Ketika VOC Mulai Memetakan Teluk Geelvink dan Kepulauan New Guinea/Papua Tahun 1705.
Dikutip kembali oleh. Yerino Madai
Menjelang akhir abad ke-17, beredar kabar bahwa kapal-kapal Inggris mulai memasuki perairan Pasifik dan Papua. Bahkan terdengar berita bahwa rempah-rempah telah sampai ke Inggris melalui jalur yang tidak diketahui. Para pemimpin VOC di Belanda menjadi cemas. Mereka khawatir ada pohon pala atau cengkih yang tumbuh di pulau-pulau Papua dan rempah-rempah tersebut diselundupkan ke Eropa melalui Samudra Pasifik.
Kecurigaan itu semakin besar ketika pelaut Inggris terkenal, William Dampier, kembali berlayar ke Laut Selatan. Karena itulah, pada tahun 1705 VOC memerintahkan ekspedisi besar ke Nieuw Guinea (Papua) di bawah pimpinan Jacob Weyland.
Ekspedisi ini menggunakan fregat Geelvink, didampingi kapal Kraanvogel dan Nova Guinea. Mereka diperintahkan mengelilingi Kepala Burung Papua, melewati Waigeo, menyusuri pantai utara, dan memetakan teluk, sungai, tanjung, serta pulau-pulau yang belum dikenal. Para awak juga diminta mencari kemungkinan adanya jalur laut yang menghubungkan bagian utara dan selatan Papua.
Buku harian pelayaran Jacob Weyland kemudian hilang, tetapi peta yang dibuatnya masih tersimpan.
Pulau Yapen dicatat dengan nama Het Lange Hoge Eylandt (Pulau Panjang dan Tinggi), sedangkan Numfor disebut Het Lange Eylandt. Pada masa itu hanya pantai selatan Biak dan Supiori yang sempat dipetakan, sedangkan pantai utara kedua pulau tersebut masih belum dikenal.
Satu-satunya tempat yang sempat disinggahi adalah Jobi atau Yapen bagian utara. Namun, kedatangan rombongan Belanda disambut dengan permusuhan. Empat orang Papua sempat ditangkap, tetapi dua orang tua kemudian dikembalikan ke darat dengan membawa hadiah.
Setelah menjelajahi teluk besar yang oleh Jacob Weyland disebut "Grote Inbocht" (Teluk Besar), ekspedisi itu akhirnya kembali ke Maluku. Laporan yang dikirim kepada Dewan Tujuh Belas VOC menyatakan bahwa tidak ditemukan pohon rempah-rempah di wilayah Papua. Mereka juga menggambarkan penduduk setempat sebagai masyarakat yang sulit didekati dan sangat berhati-hati terhadap orang asing.
Dengan demikian VOC merasa tidak perlu khawatir akan hilangnya monopoli rempah-rempah maupun ancaman berdirinya kekuatan Eropa lain di dekat Maluku.
Menariknya, nama Teluk Geelvink yang kemudian sangat terkenal sebenarnya belum digunakan oleh Jacob Weyland. Nama itu baru diberikan pada tahun 1792 oleh penjelajah Prancis, J.A. yang mencantumkannya dalam atlas pelayarannya. Setelah Indonesia merdeka, nama Teluk Geelvink diubah menjadi Teluk Cenderawasih, yang hingga kini menjadi salah satu teluk terbesar dan terindah di Papua.
Ekspedisi Jacob Weyland tahun 1705 menjadi salah satu catatan paling awal tentang Biak, Supiori, Numfor, Yapen, Raja Ampat, dan Teluk Cenderawasih dalam sejarah modern. Meskipun dilatarbelakangi kepentingan perdagangan VOC, pelayaran ini meninggalkan warisan penting berupa peta-peta awal kawasan Papua yang kemudian menjadi dasar bagi penelitian dan pelayaran berikutnya.
Sumber: Arsip VOC, F.C. Kamma, catatan Jacob Weyland (1705).
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar