Artikel Sanjak

MEMBACA RINDUMU
Aku membaca rindumu sebagaimana embun mengakrabi dedaunan sebelum fajar membuka kelopak langit. Tiap aksara yang kautinggalkan menjelma jejak samar di relung ingatan, berkilau lirih, mengalir bersama desir angin yang memungut gema langkah kita. Ada musim yang telah beranjak, tetapi kenangan tetap memilih bersemayam, mengakar di kedalaman batin yang enggan menghapus namamu.

Barangkali rindu memang tercipta sebagai kitab paling sunyi. Halamannya dipenuhi sela-sela hening, sementara setiap keheningan menyimpan doa yang tak sempat dilisankan. Aku menelusuri tiap lariknya dengan kesabaran seorang peziarah, berharap menemukan seberkas cahaya yang dahulu singgah di matamu. Namun, yang kutemukan hanya lengang, bertumbuh perlahan hingga menjelma samudra yang memeluk sepi.

Di antara senja yang menggugurkan warna dan malam yang menyalakan gugus-gugus cahaya, aku memahami bahwa kehilangan memiliki bahasanya sendiri. Ia tak pernah berteriak, hanya merambat pelan pada denyut waktu, mengendap di sela napas, lalu menjelma elegi yang terus menggaung. Sejak saat itu, rindumu menjadi aksara paling setia, terus kubaca meski tak pernah mencapai lembar penutup.

Apabila takdir akhirnya mempertemukan kita pada persimpangan yang sama, aku tak hendak mengungkit segala yang pernah luruh. Biarlah semesta menyusun kembali serpihan musim yang tercerai, sementara kita saling membaca dengan hati yang telah ditempa keikhlasan. Sebab rindu yang sanggup bertahan melampaui jarak pada akhirnya akan menemukan cara pulang, meski harus menempuh perjalanan sepanjang usia.

Sajak Pesisir | Pesisir Timur, 2025

*******


TUHAN TIDAK HANYA BERSEMAYAM DI LANGIT
Ada orang-orang yang begitu fasih menyebut nama Tuhan, tetapi tangannya tak pernah lelah menggenggam bumi. Bibir mereka penuh doa, sementara lumbung mereka dipenuhi hasil dari keringat orang lain. Mereka mengajarkan kesabaran kepada yang lapar, namun tak pernah rela membagi roti yang mereka simpan.

Mereka berkata, "Pandanglah surga." Tetapi mata mereka sendiri tak pernah lepas dari emas, tanah, hutan, laut, dan segala yang dapat dijadikan keuntungan. Mereka menjadikan langit sebagai penghiburan bagi mereka yang tertindas, sementara bumi dijadikan kerajaan bagi mereka sendiri.

Padahal Tuhan tidak menciptakan bumi untuk diwarisi oleh segelintir tangan. Matahari tidak memilih siapa yang boleh menikmati cahayanya. Hujan tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Angin pun tidak membedakan rumah istana dari gubuk reyot.

Jika agama hanya membuat manusia pasrah terhadap ketidakadilan, maka yang sedang dimuliakan bukan Tuhan, melainkan kekuasaan. Sebab iman yang sejati tidak pernah menjadi rantai bagi orang kecil, melainkan sayap yang mengangkat martabat mereka.

Jangan jadikan surga sebagai alasan untuk membiarkan bumi dipenuhi air mata. Sebab setiap anak yang kelaparan, setiap hutan yang dirampas, setiap rakyat yang kehilangan haknya adalah pertanyaan yang kelak akan dijawab oleh nurani, sebelum dijawab di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak hanya bertakhta di surga. Ia hadir di ladang petani yang dirampas, di tangan buruh yang melepuh, di tangis seorang ibu yang kehilangan tanah leluhurnya, dan di suara rakyat kecil yang meminta keadilan.

Karena Tuhan tidak pernah meminta manusia menyembah ketidakadilan. Yang Dia kehendaki adalah kasih yang menjadi tindakan, iman yang melahirkan keberanian, dan doa yang menjelma menjadi pembelaan terhadap sesama.

Sebab langit tidak akan berarti apa-apa jika bumi dibiarkan menjadi neraka bagi manusia.

******

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Jadwal Siaran Langsung Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup I.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi