AC. Humor pahitnya adalah: yang merusak bebas, yang dirusak disalahkan.

Negara menganggap ekstraksi sebagai strategi jangka panjang, padahal itu hanya jalan pintas yang dipoles dengan bahasa teknokratik. Kita diberi istilah-istilah keren agar lupa bahwa yang terjadi sebenarnya adalah perusakan. Visi masa depan dibentangkan, tetapi masa depan itu terus terkikis setiap hari. Kita menutup kesalahan dengan narasi kemajuan, seperti menutup bau busuk dengan parfum murahan. Semuanya tampak rapi di laporan, tetapi amburadul di lapangan. Begitulah birokrasi bekerja: lebih pandai menutup daripada memperbaiki.

Kita menggali kekayaan, tetapi yang hilang lebih banyak dari yang diperoleh. Kita menutup rapat fakta-fakta yang tidak nyaman, menutup telinga terhadap protes warga, dan menutup ruang diskusi dengan jargon pembangunan. Lubang-lubang tambang itu bukan hanya luka di tanah, tetapi juga luka pada kejujuran negara. Yang digali hanyalah alasan, yang ditutup hanyalah kebenaran. Dan makin lama semakin jelas bahwa proyek ekstraktif ini bukan membangun negara, melainkan membangun ilusi. Ilusi bahwa kerusakan bisa dinegosiasikan.

Pada akhirnya, kita hidup di negeri yang menggali masa depan tapi menutup realitas. Kita menggali tanah, menggali alasan, menggali laporan, tetapi menutup harapan warga yang ingin hidup tanpa bencana. Kita menutup ruang hijau demi ruang rapat, menutup sungai demi pabrik, dan menutup suara alam demi tepuk tangan investor. Semua ini dilakukan dengan yakin, seolah ada kebijaksanaan agung di baliknya. Padahal yang ada hanyalah keberanian besar untuk terus mengulangi kesalahan. Kita menggali, tapi yang hilang jauh lebih banyak dari yang kembali.

“Akhirnya kita akan menutup biaya yang lebih besar dari kerusakan yang kita izinkan, lebih besar dari pendapatan yang kita banggakan, dan jauh lebih besar dari akal sehat yang kita korbankan.”


Pos. Admin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK, KATA DAN KISAH, CINTA, PUISI, ATAU PUN SANJAK

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi

Menteri Investasi Indonesia Bahlil Lahadalia, Orang Sulawesi yang Mengklaim Diri Sebagai “Anak Papua”