103 Tahun Lalu, Makam Tutankhamun Dibuka, Kisah 'Kutukan Firaun' pun Dimulai.
Nationalgeographic.co.id—Tepat hari ini, 16 Februari 2026, dunia memperingati 103 tahun sejak salah satu momen paling ikonik dalam sejarah arkeologi terjadi di Thebes, Mesir. Pada tanggal yang sama di tahun 1923, Howard Carter melangkah masuk ke dalam kamar pemakaman Raja Tutankhamun yang telah tersegel selama lebih dari 3.000 tahun.
Penemuan ini bukan sekadar keberhasilan teknis penggalian, melainkan awal dari fenomena global yang mencampurkan kekaguman atas harta karun kuno dengan kengerian cerita mistis yang menyertainya.
Meskipun laporan History mencatat bahwa banyak makam penguasa Mesir telah dijarah sejak abad ke-19, makam Tutankhamun tetap utuh karena lokasinya yang tersembunyi di bawah puing-puing makam lainnya.
Namun, seiring dengan dibukanya pintu terakhir yang menyingkap sarkofagus emas murni sang firaun, sebuah narasi lain mulai berkembang dan menghantui para penggali.
Apakah rentetan kematian yang terjadi setelahnya merupakan konsekuensi biologis dari lingkungan makam yang tertutup, ataukah ada kebenaran di balik peringatan kuno yang tertulis di dinding-dinding batu?
Ambisi di Balik Tumpukan Debu Lembah Para Raja
Perjalanan menuju penemuan ini dimulai jauh sebelum tahun 1923. Howard Carter tiba di Mesir pada tahun 1891 dengan keyakinan teguh bahwa masih ada satu makam yang belum ditemukan, yakni milik penguasa muda yang memerintah sekitar tahun 1400 SM. Selama lima tahun, Carter menyisir Lembah Para Raja tanpa hasil yang berarti.
Lord Carnarvon, bangsawan Inggris yang mendanai ekspedisi ini, hampir menghentikan seluruh pendanaan pada awal 1922. Namun, Carter berhasil meyakinkannya untuk bertahan satu tahun lagi.
Keberuntungan berpihak pada mereka di bulan November 1922. Tim Carter menemukan tangga yang tersembunyi di dekat pintu masuk makam lain, yang mengarah pada sebuah pintu tersegel bertuliskan nama Tutankhamun.
Saat pertama kali memasuki ruangan dalam pada 26 November, mereka menemukan ribuan benda berharga—mulai dari kereta perang, senjata, hingga perhiasan—yang masih tersusun rapi. Namun, acara puncaknya terjadi pada 16 Februari 1923, ketika Carter membuka pintu ke ruang terakhir di bawah pengawasan para pejabat penting.
Di dalam ruangan tersebut, terdapat tiga peti mati yang disusun bertumpuk. Peti terdalam terbuat dari emas murni, melindungi mumi Tutankhamun yang terawetkan dengan sempurna.
Menurut laporan Euro News, pelestarian makam yang luar biasa ini kemungkinan besar disebabkan oleh peran kecil sang firaun dalam sejarah; ia naik takhta pada usia delapan tahun dan meninggal hanya sepuluh tahun kemudian, sehingga makamnya tidak terlalu mencolok.
Penemuan ini segera memicu kegilaan media global, tetapi bersamaan dengan itu, rumor mengenai "Kutukan Firaun" mulai menyeruak ke permukaan.
Antara Mitos Panggung London dan Realitas Medis
Mitos tentang kutukan sebenarnya bukan barang baru saat Carter membuka makam tersebut. Laporan Euro News menyebutkan bahwa pada tahun 1699, seorang pelancong Polandia mengaku mengalami penglihatan mengerikan saat membawa dua mumi di kapalnya, yang baru berhenti setelah mumi-mumi itu dibuang ke laut.
Selain itu, setelah hieroglif berhasil dipecahkan pada abad ke-19, para arkeolog memang menemukan tulisan peringatan pada dinding makam Kerajaan Lama. Salah satunya di makam Khentika Ikhekhi yang berbunyi: "Adapun semua orang yang akan memasuki makamku ini... tidak suci... akan ada penghakiman... aku akan mencekik lehernya seperti burung."
Namun, riset dari mendiang pakar Mesir Kuno, Dominic Montserrat, yang dikutip oleh National Geographic, menunjukkan bahwa konsep modern tentang kutukan ini justru lahir dari pertunjukan panggung di London abad ke-19.
Montserrat menyatakan, "Penelitian saya menunjukkan dengan sangat jelas bahwa konsep kutukan mumi mendahului penemuan Tutankhamun oleh Carnarvon dan kematiannya selama seratus tahun."
Narasi ini bahkan sempat diangkat oleh penulis Little Women, Louisa May Alcott, dalam karyanya yang berjudul Lost in a Pyramid; or, The Mummy's Curse.
Spekulasi semakin liar ketika Lord Carnarvon meninggal pada 5 April 1923, hanya beberapa bulan setelah pembukaan makam, akibat infeksi gigitan nyamuk yang berujung pada keracunan darah. Sir Arthur Conan Doyle, pencipta Sherlock Holmes, bahkan ikut memanaskan suasana dengan menyebut bahwa Carnarvon tewas akibat kutukan.
Disusul kemudian oleh kematian George Jay Gould I karena demam pada Mei 1923, serta Arthur Mace dan Richard Bethell pada tahun-tahun berikutnya.
Meski begitu, data ilmiah berbicara lain. Dari 58 orang yang hadir saat sarkofagus dibuka, hanya delapan orang yang meninggal dalam kurun waktu 12 tahun. Howard Carter sendiri, yang seharusnya menjadi target utama kutukan, meninggal pada 1939 di usia 64 tahun karena limfoma.
Beberapa ahli mencoba mencari penjelasan medis terkait bahaya biologis di dalam makam yang kedap udara. National Geographic mencatat adanya jamur seperti Aspergillus niger dan bakteri Staphylococcus yang dapat tumbuh di dinding makam atau pada sisa makanan kuno.
Namun, F. DeWolfe Miller, profesor epidemiologi dari University of Hawaii at Manoa, meragukan hal tersebut. Ia berpendapat bahwa kondisi sanitasi di Mesir Hulu pada tahun 1920-an justru lebih berbahaya bagi kesehatan dibandingkan lingkungan di dalam makam.
"Gagasan bahwa makam bawah tanah, setelah 3.000 tahun, akan memiliki sejenis mikroorganisme aneh yang akan membunuh seseorang enam minggu kemudian... sangat sulit dipercaya," tegas Miller.
Kini, koleksi berharga dari makam Tutankhamun telah menemukan rumah permanen di Museum Mesir di Kairo setelah sempat berkeliling dunia dalam pameran "Treasures of Tutankhamun".
---
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat
Komentar
Posting Komentar