Kisah Cerita Bapak Filep Karma: Bapak Bangsa Papua yang Berjuang Tanpa Senjata
Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Holandia Jayapura -Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jayapura, Nama lengkapnya Filep Jacob Semuel Karma — banyak orang Papua memanggilnya dengan akrab Felep Karma, dan menyematkan gelar yang paling ia hargai: Bapak Bangsa Papua. Selama hampir setengah abad, ia berjalan di jalan yang paling sulit: menuntut kemerdekaan tanah leluhurnya, tapi tidak pernah sekali pun mengajarkan atau menggunakan kekerasan. Baginya, bendera bukan alasan untuk berperang — melainkan alasan untuk berdiri tegak dengan kepala tinggi, meski harganya adalah belasan tahun di balik jeruji besi.
Dari Anak Pejabat Jadi Orang yang Paling Diburu Negara
Filep lahir pada 14 Agustus 1959 di Jayapura, dari keluarga yang sangat terpandang di tanah Biak. Ayahnya, Andreas Karma, adalah bupati yang disegani — pernah memimpin Wamena, Serui, dan menjadi wakil bupati Jayapura di era Orde Baru. Masa kecil Filep penuh kenyamanan: ia sekolah di sekolah terbaik, kuliah Ilmu Politik di UNS Solo, lalu lanjut studi manajemen di Asian Institute of Management, Manila, Filipina .
Pengalaman di Solo dan Manila-lah yang mengubah segalanya. Di Jawa, ia merasakan sendiri rasisme yang tajam: orang memanggilnya "orang hitam", "primitif", menganggap orang Papua hanya pantas jadi pembantu. Di Filipina, ia melihat bagaimana rakyat bisa menjatuhkan diktator Marcos lewat aksi damai tanpa setetes darah pun. Ia pulang ke Papua pada 1998 dengan satu keyakinan: perjuangan Papua tidak butuh senjata, tapi butuh martabat .
Saat itu Orde Baru baru saja runtuh. Ruang kebebasan terbuka sejenak. Filep yang saat itu bekerja sebagai PNS di Diklat Provinsi Papua, memutuskan: sudah waktunya menyuarakan apa yang selama ini hanya dibisikkan orang di dalam rumah.
2 Juli 1998: Biak Berdarah dan Ujian Pertama
Di pulau asalnya, Biak, Filep mengumpulkan ratusan orang di bawah Menara Air. Mereka berkumpul dengan damai, menyanyikan lagu kebangsaan Papua "Hai Tanahku Papua", lalu mengibarkan Bendera Bintang Kejora — simbol kemerdekaan yang dideklarasikan rakyat Papua pada 1 Desember 1961, sebelum tanah ini diserahkan ke Indonesia .
Aksi damai itu berubah menjadi mimpi buruk. Pada 6 Juli 1998, tentara mengepung menara itu, menembaki massa yang tidak bersenjata, menyeret orang ke kapal laut, dan membuang mayat-mayat ke tengah samudera. Versi resmi menyebut 8 orang tewas — tapi warga Biak menemukan 32 mayat yang hanyut di pantai-pantai sekitar dalam minggu-minggu berikutnya. Peristiwa ini kini dikenang sebagai Biak Berdarah .
Filep tertembak peluru karet di kaki, selamat nyawa, lalu ditangkap. Ia dihukum 6,5 tahun penjara atas tuduhan penghasutan. Ia hanya menjalani 1,5 tahun, lalu bebas pada 1999 — tapi ia tidak berubah sedikit pun. Begitu keluar dari sel, hal pertama yang ia katakan kepada wartawan adalah: "Saya tidak menyesal. Bendera itu adalah jiwa bangsa kami."
1 Desember 2004: Bendera yang Menghabiskan 11 Tahun Hidupnya
Enam tahun berlalu. Filep yakin Otonomi Khusus (Otsus) yang ditawarkan pemerintah hanya omong kosong — ia melihat uang triliunan mengalir, tapi rakyat Papua tetap miskin, tetap diperlaku seperti orang kelas dua. Maka pada 1 Desember 2004, di Lapangan Trikora, Abepura, Jayapura, ia kembali melakukan hal yang sama: mengibarkan Bintang Kejora di hadapan ratusan pelajar dan mahasiswa, berpidato lantang menolak Otsus, dan menegaskan satu-satunya jalan bagi Papua adalah merdeka .
Polisi menyerbu. Filep dipukuli, diinjak-injak, diseret ke mobil tahanan. Bersama aktivis muda Yusak Pakage, ia diadili dengan tuduhan makar — secara terbuka memusuhi pemerintah Indonesia. Pada 27 Oktober 2005, hakim menjatuhkan vonis yang mengguncang dunia: 15 tahun penjara — tiga kali lebih berat dari tuntutan jaksa.
Di dalam penjara Abepura, hidup Filep bukanlah mudah. Ia disiksa, dikurung di sel sempit, dilarang bertemu keluarga berbulan-bulan. Kesehatannya hancur: penyakit prostat, lutut rematik yang parah, sakit punggung yang membuatnya nyaris tidak bisa berjalan. Berkali-kali dokter menyarankan operasi besar di Jakarta, tapi birokrasi sengaja dipersulit — seolah negara berharap ia mati perlahan di dalam sel .
Tapi penjara tidak pernah bisa memecahkannya. Di dalam sana:
- Ia tetap memakai pin Bintang Kejora di dadanya setiap hari, meski dilarang keras oleh sipir.
- Ia menulis memoar yang menjadi buku paling terkenal tentang penderitaan rakyat Papua: Seakan Kitorang Setengah Binatang — judulnya diambil dari kata-kata kasar yang sering diterima orang Papua: diperlakukan bukan sebagai manusia, tapi setengah binatang.
- Ia mencatat setiap kasus penyiksaan di penjara, lalu mengirimkannya ke Human Rights Watch — laporannya menjadi bukti dunia internasional tentang pelanggaran HAM di Papua .
- Ia menolak grasi bersyarat dari Presiden SBY dua kali. Alasannya tegas: "Saya tidak melakukan kejahatan. Mengapa saya harus meminta maaf dan mengakui bersalah hanya untuk keluar dari penjara? Saya mau dibebaskan tanpa syarat, atau tidak sama sekali." Karena prinsip inilah Amnesty International menetapkannya sebagai Tahanan Hati Nurani Dunia.
Rakyat Papua mulai memanggilnya Nelson Mandela-nya Papua: orang yang bersedia membayar seluruh hidupnya demi kebenaran, tanpa pernah mau membalas kejahatan dengan kejahatan.
Bebas, Tapi Tetap Musuh Negara
Setelah menjalani 11 tahun penjara — hampir sepertiga masa hidupnya — Filep akhirnya dibebaskan secara tanpa syarat pada 19 November 2015 atas perintah Presiden Jokowi. Saat keluar dari gerbang penjara Abepura, janggutnya sudah memutih panjang, badannya makin kurus, tapi senyumnya sama seperti 11 tahun lalu: tegas, tanpa dendam .
Orang mengira ia akan tenang, pensiun dari perjuangan. Tidak. Hanya beberapa tahun kemudian, pada 2018, ia ditangkap lagi di bandara Sentani — hanya karena tidak mau melepas pin Bintang Kejora yang menempel di bajunya. Prajurit TNI AU memakinya dengan kata-kata rasis, menahannya berjam-jam di ruang keamanan. Filep diam saja, tidak melawan, hanya berkata pelan: "Ini lambang bangsa saya. Saya tidak akan pernah melepasnya sampai mati."
Ia terus berkeliling kampung, berbicara kepada anak-anak muda: jangan ambil senjata. Jangan balas dendam. Perjuangan kita adalah perjuangan martabat. Kita menang bukan dengan membunuh musuh, tapi dengan membuat dunia melihat bahwa kita lebih manusiawi daripada mereka yang menindas kita.
1 November 2022: Laut yang Membawanya Pergi
Filep sangat mencintai laut. Sejak kecil ia suka menyelam — baginya laut adalah rumah kedua, tempat ia bisa tenang jauh dari teror dan tekanan negara. Ia pernah hilang terseret arus saat menyelam pada Desember 2021, lalu ditemukan selamat sehari kemudian di pantai terpencil. Orang berkata: laut masih sayang padanya.
Tapi pada pagi 1 November 2022, nelayan menemukan tubuhnya tergeletak tak bernyawa di Pantai Base-G, Jayapura — masih mengenakan pakaian selam lengkap. Versi resmi kepolisian dan keluarga dekat: ia tenggelam karena arus kuat saat menyelam sendirian, tidak ada tanda kekerasan pada tubuhnya. Keluarga menolak autopsi, meminta semua pihak menghormati kepergiannya dengan damai — sesuai pesan terakhir Filep yang selalu berkata: "Sudah terlalu banyak darah tumpah di tanah ini. Jangan ada korban lagi karena saya."
Namun banyak orang Papua tidak percaya begitu saja. Pantai Base-G adalah tempat yang sama di mana puluhan tahun lalu tokoh budaya Papua Arnold Ap dibunuh dan mayatnya dibuang ke sana. Banyak yang bertanya: bagaimana seorang penyelam berpengalaman bisa tenggelam di perairan yang ia kenal seumur hidup? Hingga hari ini, tanya itu belum pernah terjawab tuntas .
Ribuan orang dari seluruh penjuru Papua datang mengantar jenazahnya ke Biak. Di tanah kelahirannya, ia dimakamkan dengan upacara adat yang khidmat — sebagai Bapak Bangsa yang pulang ke rumah leluhurnya.
Warisan yang Tidak Akan Pernah Mati
Filep Karma tidak pernah memegang senjata. Ia tidak pernah memerintahkan satu orang pun untuk menyerang aparat. Ia hanya melakukan satu hal berulang kali: berdiri tegak, mengibarkan bendera, dan berkata jujur tentang apa yang terjadi pada rakyatnya.
Harga yang ia bayar mahal sekali: 13 tahun total di penjara, kesehatan hancur, keluarga teraniaya, nyawanya sendiri berakhir dengan tanya yang belum usai. Tapi ia berhasil melakukan satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh semua senjata di dunia: ia membuat nama Papua terdengar di setiap sudut bumi.
Sampai hari ini, di setiap aksi damai di Papua, di setiap peringatan 1 Desember, orang selalu menyebut namanya. Bagi generasi muda Papua, ia adalah bukti nyata: perjuangan yang benar tidak harus keras untuk menjadi kuat.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar