PEJUANG DIBAWA TANAH DEMI RAKYATNYA
๐ฆ๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐๐ฟ๐ฎ ๐ฆ๐ผ๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ผ, ๐ง๐ผ๐ธ๐ผ๐ต ๐๐ป๐ถ ๐๐๐๐๐ฟ๐ ๐๐ถ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐น ๐ ๐ฒ๐ป๐ฑ๐๐ธ๐๐ป๐ด ๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ
Eurico Barros Gomes Guterres, yang lahir pada 4 Juli 1969, merupakan seorang tokoh pro-integrasi Timor Timur yang pernah menjabat sebagai Wakil Panglima Milisi pro-Indonesia di Timor Leste serta Anggota DPRD Timor Timur dari Fraksi Golkar untuk periode 1999–2004. Ia dituduh terlibat dalam sejumlah aksi pembantaian di Timor Timur, termasuk menjadi tertuduh utama milisi dalam Pembantaian Gereja Liquiรงรก pada April 1999. Selain itu, dirinya diidentifikasi sebagai pemimpin milisi utama dalam peristiwa pembantaian pasca-referendum serta penghancuran ibu kota Dili.
Terkait dengan tindakan milisinya, Eurico Guterres dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada November 2002, di mana putusan tersebut dikuatkan hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Setelah upaya banding yang diajukannya gagal, ia baru mulai menjalani masa hukuman penjara pada tahun 2006. Namun, pada April 2008, Guterres dibebaskan dari segala tuduhan setelah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung, yang dalam keputusannya menyatakan telah menemukan adanya "bukti baru".
Setelah masa konfliknya di Timor Timur, Eurico Guterres membentuk organisasi Laskar Merah Putih di Papua pada Agustus 2003. Pemimpin Elsham, Aloysius Renwarin, melaporkan bahwa pada Desember 2003 organisasi bentukan Guterres tersebut telah memiliki 200 anggota yang berasal dari wilayah Maluku, Timor, dan Sulawesi. Keberadaan organisasi ini beserta pengangkatan Brigjen Timbul Silaen sebagai kepala polisi Papua memicu kekhawatiran di kalangan rakyat Papua mengenai kebebasan bergerak dan potensi tindakan Laskar Merah Putih terhadap penduduk setempat.
Eurico Guterres lahir di Uatulari (dekat Viqueque), Timor Timur, dan dibesarkan oleh seorang warga sipil Indonesia hingga sempat menempuh pendidikan di sekolah Katolik Hati Kudus Yesus di Becora, Dili. Setelah putus sekolah di tingkat SMA, ia sempat terlibat dalam kegiatan gangster kecil dan menjadi pelindung tempat judi bola guling di Tacitolu, Dili. Pada tahun 1988, ia ditahan oleh intel militer Indonesia atas tuduhan terlibat rencana pembunuhan Presiden Soeharto, momen yang kemudian mengubah haluan politiknya dari pro-kemerdekaan menjadi pro-Indonesia serta membuatnya bekerja sebagai informan Kopassus dan agen ganda hingga tahun 1990.
Kemampuan Eurico Guterres menarik perhatian Prabowo Subianto yang saat itu menjabat perwira anti-pemberontakan, hingga pada tahun 1994 Guterres direkrut ke dalam Gardapaksi, sebuah organisasi pinjaman usaha kecil bentukan militer yang digunakan sebagai informan dan satuan pro-militer. Menggunakan ijazah SMA dari militer, Guterres sempat kuliah ekonomi selama tiga semester di STIE milik Filomeno Hornay, serta menikah dengan kemenakan Uskup Nascimento dari Baucau dan dikaruniai tiga anak.
Sumber Apdet Media FB.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar