KISAH PILUH HANA FATIMAH
Abang Belum Pulang
(Part 2)
Penulis: Hanna Fatimah
Mentari pagi mulai meninggi, mengusir embun yang sejak subuh bergelayut di pucuk-pucuk rumput. Jalan tanah yang membelah kebun masih basah oleh sisa hujan semalam, sementara angin tipis membawa aroma dedaunan dan tanah yang lembap. Di persimpangan kecil itulah, dua bocah bersaudara kini harus memilih arah yang berbeda.
Sebelum jalan mereka benar-benar terpisah, Dafa sempat menoleh ke belakang. Dilihatnya Fajar berjalan pelan menuju sekolah, tas kecil di punggungnya, langkah yang masih menyimpan keraguan. Dafa menghela napas, lalu berjanji dalam hati, janji yang tak pernah ia ucapkan kepada siapa pun, bahwa apa pun yang terjadi hari ini, ia harus pulang dengan keranjang kosong. Kosong berarti beras. Kosong berarti lauk. Kosong berarti mereka bisa makan sesuap lebih banyak.
Dengan tekad yang jauh lebih besar daripada tubuh kecilnya, Dafa pun melangkah meninggalkan persimpangan itu menuju pasar.
Namun pasar pagi itu tak seramah yang ia bayangkan. Matahari kian meninggi, sementara bakul di depannya masih nyaris penuh. Hanya beberapa ikat bayam dan kangkung yang berpindah tangan. Selebihnya tetap menunggu, termasuk pucuk-pucuk pakis yang perlahan menghitam dan mulai layu, seolah ikut menyimpan letihnya hari.
Dafa menutupi sayur-sayurnya dengan daun pisang, berusaha melindunginya dari terik siang. Setiap kali terdengar langkah kaki mendekat, ia segera menyingkap penutup itu, lalu menawarkan dagangannya dengan senyum tipis, senyum yang dipaksakan dari bibir yang mulai mengering karena seharian belum setetes pun air menyentuh tenggorokannya.
Perutnya kembali berontak. Ia teringat sepiring nasi dingin sisa semalam yang tadi pagi dibaginya dengan hati-hati: sebagian untuk neneknya yang harus minum obat, sebagian lagi untuk Fajar dengan taburan garam seadanya. Fajar menyantapnya dengan lahap, tanpa sedikit pun curiga, bahkan sempat mengacungkan jempol kecilnya kepada sang abang yang beberapa menit sebelumnya berbohong, mengaku sudah sarapan. Bohong kecil yang ia telan bersama rasa laparnya sendiri.
--
Ketika azan Ashar berkumandang dari masjid dekat pasar, Dafa segera membereskan sisa dagangannya. Ia teringat pesan Nenek Ipah yang selalu diulang, jangan pulang melewati waktu Ashar, sebab sungai yang harus ia seberangi akan mulai pasang menjelang Maghrib. Beberapa ikat sayur masih tersisa. Alih-alih memaksakan menjualnya, Dafa memilih membagikannya kepada orang-orang yang lewat, seperti yang selalu dilakukan Nenek Ipah. Kata neneknya, berbagi tak pernah membuat siapa pun jatuh miskin.
Di dalam keranjang yang kini kosong dari sayur, tersimpan hasil kerja kerasnya hari itu: sekilo beras, sepapan tempe, dan beberapa butir permen, janji kecil untuk Fajar yang tak pernah ia lupakan, meski tubuhnya telah digerogoti lelah sejak pagi.
Ia pun memulai perjalanan pulang. Puluhan kilometer telah menanti di hadapannya. Baru saat itu ia sadar, senter yang biasa menemaninya menyusuri jalan malam tertinggal di rumah. Jika gelap datang sebelum ia tiba, ia harus meraba jalan sendiri di tengah kebun yang bisa saja kembali diguyur hujan.
Baru saja ia hendak berbelok ke jalan tanah menuju kebun, sebuah suara memanggil namanya.
"Dafa!"
Ia spontan menoleh. Bu Maya, penjual cabai di pasar yang selama ini menjadi langganan Nenek Ipah, tampak berdiri di depan sebuah rumah besar. Rumah itu bukanlah tempat yang asing baginya. Setiap kali pergi ke pasar, ia selalu melewatinya. Namun, baru hari itu ia menyadari bahwa selama ini ia tak pernah mengetahui siapa pemilik rumah megah tersebut.
"Kemarilah sebentar, Nak. Mampir ke rumah Ibu dulu," panggil Bu Maya.
Dafa menggeleng pelan. "Lain kali saja ya, Bu. Sudah sore."
"Hanya sebentar. Ibu janji. Ada yang ingin Ibu berikan untuk nenekmu."
Dafa terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Nah, ayo masuk," ujar Bu Maya sambil membuka pintu lebih lebar.
Meski masih ragu, Dafa akhirnya melangkah masuk. Matanya menyapu seisi rumah yang terasa begitu asing, lantainya mengilap, kursi-kursinya empuk, segala sesuatu yang selama ini hanya pernah ia bayangkan dalam mimpi-mimpi kecilnya bersama Fajar di bawah cahaya lampu minyak. Ia nyaris tak percaya, rumah semegah itu ternyata milik Bu Maya.
Tak lama kemudian, Bu Maya kembali membawa beberapa kantong besar berisi sembako.
"Dari kemarin Ibu sudah mau kasih ini buat nenekmu. Tapi sudah hampir seminggu beliau tidak jualan. Memangnya ada apa dengan Nenek Ipah, Nak? Biasanya, kalau Ibu beli sayur, beliau selalu menyelipkan satu dua ikat tanpa mau dibayar."
"Nenek sedang sakit, Bu," jawab Dafa lirih.
"Ya Allah... sudah dibawa berobat?" Wajah Bu Maya seketika dipenuhi kecemasan. "Pantas saja hari ini kamu yang berjualan sendirian."
"Sudah, Bu. Minum obat dari warung.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Bu Maya semakin terenyuh. "Tadi pas lihat kamu di pasar, Ibu buru-buru pulang. Takut keduluan kamu pergi.”
"Tapi ini banyak sekali, Bu. Dafa takut merepotkan," ujar Dafa, matanya menunduk.
"Sama sekali tidak merepotkan." Suara Bu Maya mulai bergetar. "Ibu salut sama nenekmu. Di tengah kesederhanaan hidupnya, beliau masih selalu ingat untuk berbagi. Sabar, ikhlas. Ibu banyak belajar dari beliau.”
Dengan gerakan pelan, Bu Maya meletakkan kantong besar tadi ke dalam keranjang Dafa. Seketika keranjang yang tadinya hanya memuat sekilo beras dan satu papan tempe berubah menjadi penuh. Pandangan Dafa terpaku. Matanya membesar, seolah tak sanggup mencerna apa yang sedang terjadi. Namun kebaikan itu belum berhenti. Setelah itu, Bu Maya menyelipkan sesuatu lagi, lembaran uang yang jumlahnya tak sedikit.
"Ini buat beli obat nenekmu.”
Tangan kecil Dafa gemetar saat menerimanya. "Terima kasih banyak, Bu. Semoga Allah membalas semua kebaikan Ibu."
"Aamiin," bisik Bu Maya. Matanya ikut berkaca-kaca melihat bocah sepuluh tahun yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh haru dan syukur.
--
Sepanjang jalan pulang, keranjang di punggung Dafa terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Namun entah mengapa, langkahnya justru terasa semakin ringan. Beban yang ia pikul kini bukan lagi sekadar sayur yang tak laku, melainkan harapan yang bisa ia bawa pulang untuk Nenek Ipah dan Fajar.
Namun firasat Nenek Ipah benar. Air sungai mulai pasang. Dafa berdiri di tepinya, memandangi arus yang telah mencapai sebatas lutut. Dengan hati-hati, ia mengangkat keranjang itu ke atas kepalanya, lalu melangkah perlahan, menjaga keseimbangan agar tubuh kecilnya tak terseret arus. Setiap langkah yang ia ayunkan terasa seperti sebuah pertaruhan.
Langit di atasnya kian menggelap. Di jalan setapak itu, Dafa tak bisa berjalan cepat, bukan hanya karena beban di punggungnya, tetapi juga karena rasa takut yang perlahan menyelinap ke dalam dada. Namun setiap kali rasa takut itu datang, ia kembali mengingat isi keranjangnya. Bayangan wajah Nenek Ipah dan Fajar yang menunggunya di rumah membuat langkahnya kembali menguat.
--
Azan Isya berkumandang lirih, terbawa angin malam, tepat ketika Dafa tiba di halaman rumahnya. Dari kejauhan, cahaya lampu minyak tampak bergoyang pelan di teras, sementara dua sosok yang sedari tadi menunggu masih setia duduk di sana. Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Dafa berlari.
"Nek... Dafa pulang!" serunya, suaranya pecah oleh napas yang terengah. "Fajar... Abang bawa permen!”
Mendengar suara itu, Fajar sontak berdiri lalu berlari tanpa sempat mengenakan sandal, menubruk tubuh abangnya dan memeluknya erat sambil menangis.
"Kenapa Abang lama sekali... Fajar takut."
Dafa membalas pelukan itu sama eratnya. "Maaf ya," bisiknya. Suara yang sedari tadi ia tahan akhirnya bergetar juga.
"Alhamdulillah...." Nenek Ipah, meski tubuhnya masih lemah, memaksakan diri melangkah mendekat. Tangannya yang renta terulur membelai wajah cucu sulungnya. "Ada apa, Dafa? Kenapa pulangnya sampai malam begini?"
Maka Dafa pun bercerita, satu per satu, tentang siangnya yang panjang, tentang Bu Maya dan kebaikannya yang datang tanpa diduga. Tentang air sungai yang pasang. Nenek Ipah berkali-kali mengucap syukur, matanya berkaca-kaca, lalu berjanji dalam hati akan segera sembuh, agar dialah yang kembali turun ke pasar, bukan lagi cucunya yang baru berusia sepuluh tahun.
Sementara itu, Fajar sudah sibuk menikmati permennya, mengemutnya pelan-pelan dengan senyum kecil yang tak mampu ia sembunyikan. Bagi bocah tujuh tahun itu, sebutir permen murah bukan sekadar manis di lidah, melainkan bukti bahwa abangnya menepati janji, bahwa malam yang sempat menakutkan itu akhirnya berakhir dengan pelukan, bukan dengan kehilangan.
Dan di teras rumah bambu itu, di bawah cahaya lampu minyak yang tetap redup namun terasa begitu hangat, tiga hati yang saling menjaga kembali dipersatukan dalam pelukan dan syukur. Malam itu, mereka mungkin tak memiliki banyak harta, tetapi mereka memiliki satu sama lain, dan bagi keluarga kecil itu, itulah kekayaan yang sesungguhnya.
--
Tamat
Pos Admin
Komentar
Posting Komentar