LETNAN KOLONEL RUI ALBERTO MAGGIOLO GOUVEIA: SEORANG PERWIRA PORTUGAL YANG GUGUR DALAM TRAGEDI TIMOR 1975
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Jayapura -Di antara sekian banyak korban yang jatuh dalam perang saudara Timor tahun 1975, nama Letnan Kolonel Rui Alberto Maggiolo Gouveia menempati tempat yang istimewa dalam sejarah Portugal maupun Timor. Ia bukan seorang politikus, bukan pula tokoh yang memimpin sebuah gerakan politik. Ia adalah seorang perwira Angkatan Bersenjata Portugal yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri kepada negaranya. Lahir di Sintra pada 11 Oktober 1929, Maggiolo Gouveia meniti karier militer sejak muda dan berkali-kali bertugas di Angola pada masa perang kolonial Portugal.
Pengabdiannya membuat ia menerima berbagai penghargaan militer atas keberanian dan dedikasinya. Ketika ditugaskan ke Timor Portugis pada tahun 1973 sebagai Komandan Polícia de Segurança Pública (PSP) di Dili, tidak seorang pun membayangkan bahwa pulau kecil di ujung timur Nusantara itu kelak menjadi tempat di mana ia menghembuskan napas terakhirnya.
Tahun 1975 menjadi titik balik bukan hanya bagi Timor, tetapi juga bagi Portugal. Revolusi Anyelir telah mengakhiri rezim lama di Lisboa dan membawa perubahan besar terhadap kebijakan dekolonisasi. Di Timor, perubahan itu tidak berlangsung dalam suasana damai. Persaingan politik yang semula dapat dikelola berubah menjadi konflik bersenjata ketika perang saudara pecah pada Agustus 1975.
Dalam waktu singkat, desa-desa berubah menjadi medan pertempuran, ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka, dan kekerasan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan pemerintah kolonial melahirkan salah satu tragedi paling besar dalam sejarah Timor modern.
Di tengah situasi itulah Maggiolo Gouveia mengambil keputusan yang kemudian menentukan nasibnya. Menurut berbagai sumber Portugal, masa tugasnya sebenarnya telah berakhir dan ia memiliki kesempatan untuk kembali ke tanah air. Namun ia memilih tetap tinggal di Timor.
Sebuah petisi yang ditandatangani oleh para bawahannya dan rasa tanggung jawab sebagai seorang perwira membuatnya menunda kepulangan. Ia mengirim istrinya kembali ke Lisboa, sementara dirinya tetap berada di Dili karena merasa tidak pantas meninggalkan anak buahnya pada saat keadaan semakin memburuk. Keputusan itu kemudian dikenang banyak orang sebagai salah satu bentuk kesetiaan seorang prajurit terhadap tugasnya.
Ketika perang saudara mulai berkecamuk, Maggiolo Gouveia berada di wilayah yang dikuasai União Democrática Timorense (UDT). Laporan yang kemudian diterbitkan di Portugal menyebutkan bahwa sekitar tanggal 20 Agustus 1975 ia mendatangi markas besar FRETILIN dengan membawa bendera putih untuk melakukan perundingan. Akan tetapi, menurut laporan tersebut, ia tidak pernah memperoleh kesempatan untuk berunding. Setibanya di markas itu ia langsung ditangkap dan dijadikan tahanan.
Sejak saat itu kisah hidupnya berubah menjadi kisah penderitaan yang selama bertahun-tahun hampir tidak diketahui oleh masyarakat Portugal.
Beberapa bulan setelah kematiannya, sebuah majalah Portugal yang terbit pada tahun 1976 menerbitkan laporan investigatif dengan judul yang sangat tajam: "Siapa yang Bertanggung Jawab atas Pembantaian Itu?" Laporan tersebut menyatakan bahwa selama berbulan-bulan rakyat Portugal tidak memperoleh gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Timor.
Baru setelah berbagai surat dari Timur Jauh mulai tiba di Lisboa, tabir tragedi itu perlahan-lahan tersingkap. Majalah tersebut menggambarkan sebuah negeri yang hancur oleh perang saudara. Puluhan ribu orang dilaporkan mengungsi ke Indonesia, ribuan lainnya mencari perlindungan ke Australia, sementara sedikitnya seribu orang disebut telah dieksekusi oleh regu tembak FRETILIN.
Jumlah korban perang saudara sendiri diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa. Di tengah laporan itu, penulis mengutip sebuah pertanyaan yang menurut mereka terus bergema dari bibir rakyat Timor: "Mengapa orang-orang Portugal pergi meninggalkan kami?"
Di antara berbagai kisah yang dimuat dalam laporan tersebut, perhatian terbesar diberikan kepada Letnan Kolonel Maggiolo Gouveia.
Majalah itu mengisahkan bahwa setelah ditangkap ia ditempatkan di dalam sebuah sel bersama sekitar tiga puluh tahanan lainnya. Ia dipaksa menandatangani sebuah pernyataan yang menyerukan agar UDT menyerah, tetapi ia menolak. Penolakan itu, menurut laporan tersebut, dibayar dengan hukuman lima puluh kali cambukan yang dijatuhkan kepadanya pada 22 Agustus 1975.
Penyiksaan tidak berhenti di sana. Selama minggu-minggu berikutnya ia terus mengalami kekerasan fisik hingga tulang rusuknya patah dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Ironisnya, ketika seorang perwira Portugal mengalami penyiksaan di daratan Timor, kapal perang Portugal masih berlayar di sekitar pulau itu dengan alasan menjaga kedaulatan Portugal.
Laporan tersebut mempertanyakan bagaimana mungkin seorang perwira yang masih berada di bawah tanggung jawab negaranya dapat mengalami nasib demikian tanpa adanya upaya penyelamatan.
Menurut kesaksian yang dikutip majalah tersebut, pada tanggal 7 Desember 1975, bertepatan dengan dimulainya Indonesia memasuki di Timor, sekitar enam puluh tahanan dibawa menuju jalan antara Aileu dan Maubisse. Mereka disebut terlebih dahulu mendaraskan doa Rosario sebelum akhirnya dieksekusi dan dikuburkan dalam sebuah kuburan massal di tepi jalan. Salah seorang mantan tahanan, Lúcio da Encarnação, menyatakan bahwa ia memperoleh informasi mengenai eksekusi itu dari para pelaku yang terlibat.
Di dalam laporan tersebut juga dimuat kata-kata terakhir yang kemudian dilekatkan kepada Maggiolo Gouveia: "Saya mati demi Timor, saya mati demi tanah air saya, dan saya mati demi iman Katolik saya. Silakan tembak." Beberapa waktu kemudian, Uskup Dili menulis kepada keluarganya bahwa Maggiolo Gouveia telah wafat sebagai "seorang pahlawan iman dan tanah air", sebuah penghormatan yang datang dari seorang gembala Gereja yang tetap tinggal mendampingi umatnya di tengah kekacauan perang.
Maggiolo Gouveia hanyalah satu nama yang dikenal luas karena ia merupakan seorang perwira Portugal. Akan tetapi, di balik dirinya terdapat ribuan korban lain yang tidak pernah memperoleh perhatian yang sama.
Perang saudara 1975 meninggalkan luka yang sangat dalam bagi masyarakat Timor. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya tanpa pernah mengetahui di mana mereka dimakamkan. Tidak sedikit yang ditahan tanpa proses hukum, dipindahkan secara paksa, atau menghilang tanpa jejak.
Dalam konteks inilah kisah Maggiolo Gouveia memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan hanya simbol seorang perwira yang gugur, melainkan juga salah satu wajah dari tragedi kemanusiaan yang melanda Timor pada tahun 1975.
Selama bertahun-tahun, berbagai kesaksian mengenai nasib para tahanan terus bermunculan. Pada tahun 1994, FRETILIN mengakui tanggung jawab atas kematian para tahanan yang dieksekusi selama konflik tersebut.
Pengakuan itu merupakan bagian penting dalam menghadapi masa lalu, tetapi bagi banyak keluarga korban, pengakuan saja belum cukup. Mereka masih menunggu penjelasan yang utuh mengenai bagaimana keputusan-keputusan itu diambil, siapa yang memberikan perintah, bagaimana rantai komando bekerja, berapa jumlah korban sebenarnya, serta di mana seluruh lokasi kuburan massal berada.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lahir dari keinginan untuk membuka kembali permusuhan lama, melainkan dari keyakinan bahwa rekonsiliasi yang sejati hanya dapat dibangun di atas kebenaran.
Perang saudara selalu melahirkan narasi yang saling bertentangan. Akan tetapi, satu prinsip tidak pernah berubah: penyiksaan terhadap tahanan dan eksekusi terhadap orang-orang yang sudah berada dalam penguasaan pihak lawan merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Tidak ada tujuan politik, seagung apa pun, yang dapat menghapus penderitaan para korban atau membenarkan hilangnya hak hidup mereka. Justru karena itulah sejarah mempunyai kewajiban moral untuk terus mengingat mereka yang tidak lagi dapat berbicara bagi dirinya sendiri.
Hampir lima puluh tahun telah berlalu sejak Letnan Kolonel Rui Alberto Maggiolo Gouveia ditembak mati di sebuah jalan sunyi antara Aileu dan Maubisse. Namanya kini diabadikan di beberapa jalan di Portugal sebagai penghormatan atas pengabdiannya. Namun penghormatan itu tidak mengakhiri pertanyaan yang telah diajukan oleh sebuah majalah Portugal pada tahun 1976: "Siapa yang bertanggung jawab atas pembantaian itu?" Selama seluruh fakta belum diungkap secara terbuka, selama setiap korban belum memperoleh pengakuan yang layak, dan selama keluarga mereka masih menunggu jawaban mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai, sejarah Timor tahun 1975 belum benar-benar selesai.
Bangsa yang menghormati masa lalunya bukanlah bangsa yang memilih melupakan luka, melainkan bangsa yang berani menatapnya dengan jujur, mengakui seluruh korbannya, dan membangun rekonsiliasi di atas fondasi kebenaran dan keadilan.
Pos admin.
Komentar
Posting Komentar