Mama Yasinta Moiwend Lapor Kombes Metro jaya jakarta adalah Dorongan dan Tekanan, Bukan Inisiatif Sendiri.
Timur mata hati 01.06.2026
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura, Kasus Mama Yasinta Perlu Dilihat dalam Konteks Penindasan dan Hegemoni Kolonial. Film Dokumenter Pesta Barapen Babi Adalah Simbol Budaya yang Sedang Terluka. Mama Yasinta Moiwend menggugat Inisiatif sebelumnya sendiri. "Ini adalah Dorongan Bukan Inisiatif sebelumnya Mama Yasinta Moiwend menggugat".
Karena Hidup dalam Tekanan dan Penekanan, Kebenaran Menjadi Kejahatan Itu "Biasa".
A, Pandangan PASTOR JHON BUNAY: Terkait Film Dokumenter Pesta Barapen Babi.
MENYATAKAN BAHWA FILM PESTA BABI ADALAH “SIMBOL BUDAYA YANG SEDANG TERLUKA” π️πΏ
“Pesta Babi bukan sekadar judul film atau dokumenter biasa. Ia adalah cermin dari luka budaya kita — tanda nyata bahwa identitas, tanah leluhur, dan cara hidup Orang Asli Papua sedang diinjak, dirampas, dan terancam punah.” Pastor Jhon Bunay Pr. (Imam Keuskupan Jayapura, Pendeta Pribumi Papua)
π PENJELASAN PESAN BELIAU:
1. Makna Sebenar “Pesta Babi” bagi Orang Papua “Pesta Babi” atau dalam bahasa adat disebut Awon Atatbon, adalah ritual paling sakral dan mulia bagi suku Muyu, Marind, Awyu, dan masyarakat di wilayah Papua Selatan.
Babi dalam budaya kita bukan hewan biasa, melambangkan:
- Persaudaraan, perdamaian, dan ikatan darah keluarga
- Tingkat kehormatan, kekayaan, dan martabat adat
- Kehidupan yang bergantung sepenuhnya pada kelestarian hutan, tanah ulayat, dan alam yang utuh.
Intinya:
Jika hutan habis, tanah dirampas, dan alam rusak — maka “Pesta Babi” sebagai jati diri budaya pun akan mati. Itulah sebabnya Pastor Jhon menyebut film ini sebagai simbol budaya yang TERLUKA: luka yang nyata, dalam, dan berdarah.
2. Mengapa Dikatakan “Terluka”?
Luka besar ini muncul akibat pembangunan yang berjalan salah dan merugikan. Beliau menegaskan:
“Tanah bagi kami bukan sekadar lahan, bukan komoditas dagang, dan bukan aset yang bisa dijual belikan. Tanah adalah IBU, adalah sumber kehidupan, dan adalah bagian dari diri kami sendiri.”
Proyek Strategis Nasional (PSN), perkebunan tebu, kelapa sawit, dan program lumbung pangan datang mengklaim wilayah adat, membabat hutan, dan mengusir warga asli. Dampaknya sangat parah:
- Budaya perlahan hilang karena tempat hidupnya dirusak
- Tata cara adat tidak bisa dijalankan lagi karena alam sudah berubah
- Suara tokoh-tokoh adat sering dibungkam, dituduh, atau ditekan
- Bahkan tokoh seperti Mama Yasinta dipaksa berubah sikap, dikendalikan, dan suaranya diambil alih oleh pihak yang ia lawan
Luka ini tidak hanya ada di tanah, tapi sudah masuk ke hati, ke jati diri, dan ke masa depan kita sebagai bangsa.
3. Pesan Tegas dan Sikap Gereja
Dalam pernyataannya, Pastor Jhon Bunay menyampaikan 3 poin penting:
✅ Gereja berpihak sepenuhnya pada masyarakat adat.
“Seperti Yesus selalu berpihak pada orang yang lemah dan tertindas, kami pun berdiri bersama masyarakat adat. Kami menolak segala bentuk proyek yang merampas tanah dan merusak budaya leluhur.”
✅ Pembangunan boleh dilakukan, tapi jangan mematikan identitas.
“Membangun wilayah itu boleh dan perlu, tapi syaratnya: jaga air, jaga hutan, dan jaga hak hidup orang asli. Tanah ini diberikan Tuhan secara turun-temurun untuk suku-suku ini, dan tidak boleh diambil atau diatur seenaknya oleh pihak luar.”
✅ Film Pesta Babi adalah teriakan kebenaran.
Film ini tidak bertujuan menghina atau merusak nama baik siapapun. Sebaliknya, film ini membuka aib dan memperlihatkan luka yang disembunyikan, supaya seluruh dunia tahu: ada bangsa yang sedang dirampas hak hidupnya secara perlahan.
4. Kaitan Langsung dengan Kasus Mama Yasinta
Pastor Jhon Bunay menegaskan bahwa apa yang menimpa Mama Yasinta, serta apa yang terjadi di Merauke, Mappi, dan Boven Digoel, adalah bagian dari luka yang sama.
Tokoh adat yang dulu berani berbicara keras menolak perkebunan, tiba-tiba berubah sikap, dikendalikan oleh kuasa hukum dari asosiasi perusahaan sawit, dan terpaksa menyangkal fakta yang pernah ia ucapkan.
Ini bukti nyata: Luka budaya kita sudah menembus sampai ke tulang, sampai ke suara kita sendiri. Jika tokoh adat saja bisa dibungkam dan dikendalikan, berarti budaya kita sedang diperkosa, dicuri, dan dibunuh pelan-pelan.
5. Kesimpulan: Luka adalah Tanda untuk Bangkit
Filosofi utama pesan beliau: Pesta Babi = Simbol Budaya yang Terluka.
Luka itu muncul karena:
- Tanah adat dirampas
- Nilai adat diinjak-injak
- Suara kebenaran dibungkam
- Identitas kita ingin dihapus dari sejarah
Namun, luka yang terbuka ini juga menjadi tanda kebangkitan. Karena ketika luka sudah terlihat jelas oleh semua orang, berarti kita sudah sadar: Kita masih ada, kita masih berjuang, dan kita tidak akan membiarkan budaya ini mati begitu saja.
“Pesta Babi bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal di mana kita berkumpul, bergandengan tangan, dan berjuang mengembalikan segala sesuatu yang telah diambil dari kita.” π΅π¬π
==========================
B, Pandangan Victor Yeimo Terkait Film Dokumenter Pesta Barapen Babi.
Kasus Mama Yasinta Perlu Dilihat dalam Konteks Penindasan dan Hegemoni Kolonial .
Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor Yeimo, menilai bahwa situasi yang dialami Mama Yasinta Moiwend tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai persoalan pilihan atau sikap politik individu semata. Menurutnya, kasus tersebut harus dilihat dalam konteks penindasan berlapis yang dialami masyarakat adat Papua di bawah situasi kolonial.
Victor mengatakan bahwa sikap netral atau pragmatis dengan menyatakan bahwa semua pihak harus menghormati pilihan politik Mama Yasinta perlu dikaji secara kritis. Ia berpendapat bahwa kesadaran politik yang terbentuk dalam ruang kolonial tidak selalu lahir dari kehendak yang sepenuhnya bebas.
"Papa dan Mama Papua yang hidup dalam tekanan politik, ekonomi, dan sosial selama bertahun-tahun tidak dapat dilepaskan dari pengaruh struktur kekuasaan yang membentuk cara berpikir dan bertindak mereka," ujar Victor dalam keterangannya, yang diunggah Facebook pribadinya, Senin (01/06).
Menurutnya, Mama Yasinta merupakan sosok yang selama ini memahami persoalan penghancuran tanah adat dan hutan adat di Papua. Karena itu, ketika dirinya kemudian tampil berulang kali di berbagai media untuk mengkritik film maupun pihak-pihak yang selama ini memperjuangkan isu Papua, publik perlu mempertanyakan apakah sikap tersebut benar-benar lahir dari kesadaran bebas atau merupakan hasil dari tekanan dan hegemoni kekuasaan.
C. Pandangan Yerino Madai Terkait Film Dokumenter Pesta Barapen Babi.
Jangan jahat pada pemikiranmu sendiri, letakan pada kebenaran dihadapanmu. (Yegema/Aitanipa).
Dandhy Dwi Laksono Wartawan dari tanah Jawa Mengungkapkan Kejahatan Negara terhadap bangsa Papua melalui Film Dokumenter Pesta Barapen Babi.
Karena Wartawan Orang Asli Jawa pengungkapan Sebagian Fakta-fakta Pahit di Papua, Wartawan Papua dan sebagian Lembaga Kaget Terbakar Kepahitan Mereka. Akhirnya Mama Yasinta Moiwend menggugat Inisiatif sebelumnya sendiri. "Ini adalah Dorongan Bukan Inisiatif sebelumnya Mama Yasinta Moiwend menggugat".
Film dokumenter Pesta Barapen Babi Bukan Pemicuh Lapor Metro jaya Tetapi Lembaga dan Wartawan Papua di Papua pericuh nya mendorong Mama Yasinta Moiwend ke Jakarta.
Film dokumenter Pesta Barapen Babi, sutradara nya adalah ORANG JAWA sehingga menyoroti secara kasar, brutal, banyak primitif lembaga juga berbondong-mendorong Mama Yasinta Moiwend untuk melaporkan Kombes metro jaya jakarta Itu aneh, atau Tujuan ....?
Sangat keterlaluan Adalah :
Para penanggap, Para Moderator, Para Pengarah, Para panitia di sejumlah Kota di Indonesia dan di Luar Indonesia terbalik penyampaian penjelasan dalam Nonton Bareng Film Dokumenter Pesta Barapen Babi akhirnya Ibu Yasinta Moiwend masuk lapor Metro jaya jakarta.
Wartawan Papua Seringkali Menutupi Kejahatan Pahit Negara Terhadap Bangsa Papua
WARTAWAN PAPUA belum pernah mengungkapkan Akar persoalan Papua Barat sejak tahun 1961 hingga saat ini adalah memang ada, tetapi Bangsa Papua telah mengerti bahwa Bangsa Papua pernah Hidup tidak memiliki Negara selama 33 Tahun adalah jelas, selama bangsa Papua tidak memiliki Negara Keadilan kemanusiaan dan kepedulian bangsa telah terbukti di TANAH INI. Wartawan Papua hanya menghenbokan Pemerintah daerah selama ini adalah Netral, tapi tidak terbukti bahwa Negara dan pemerintah Daerah tidak utamakan manusia Papua adalah fakta, itulah sebabnya Orang Asli Jawa mengungkapkan sebagian cerita Akar persoalan, Banyak yang kaget dan Ibu Yasinta Moiwend masuk lapor Metro jaya jakarta.
Wartawan Menghebokan Pemerintah daerah adalah wartawan-Wartawan Papua tanpa Nurani, yang tidak dekat Nuraninya kewartawanan.
Tidak adanya kemaluan kewartawanan orang asli Papua sehingga menyoroti Sebuh Film Dokumenter Pesta Barapen Babi adalah menutupi keegoisan Wartawan, atau salah memandangi terhadap isi film dokumenter Pesta Barapen Babi tersebut.
Ya memang benar bahwa selama ini Wartawan Papua selalu Menghebokan Pemerintah daerah dalam berita-berita mereka, tidak ada keberpihakan sebagai manusia Papua yang sedang tertindas selama ini adalah memang benar dan sangat-sangat ironisnya yang harus dihargai.
Kekecewaan Wartawan Papua, dan Kecewa Beberapa Lembaga Atas Film Dokumenter Pesta Barapen Babi.
Setelah Pengungkapan fakta dari seorang wartawan dari Tanah Jawa Menjadi Momen terpenting Mama Yasinta Moiwend Masuk lapor Kombes Metro jaya jakarta karena, terbukti menciptakan penekanan.
Aneh atau Tujuan tersendiri..?
Bisikan oleh pengacara milik militer Indonesia itupun harus dan perlu terjadi di Negara demi merampas hak Ulayat Tanah Adat dengan cara dan berbagai macam-macam teknik.
Bagi saya tidak heran,
Lembaga Apapun di di Papua belum pernah memihak para Masyarakat tertindas, masyarakat korban dan terpinggiran, termasuk pengorbanan, dan penindasan di Tanah Papua.
Dandhy Dwi Laksono Wartawan yang satu ini berani mengungkapkan sebagian dari Kejahatan Negara terhadap bangsa Papua akhirnya menyuroti tanpa akhir, dari pada wartawan yang meliput hanya Menghebokan Pemerintah dan Negara tanpa melihat kehidupan rakyat nya , itu terlihat aneh juga kawan-kawan seantero negeri ini.
Terpenting Kejahatan Negara sebagaian terungkap secara luas terhadap negara Indonesia dan bangsa lain di Dunia.
Saya sedikit mengerti dari ini adalah Kejahatan sebelum melebar daerah lain di Papua Penjahat Pertama kali dibentuk adalah Merauke, kejahatan negara Indonesia dibangun pun di Merauke, Kejahatan itu pun masyarakat Merauke Papua Selatan yang merasakan kepahitan awalnya. Mulai dari thn 70an Masyarakat Papua Selatan pembumkaman kejahat yang dihadapinya selama ini dan bertahun-tahun silam ( hal ini memang sakitnya lebih dari pedis yang terdalam).
Masyarakat Merauke sedikit demi sedikit mengungkapkan Kejahatan negara namun penekanan itu selalu muncul, apa lagi mereka ungkapkan lewat Dokumenter timnya mama Yasinta Moiwend dapat pengejaran terhadap nya. Namun banyak yang tidak mengerti dan menghargai terhadap Alam dan manusia di tanah Merauke nyata. Film dokumenter Yang dibuat juga terbukti dapat penekanan, berarti penjajahan terhadap masyarakat dan tanah Merauke masih terpelihara dan masih hidup hingga hari ini. ( Bodok juga pintar, pintar juga keterlaluan bodok nya).
Pemunduran Pengungkapan fakta di PAPUA, Hanya Karena Yasinta Moiwend Lapor Kombes Metro Jaya Jakarta.
Setelah terjadi pengungkapan Fakta-Fakta pahit Kejahatan di Papua Pada akhirnya kemunduran pengungkapan kebenaran dibentuk sebagai filosofner kedangkalan murni masih ada juga di Tanah ini.
Perlindungan kejahatan terhadap Tanah Adat / hak Ulayat Tanah adalah hak seseorang dan yang tidak dibuat-buat melalu pihak lain karena melalui penghormatannya tetapi Hak Ulayat Tanah harus dihormati semua pihak.
Luar biasa, Mama Yasinta Moiwend pengiat Tanah kelahirannya dan sutradara Dandhy Dwi Laksono Wartawan Orang Jawa
yang boleh membantu hingga Menghebokan Negara dan Dunia melalui Film Dokumenter Pesta Barapen Babi nya itu.
Semoga Tuhan dan alam semesta melindungi dihadapan Hukum Indonesia terhadap Mama Yasinta Moiwend dan Dandhy Dwi Laksono, Wartawan dari tanah Jawa.
Banyak orang kaget karena keberanian mengungkapkan kebenaran dan banyak yang terancam karena penekanan terbukti.
Suara mama Papua sering edit dan mengedit untuk memanenkan sesuai suaranya.
Harapan supaya,
akar rumput dari Tanah Papua, Manusia Papua dan manusia-manusia yang hidup di tanah Papua boleh dan lebih hormati Manusia dan tanah leluhurnya, dari pada pujian dan kehormatan pada Negara dan Pemerintah daerah termasuk lembaga lembaga yang penuh dengan manipulatif setinggi langit.
Polemik film Pesta Babi semakin memanas. Setelah namanya ikut dilaporkan oleh Mama Yasinta ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penyalahgunaan data pribadi, sutradara Dandhy Laksono akhirnya buka suara.
==========================
D. Dandhy mengaku, Saya Siap Mengikuti Keputusan Mama Yasinta Moiwend.
Dandhy mengaku kecewa dengan pelaporan tersebut. Ia mengingat kembali bagaimana dirinya dan tim selama ini mendukung perjuangan Mama Yasinta dalam membela tanah adat di Papua. Dalam pernyataannya, Dandhy juga menyoroti dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk menggeser perhatian publik dari substansi yang diangkat dalam film.
"Saat Mama Yasinta muncul ke publik membela tanah ulayatnya, kami yang ikut mendukungnya, menampakkan identitas jelas. Punya nama, punya wajah, punya lembaga.
Kini, Mama Yasinta dimunculkan ke publik oleh mereka yang malu-malu menunjukkan identitasnya. Tanpa nama, tanpa wajah.
Satu-satunya yang tampak jelas adalah siasat agar kita pelan-pelan kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua.
Di sinilah, mereka sedang melecehkan akal sehat kita semua."
Di sisi lain, Mama Sinta mengaku merasa sakit hati karena wajah dan dirinya ditampilkan dalam film tanpa persetujuan. Melalui laporan yang diajukan, ia meminta agar seluruh publikasi dan penayangan film tersebut dihentikan.
Kasus ini masih didalami oleh penyidik. Selain Dandhy Laksono, Ketua LBH Merauke Johnny Teddy Wakum juga ikut dilaporkan dalam perkara yang sama.
Bagaimana menurut Anda? Apakah polemik ini murni soal izin penggunaan data pribadi, atau ada persoalan lain yang lebih besar di baliknya?
Lapuk dalam kebenaran dibentuk sebuah lembaga adalah makhluk bermunafik di Negeri ini.
...............................................................
==========================
E. Forum Penduli Generasi Tolikara Sip Demokrasi Damai
Syalom" Salam Sejatrah Bagi mu Tuhan.
Himbaun Umum
Kami Forum Penduli Generasi Tolikara mengajak Kepada seluruh rakyat papua khususnya di Tolikara, untuk hadir partipasi dalam rangka Pemutaran Flm Dokumenter Pesta Babi, dan diskusi terbuka dengan Thema. " Lindugi Alam Ciptakan Massa Depan" akan laksanakan pada
Hari/Tgl : 03/06/2026
Tempat : Babdara Karubaga
Waktu : Jam 16.00 WP
Agenda
1. Doa bersama
2. Pemutaran flm
3. Diskusi Terbuka
4. Tanya Jawab dan
5. Penutup
Demikian atas perhatian dan partisipasi nya kami ucapkan terima kasih
Pos.Admin
Dokumen:
1. Awal mula Kerusakan
2. Perampasan Tanah Dimulai di Merauke Papua Selatan
3. Demo Masyarakat Adat Dimulai Papua Selatan Merauke
4. Dokumenter Pesta Barapen Babi Dimulai.
5. Dokumenter Film Pesta Barapen Babi Telah Jadi
8. Nobar Film "Pesta Babi" Dimana Mana Mulai dari Indonesia hingga DUNIA
9. Film dokumenter Pesta Barapen Babi Telah sampai Roma Vatikan di Italia
10. Kolonel Indonesia Mulai Membujuk Ibu Yasinta Moiwend Agar Film Dokumenter Pesta Barapen Babi sebagai Penghinaan Negara.
11.Mama Yasinta Moiwend Lapor Kombes Metro jaya jakarta, Bukan Inisiatif Sendiri, tetapi Atas Tekakan dan Paksaan Militer Indonesia
13. Aktivis Mulai Bersusuara
15. Wartawan Dari Tanah Jawa bersuara untuk Tanah dan bangsa PAPUA
==========================
Komentar
Posting Komentar