Jalan Sunyi Viktor Yeimo, Banyak Luka Bangsaku Selama Hidupku Seakan Itu Luka Batin Saya, Namun Tidak Akan lupah luka bernama Mama Yasinta Moiwen.

Artikel, Jalan sunyi 
Viktor Yeimo 
Jalan Sunyi, 17 Juli 2026
00.40
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura, Ada satu sumpah yang saya pilih jauh sbelum jln perjuangan ini membawa saya ke ruang-ruang interogasi, penjara, ruang sidang, dan pengasingan, itu adalah memikul luka bangsaku sebagai lukaku sendiri. Dan satu dari sekian luka yang terus menyayat batin ini adalah luka bernama Mama Yasinta Moiwen.

Sebulan berlalu sa di Jakarta dg satu kerinduan: bawa pulang Mama Yasinta, kembalikan mama pada tanah tempat mm berjuang. Sa ingin duduk bersamanya, mendengar suaranya tanpa sorotan kamera, menggenggam tanganmu, dan berkata:

"Mama, mari tong pulang. Di tanah air masih ada kopu anak2 bangsa yg mencintaimu dan tra akan berhenti perjuangkan martabat dan harga diri."

Tapi dalam sapu hati terus ada pertanyaan: sudahkah sa mampu memastikan seorang mama Papua hidup dg layak dan bermartabat di atas tanah leluhurnya sendiri?

Seharusnya seorang mama Papua tidak pernah berjalan sendirian menghadapi kerasnya kehidupan. Seharusnya bangsanya sendiri hadir lebih dahulu utk memastikan ia hidup merdeka, berkecukupan, dan dihormati.

Jika hari ini engkau harus menghadapi pergulatan besar, sa merasa ada bagian dari kegagalan itu yg juga menjadi tanggung jawab sa.

Itulah sebabnya sa tidak sanggup menghakimimu, mama. Sa hanya sanggup menangis bersama luka bangsaku yang bernanah di sekucur tubuhku.

Sa jg tau bahwa kolonialisme juga selalu hadir sbg wajah penolong setelah ia berhasil buat kita rapuh: ketika hidup sulit, pilihan menyempit, dan harapan menipis. Dia tdk hny rebut tanah hutanmu, tetapi juga suara, pengalaman, juga penderitaanmu.

Lantas karenanya, sebulan lalu sa bertahan dan bertarung nyawa untukmu di Jakarta. Sa lihat begitu banyak penilaian, cercaan, dan hinaan kepadamu di setiap dinding maya. Banyak orang menilai dari kejauhan tanpa memahami seluruh perjalanan hidupmu.

Tetapi di mataku, engkau tetap seorang mama Papua.

Mama dari Kampung Baad, Merauke. Seorang perempuan yang tumbuh bersama tanah leluhur, mengenal hutan, sungai, dan kehidupan masyarakat adat.

Engkau bukan sekadar nama dlm sebuah polemik. Engkau adalah wajah dari banyak mama Papua yg berada di antara perjuangan mempertahankan martabat leluhur dan kerasnya kehidupan yg sering memaksa mereka memilih dalam ruang yg sempit.

Ketika sa dengar mama dibujuk ke Jakarta, sa mmg datang bukan utk menghakimi atau memaksamu mengikuti jalan kami. Sa datang utk bertemu, mendengar langsung suaramu, dan memastikan mm tdk menghadapi semua ini sendirian.

Lebih dari sebulan sa berada di Jakarta. Sa mencari jalan tuk bertemu dengan ko, tanpa kamera, tanpa politik, tanpa penghakiman. Tetapi kesempatan itu tra pernah datang.

Yang paling berat bukan kegagalan bertemu denganmu, tetapi hidup dalam kewaspadaan yg tidak pernah berakhir. Hari2 terakhir sa di Jakarta menjadi perjalanan yg penuh tekanan dan kewaspadaan.

Sa hrs berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu penginapan ke penginapan berikutnya. Tidak ada malam yg benar2 tenang. Tidak ada ruang yang sepenuhnya membuatku merasa aman. Hindari mata2 di pusat kolonial dg operasi senyap yg sudah ku anggap permainan petak umpet. 

Harus dua kali mengganti telepon genggam. Sa hrs berpindah tempat tinggal, bahkan meninggalkan hp2 di Jakarta karena merasa itu keputusan terbaik agar perjalanan ini tetap aman.

Yang paling berat bukan rasa takut, tetapi rasa sendiri. Sa lihat sebagian orang yg dahulu dekat mulai menjaga jarak. Ada yg memilih diam, ada yg berhati-hati. Sa tidak menyalahkan mereka, karena setiap org memiliki batas keberanian dan ketakutannya sendiri.

Namun tetap ada luka ketika sebuah perjuangan harus dilalui seorang diri. Ketika keadaan semakin sulit, sa berusaha keluar dari Jakarta. Sa sempat mencoba berangkat melalui Bandara Halim, tetapi rencana itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. akhirnya keluar dari bandara dan melanjutkan perjalanan dengan bantuan seorang sopir yang bersedia membantu.

Aku hanya ingin bertahan. Beberapa waktu kemudian sa akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim yang dipimpin oleh kwn2 yg tdk hny punya nurani tapi nyali hingga meninggalkan Jakarta dan tiba di Yogyakarta.

Perjalanan itu menguras tenaga, pikiran, dan menguji andrenalin. Tetapi ironi terbesar bukanlah perjalanan itu. Ironinya adalah banyak orang lebih sibuk memperdebatkan siapa yang terlibat dalam peristiwa ini, daripada melihat luka yang menjadi akar dari semuanya.

Sa kembali menulis catatan ini dari tanah Papua, dari tanah yang sejak kecil mengajarkanku arti kehilangan, arti bertahan, dan arti mencintai sesuatu yang terus-menerus dilukai.

Bukan utk mencari simpati. Bukan pula utk membenarkan diri ini. Sa hanya ingin meninggalkan jejak tentang perjalanan batin seorang anak Papua yg memilih memikul luka bangsanya sendiri, meski jalan itu penuh sepi, ancaman, dan pengorbanan yg tak selalu dipahami orang lain.

Bisakah kita rasakan pergulatan mama2 yg dipaksa memilih antara mempertahankan martabat atau sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya. Itu bukankah buat hati ikut tercabik. Sebab bagi kami, tanah bukan hanya ruang hidup. Tanah adalah tubuh, ingatan, dan harga diri.

Sebulan lebih sa menyusuri jalan2 ibukota penjajah. Di antara gedung2 tinggi, jalanan yg padat, dan keramaian yg tak pernah berhenti, sa mencarimu, Mama. Jakarta terasa asing bagiku. Kota itu besar, keras, dan bergerak terlalu cepat. Orang2 berlalu-lalang dg urusan masing2, seolah tak ada yg benar2 peduli. Namun sa tetap mencari. Sa bertanya. Sa menunggu. Sa berharap. Setiap sudut kota seakan menyimpan kemungkinan kecil bahwa sa akan menemukanmu, dan membawa pulang.

Mungkin engkau dijanjikan kehidupan yang lebih baik. Mungkin ada orang yang datang membawa kata2 manis, seolah mereka tahu apa yang terbaik untukmu. Mungkin kebutuhan hidup memaksamu menerima uluran tangan yang tidak pernah mampu kuberikan. Sa tidak pernah marah kepadamu. Tidak sekali pun sa menyalahkanmu. Sebab sa tahu, sering kali rakyat kecil tidak punya banyak pilihan selain menerima apa yg datang, meski hati mereka sebenarnya menolak.

Yang bikin hancur batin ini justru kenyataan bahwa sa gagal menjadi anak bagi bangsaku sendiri. Sa tidak mampu memastikan seorang mama pejuang hidup dg layak sehingga orang lain dtg mengambil tempat yg seharusnya menjadi tanggung jawabku. Kegagalan itu terasa seperti batu besar yg terus tekan sapu dada. Sa bertanya pd diri sendiri: apa arti perjuangan jika seorang mama masih hrs menanggung beban sendirian? Apa arti kepemimpinan jika rakyat yg sa cinta tetap dibiarkan rapuh di hadapan kekuasaan yg lebih besar?

Perasaan bersalah itu membuat sa terus berjalan.

Hari demi hari kulalui di Jakarta tanpa ketenangan. Sa berpindah dari satu penginapan ke penginapan lain, dari satu tempat singgah ke tempat lain, seolah hidupku sendiri tak lagi memiliki alamat tetap. Setiap malam sa sulit memejamkan mata. Tubuhku kelelahan, tetapi pikiranku terus berjaga. Sa memikirkan banyak hal: keselamatan diriku, keselamatan orang2 yg membantuku, nasib perjuangan yg belum selesai, dan wajah2 rakyat yg terus menunggu pembebasan yg tak kunjung datang.

Yang paling berat ternyata bukan rasa lelah. Yang paling berat adalah kesendirian. Sejak keluar dari penjara di Jayapura, setiap malam tim khusus yang mengincarku justru semakin beringas membuntuti setiap keluar masukku. Bayang2 mereka seperti tak pernah benar2 pergi. Sa tahu mereka mengamati, menunggu, mencari celah untuk merenggut sapu nyawa dg operasi senyapnya.

SA sudah diperingatkan berkali-kali utk berhati-hati. Sa belajar menoleh sebelum melangkah, mendengar sebelum percaya, dan diam ketika keadaan menuntut z utk tetap hidup. Tak ada pidana yg menjeratku, tetapi seluruh langkah perjuanganku bagi bangsa justru dianggap ancaman keamanan nasional oleh mereka yg menjaga perusakan, perampokan, dan penjajahan di tanah Papua.

Sa merasa telah mengganggu kenyamanan banyak orang. Kawan2, adik2, bahkan mereka yg selama ini kuanggap tempat berlindung mulai menjauh. Ada yang diam karena takut, ada yang menghindar karena tak ingin terseret, ada pula yang memilih berpaling demi keselamatan dirinya sendiri. Sa memahami bahwa setiap orang memiliki batas ketakutannya sendiri. Karena itu sa tra menyimpan kebencian kepada siapa pun. Sa tra ingin memaksa orang lain memikul risiko yg bukan miliknya. Sa hanya belajar bahwa jalan seorang pemimpin sering kali harus ditempuh dalam sunyi, ketika tepuk tangan tak lagi terdengar dan yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa langkah itu tetap harus diambil.

Pada akhirnya yg sa bawa pulang hanyalah tubuh yang lelah, mata yang kurang tidur, dan hati yang penuh luka. Namun di balik semua itu, ada juga sesuatu yang tak bisa diambil siapa pun: keyakinan bahwa perjuangan ini belum selesai, dan bahwa tanah ini masih membutuhkan suara2 yg berani berdiri untuknya.

Kini, ketika sa tulis catatan ini dari tanah Papua, sa kembali memandang gunung, hutan, sungai, dan laut yg membesarkan sa. Semua itu bukan sekadar pemandangan bagiku. Mereka adalah saksi hidup dari perjalanan panjang sebuah bangsa yg terus berjuang mempertahankan martabatnya.

Gunung2 itu mengajarkanku keteguhan. Hutan mengajarkanku kesabaran. Sungai mengajarkan sa bahwa hidup hrs terus mengalir meski berkali-kali dihalangi. Laut mengajarkanku keluasan hati untuk tetap mencintai, bahkan ketika luka datang dari segala arah. Semua itu mengingatkanku mengapa sa memilih jalan yg berat ini.

Sa tra tahu bagaimana sejarah akan menilai hidupku. Sa tra tahu apakah orang akan mengerti mengapa aku terus berjalan meski berkali-kali diterpa ketakutan. Sa tidak tahu apakah mereka akan melihat air mata yg kusembunyikan, atau memahami kesunyian yg harus kutanggung.

Tetapi jika suatu hari nanti catatan ini ditemukan, biarlah orang tahu bahwa di balik setiap perjuangan selalu ada manusia biasa yg pernah merasa takut, pernah merasa sendiri, pernah menangis dalam diam, namun tetap memilih berdiri karena cintanya kepada tanah airnya.

Papua bukan sekadar tempat sa dilahirkan. Papua adalah alasan mengapa aku terus bertahan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Jadwal Siaran Langsung Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup I.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi