Filsafat Albert Camus dan Kesadaran yang Datang Tanpa Diundang
Ada sebuah jalan yang sudah kita lewati beribu kali. Toko yang sama. Pohon yang sama. Orang-orang yang bergerak dengan cara yang sudah kita hafal, tanpa perlu berpikir lagi.
Lalu, pada suatu sore yang biasa-biasa saja, sesuatu bergeser. Hanya sepersekian detik. Jalan yang begitu kita kenal itu tiba-tiba terasa asing. Orang-orang di sekitar kita seperti bergerak sendiri, tanpa alasan yang jelas. Kita berdiri di sana, bertanya-tanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?
Lalu perasaan itu hilang. Dunia kembali seperti biasa. Kita meneruskan langkah.
Albert Camus menyebut momen kecil itu sebagai perjumpaan pertama dengan yang absurd. Dan seluruh esainya tentang Sisifus sebenarnya adalah usaha menjelaskan satu hal: mengapa momen sekecil dan sesingkat itu yang biasanya langsung kita lupakan ternyata menyimpan sesuatu yang sangat penting tentang cara manusia menjalani hidupnya.
Camus tidak langsung bicara soal absurditas. Ia mulai dengan sesuatu yang lebih sederhana: cemburu.
Orang yang cemburu tidak sekadar merasakan satu emosi lalu selesai. Ia mulai melihat dunia lewat kacamata kecemburuan itu. Setiap gerak-gerik orang yang dicintainya ia tafsirkan ulang. Setiap kenangan lama tiba-tiba punya arti baru yang mencurigakan. Ia tidak hanya merasa cemburu ia hidup di dalamnya.
Hal yang sama, kata Camus, terjadi pada absurditas. Ia bukan sekadar perasaan yang lewat sebentar lalu hilang. Begitu kita benar-benar melihatnya, ia mengubah cara kita memandang segala sesuatu. Dunia yang sama, tapi tidak lagi terasa sama.
Camus lalu memberi satu perumpamaan yang menarik: tentang betapa kita sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal orang lain.
Bayangkan seorang aktor. Kita sudah menontonnya seratus kali, di seratus peran berbeda. Kita hafal cara ia menahan tangis, cara suaranya berubah saat sedih, cara matanya bicara tanpa kata. Tapi apakah kita mengenal dirinya yang sesungguhnya, ketika lampu panggung padam?
Tentu tidak. Yang kita kenal hanyalah peran-peran yang ia pilih untuk ditampilkan. Siapa dia yang sebenarnya tetap tersembunyi.
Camus berkata: begitulah cara kita mengenal semua orang termasuk orang-orang yang paling kita cintai. Yang sampai kepada kita hanyalah tindakan mereka, kebiasaan mereka, kesan yang mereka tinggalkan. Bukan inti diri mereka yang sesungguhnya. Selalu ada jarak tipis yang tak bisa kita tembus, bahkan dengan orang yang tidur di sebelah kita setiap malam.
Ada satu momen kecil yang mungkin sudah pernah kita alami tanpa pernah kita beri nama.
Seseorang bertanya:
"Sedang memikirkan apa?"
Kita menjawab: "Tidak ada apa-apa."
Kadang itu jawaban yang tidak sepenuhnya jujur kita memikirkan sesuatu, tapi malas menjelaskannya. Tapi kadang, kata Camus, jawaban itu benar-benar jujur. Ada saat-saat pikiran kita seperti berhenti. Bukan karena kosong, tapi karena sesuatu yang lebih aneh sedang terjadi: kekosongan itu sendiri terasa punya berat.
Kegiatan harian kita bangun, mandi, makan, bekerja, pulang, tidur tiba-tiba terasa seperti potongan-potongan yang tidak lagi saling menyambung. Kita mencari alasan yang mengikat semuanya jadi satu cerita, dan tidak menemukannya. Di titik itulah, kata Camus, absurditas untuk pertama kalinya mengetuk pintu. Bukan dengan drama. Hanya dengan keheningan yang terasa berat.
Camus menggambarkan ritme hidup modern dengan tepat: bangun, naik kendaraan, empat jam kerja, makan, kendaraan lagi, empat jam kerja lagi, tidur. Lalu Senin, Selasa, Rabu, dengan irama yang sama terus berulang.
Kita semua kenal ritme ini. Sebagian dari kita, tanpa sadar, sudah menjadi bagian dari ritme ini.
Biasanya semua berjalan lancar, karena kebiasaan memang efisien. Tubuh bergerak sendiri mengikuti jalur yang sudah terbentuk, dan pikiran tidak perlu bekerja keras. Kita berfungsi kata yang, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya agak mengerikan untuk menggambarkan sebuah kehidupan.
Tapi suatu hari, entah kenapa, satu kata kecil muncul.
"Mengapa?"
Bukan pertanyaan besar dengan petir dan guntur. Hanya beberapa huruf yang menusuk masuk ke rutinitas yang selama ini tidak pernah mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa kita melakukan semua ini setiap hari? Untuk apa?
Di sinilah, kata Camus, sesuatu yang penting terjadi. Rasa lelah yang biasanya hanya berarti "tubuh perlu istirahat" tiba-tiba berubah fungsi. Ia menjadi pintu masuk bagi kesadaran. Camus menulis: segala sesuatu dimulai dari kesadaran, dan tidak ada yang bernilai kecuali melaluinya. Rasa lelah yang membawa pertanyaan "mengapa" ini adalah sebuah persimpangan, kembali ke rutinitas yang lama, atau benar-benar terbangun dengan segala konsekuensi yang menyertainya.
Ada satu pengalaman yang jarang kita bicarakan terus terang, walau hampir semua orang pernah mengalaminya.
Suatu hari kita menyadari umur kita. Bukan sekadar mengingat angkanya, tapi benar-benar merasakannya. Kita sadar bahwa kita sudah berada di suatu titik dalam hidup yang, cepat atau lambat, akan berakhir. Selama ini kita hidup untuk "besok" untuk masa depan yang selalu terasa lebih luas dan lebih baik. Tapi tiba-tiba, "besok" bukan lagi ruang kosong penuh harapan. Ia adalah satu langkah lagi menuju akhir.
Camus menyebutnya sebagai pemberontakan tubuh melawan waktu dan itulah, katanya, yang absurd. Bukan takut pada kematian itu sendiri, tapi kesadaran bahwa waktu terus berjalan tanpa mau berunding dengan kita. Tidak ada tawar-menawar. Waktu bekerja terus, peduli atau tidak peduli kita setuju.
Ada juga keterasingan yang lebih halus, keterasingan dari alam itu sendiri.
Pernahkah kita menatap sesuatu yang sangat kita kenal gunung di kejauhan, langit sore, dahan pohon yang bergoyang pelan dan tiba-tiba merasa betapa tidak pedulinya semua itu terhadap kita? Bukan permusuhan. Sesuatu yang lebih dingin dari itu: alam sama sekali tidak tahu kita ada. Gunung itu tidak menyapa kita. Langit tidak memperhatikan kita.
Selama ini, tanpa sadar, kitalah yang memberi makna pada dunia di sekitar kita. Kita menyebut matahari terbenam itu "indah", seolah ia melakukan sesuatu untuk kita. Tapi menurut Camus, semua makna itu bukan milik dunia melainkan milik kita sendiri, yang kita "pasangkan" pada dunia. Dan pada saat-saat tertentu, makna itu lepas begitu saja. Dunia menampakkan wajah aslinya: padat, dingin, dan sama sekali tidak membutuhkan kita untuk tetap ada.
Di jantung setiap keindahan, tulis Camus, ada sesuatu yang tidak manusiawi. Saat kita merasakan jarak itu betapa dunia terus berjalan dengan atau tanpa kita itulah bentuk absurditas yang paling murni.
Ada satu gambaran lagi yang begitu tepat sehingga siapa pun yang membacanya pasti pernah mengalami versinya sendiri.
Kita melihat seseorang berbicara lewat telepon di dalam mobil, di balik sekat kaca. Kita bisa melihat wajahnya, gerak tangannya, bibirnya yang bergerak tapi tidak bisa mendengar suaranya sama sekali. Seluruh percakapannya jadi seperti pantomim yang tidak bisa dimengerti.
Dan sesaat, muncul pertanyaan aneh, mengapa orang itu hidup? Bukan dengan kebencian, tapi dengan semacam heran yang dingin. Apa sebenarnya yang mendorongnya bergerak seperti itu, hari demi hari?
Camus menyebut perasaan ini "mual" rasa tidak nyaman di hadapan sisi tidak manusiawi dari manusia itu sendiri. Bukan karena orang itu aneh, justru karena ia begitu biasa, begitu rutin, sehingga kebiasaannya sendiri tiba-tiba terasa ganjil kalau diperhatikan dari jarak tertentu.
Lalu Camus menambahkan sesuatu yang mengejutkan, orang asing yang sama itu juga bisa kita temui di cermin. Bisa dilihat ketika melihat foto lama kita dan merasa, sesaat, itu bukan kita? Atau menatap wajah kita sendiri terlalu lama sampai terasa milik orang lain?
Itulah bentuk absurditas yang paling pribadi, keterasingan dari diri sendiri.
Akhirnya Camus sampai pada topik yang paling berat: kematian.
Ia memulainya dengan kalimat yang menusuk, semua orang hidup seolah tidak ada yang tahu bahwa mereka akan mati.
Kita semua tahu kita akan mati. Tidak ada yang bisa membantah itu. Tapi anehnya, dalam keseharian, kita hidup seolah kematian adalah urusan orang lain sesuatu yang jauh dan tidak nyata. Mengapa? Karena kita tidak punya pengalaman langsung tentang kematian kita sendiri. Yang kita tahu hanyalah kematian orang lain, dan itu kita saksikan dari luar bukan dari dalam.
Yang membuat kematian menakutkan bukan rasa sakitnya, tapi sisi "matematisnya". Waktu terus berjalan, dan cepat atau lambat perhitungan itu akan selesai. Kita tidak bisa mengubah angkanya. Kita tidak bisa menghentikan hitungannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu, tanpa tahu kapan.
Di bawah sorotan takdir yang mematikan itu, menurut na Camus, kegunaan hidup menjadi jelas. Tidak ada aturan moral, tidak ada usaha, yang bisa dibenarkan di hadapan hukum kejam yang mengatur nasib kita.
Yang membuat filsafat absurd Albert Camus ini terasa dekat adalah karena semua yang ia gambarkan begitu familiar. Momen rutinitas terasa berlubang. Momen wajah sendiri di cermin terasa milik orang lain. Momen langit yang indah tiba-tiba terasa acuh. Momen usia terasa seperti detak yang tidak pernah berhenti.
Kita semua pernah mengalaminya. Kita hanya tidak punya kata-kata yang tepat untuk itu, jadi kita menyimpannya begitu saja, dan lama-lama lupa bahwa kita pernah merasakannya.
Bagi Camus, ini bukan tanda ada yang salah dengan kita. Justru sebaliknya ini tanda bahwa, untuk sesaat, kita benar-benar sadar. Kita melihat dunia tanpa penyaring nyaman yang biasa kita pasang untuk melindungi diri.
Camus tidak berhenti di situ. Ia tahu, menggambarkan absurditas saja tidak cukup. Pertanyaan sesungguhnya adalah: setelah kita melihat semua ini, apa yang kita lakukan dengan penglihatan itu?
Ia bahkan mengatakan dengan jelas: ia tidak tertarik pada "penemuan" absurditas, karena hal itu sudah lama ditemukan orang lain, sudah ada di banyak buku dan percakapan. Yang menarik baginya adalah akibatnya.
Kalau kita benar-benar mengakui semua ini ketidakpedulian dunia, waktu yang terbatas, jarak yang tak tertembus antara kita dan orang lain, kepastian kematian lalu ke mana kita melangkah setelahnya?
Apakah kita menyerah? Berpura-pura tidak melihat dan kembali ke rutinitas yang nyaman? Mencari keyakinan yang menawarkan makna secara instan? Atau adakah cara lain yang lebih jujur, lebih berani?
Pertanyaan inilah yang terus dikejar Camus, sampai pada Sisifus yang ia bayangkan bahagia mendorong batunya dan jawabannya, seperti yang kita tahu, jauh lebih menguatkan daripada yang mula-mula kita duga.
Kita hidup di zaman yang menyediakan banyak sekali cara untuk tidak merasakan absurditas. Notifikasi yang terus berdatangan. Konten yang tidak pernah habis. Percakapan yang bisa berlangsung dua puluh empat jam, tentang apa saja, dengan siapa saja.
Barangkali sebagian dari kesibukan itu adalah cara kita menghindari momen ketika dunia menampakkan dirinya apa adanya padat dan sedikit asing atau ketika kita berdiri di depan cermin sedikit terlalu lama.
Camus tidak menyuruh kita hidup terus-menerus dalam krisis. Tapi ia menitipkan satu hal sederhana: jangan buru-buru lari dari momen-momen itu. Biarkan pertanyaan "mengapa" itu bertahan sebentar lebih lama, sebelum kita tenggelamkan lagi ke dalam kesibukan.
Sebab di dalam pertanyaan itu di dalam keheningan yang tiba-tiba terasa punya arti ada sesuatu yang berharga: kesadaran kita sendiri, dalam bentuknya yang paling murni. Dan dari sanalah, kata Camus, segalanya bisa dimulai.
Di setiap tikungan jalan, rasa absurd bisa menampar wajah siapa saja. Dan ketika manusia bertemu dan menghayati itu, orientasi kehidupan dan rutinitas ya, akan berubah 180 derajat.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar