Puisi Nietzsche Sebuah Api yang Hilang dari Ilmu Pengetahuan
"Mereka dingin, para sarjana ini! Kiranya sambaran petir menghantam makanan mereka, dan mulut mereka belajar memakan api!"
Itulah terjemahan bebas dari Nietzsche yang, begitu dibaca, menimbulkan banyak begitu penafsiran, intinya membahas sekumpulan orang terpelajar duduk mengelilingi meja, dengan piring-piring pengetahuan tersaji rapi di depan mereka. Mereka makan dengan tenang, mengunyah dengan sopan, mencatat rasa dengan teliti. Tapi tidak ada api dalam tubuh mereka. Nietzsche, sambil menyaksikan pemandangan itu, berharap petir menyambar makanan mereka agar mulut yang selama ini hanya mengunyah data, akhirnya belajar memakan api.
Ini bukan sekadar metafora indah. Ini adalah salah satu serangan paling tajam Nietzsche terhadap dunia akademis bukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan terhadap cara ilmu itu dihidupi, atau lebih tepatnya, tidak dihidupi sama sekali.
Apa yang membuat seorang sarjana "dingin" di mata Nietzsche? Bukan kebodohan. Justru sebaliknya mereka bisa jadi sangat pintar, sangat luas bacaannya, sangat rapi metodenya. Yang hilang bukan kapasitas intelektual, melainkan taruhan personal. Mereka mengumpulkan fakta seperti kolektor mengumpulkan perangko: rapi, terklasifikasi, dipajang dengan bangga, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh siapa mereka sebagai manusia.
Nietzsche membedakan dua hal yang sering dikira sama: mengetahui dan mengalami. Seorang sarjana dingin bisa menghafal setiap argumen tentang penderitaan manusia tanpa pernah membiarkan penderitaan itu mengubah caranya hidup. Ia bisa mengajar tentang keberanian sambil hidup paling aman dan paling tidak berisiko dari semua orang di ruangan itu. Ilmu, dalam bentuknya yang paling dingin, menjadi perisai cara untuk berbicara tentang kehidupan sambil bersembunyi darinya.
Di sebagian puisi karya Nietzsche, term petir nyaris selalu muncul sebagai lambang sesuatu yang datang tiba-tiba dan mengubah segalanya bukan pengetahuan yang dicerna pelan-pelan lewat kuliah dan catatan kaki, tapi semacam inspirasi yang menyambar dan meninggalkan bekas luka. Zarathustra sendiri digambarkan sebagai seseorang yang "hamil dengan petir" penuh dengan sesuatu yang akan pecah dan mengubah bentuk dunia.
Ketika Nietzsche berharap petir menyambar makanan para sarjana, ia sedang membayangkan momen di mana pengetahuan berhenti menjadi informasi netral dan berubah menjadi peristiwa yang memaksa seseorang untuk berubah. Bayangkan bedanya antara membaca tentang fenomena kematian dalam berbagai sudut keilmuan entah secara filosofis, psikologis, maupun antropologi, dan kedua cuma duduk di samping seseorang yang sekarat. Yang pertama adalah data. Yang kedua adalah petir.
Lalu datang gambar yang paling provokatif: mulut yang belajar memakan api. Api, bagi Nietzsche, adalah gairah, risiko, dan transformasi diri sesuatu yang jelas berbeda dari makanan yang aman dan mudah dicerna.
"Memakan api" berarti bersedia menanggung konsekuensi dari ide yang benar-benar diyakini. Bukan sekadar mendiskusikannya di seminar, lalu pulang ke kehidupan yang sama persis seperti sebelumnya.
Seorang pemikir sejati, bagi Nietzsche, adalah seseorang yang idenya membakar kenyamanannya sendiri reputasinya, keamanannya, bahkan mungkin ketenangan pikirannya.
Ini sebabnya Nietzsche menulis dengan begitu personal dan penuh luka. Ia tidak menulis tentang nihilisme sebagai topik akademis yang menarik untuk dianalisis dari jarak aman. Ia menulis sebagai orang yang benar-benar merasakan tanah di bawah kakinya runtuh, dan berusaha menemukan cara untuk tetap berdiri.
Ia berulang kali menegaskan perbedaan antara dua tipe manusia berpikir.
Di satu sisi ada der Gelehrte sarjana, orang berilmu yang pekerjaannya adalah menghafal, mengomentari, mengklasifikasi, dan menjelaskan apa yang sudah ada.
Di sisi lain ada filsuf sejati, yang pekerjaannya adalah menciptakan nilai-nilai baru, mengguncang peradaban, membuka jalan berpikir yang belum pernah ada.
Sindiran paling tajam Nietzsche adalah bahwa sebagian besar "filsuf" di universitas sebenarnya bukan filsuf sama sekali mereka adalah sejarawan filsafat. Mereka tahu persis apa yang dikatakan Kant, bagaimana Hegel membangun argumennya, di mana letak celah dalam logika Descartes. Tapi mereka sendiri tidak pernah menciptakan apa pun yang baru. Mereka adalah kurator museum pemikiran orang lain, bukan pematung yang menciptakan bentuk baru.
Ini bukan berarti sejarah filsafat tidak penting. Nietzsche sendiri sangat terpelajar tentang tradisi Yunani kuno. Tapi baginya, mengetahui tradisi harus menjadi bahan bakar untuk penciptaan, bukan tujuan akhir itu sendiri.
Siapa pun yang menafsirkannya berbicara tentang "ilmu yang berbahaya," yang dimaksud bukanlah ilmu yang mendorong kekerasan fisik atau kerusakan. Yang dimaksud adalah gagasan yang berbahaya bagi kemapanan cara berpikir yang sudah mapan.
Bahaya semacam ini adalah bahaya intelektual dan eksistensial: bahaya kehilangan pijakan lama, bahaya harus membangun ulang cara kita memandang dunia. Justru karena itulah ia terasa menakutkan bukan karena ia merusak tubuh, tapi karena ia merusak kepastian.
Untuk membuat ini lebih terbayang, bayangkan dua dosen etika di sebuah universitas.
Dosen pertama menguasai seluruh sejarah etika, dari Plato hingga Kant hingga etika kontemporer. Ia bisa menjelaskan setiap mazhab psikologi dengan presisi luar biasa, mengutip sumber dengan tepat, dan menulis makalah yang secara teknis sempurna. Tapi hidupnya sendiri tidak tersentuh oleh apa yang ia ajarkan. Ia mengajar tentang keberanian moral sambil tidak pernah mengambil sikap yang berisiko dalam hidupnya sendiri. Ilmunya lengkap, tapi dingin.
Dosen kedua mungkin tidak sepintar atau sehafal dosen pertama soal detail sejarah. Tapi pergulatannya dengan ilmu etika dan pertanyaan-pertanyaan etis benar-benar mengubah caranya hidup ia mengambil keputusan sulit, menanggung konsekuensi dari keyakinannya, dan memandang dunia dengan cara yang berbeda karena pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar menghantuinya.
Nietzsche akan lebih menghormati dosen kedua, meski dia tidak sepintar dosen pertama. Baginya, ilmu sejati bukan pekerjaan intelektual yang rapi dan aman, melainkan cara hidup Lebensform. Pengetahuan yang benar-benar berarti harus menjadi kekuatan yang mengubah manusia dari dalam, bukan sekadar mengisi rak-rak perpustakaan di kepalanya.
Kritik Nietzsche ini ditulis lebih dari satu abad lalu. Jika kita kaitkan dengan kehidupan di era informasi yang berlimpah siapa pun bisa mengakses ribuan artikel, kuliah daring, dan opini ahli hanya dalam hitungan detik. Tapi berapa banyak dari pengetahuan itu yang benar-benar membakar? Berapa banyak yang mengubah cara kita hidup, alih-alih hanya menjadi bahan obrolan yang kita lupakan minggu depan?
Nietzsche tidak sedang meminta kita menjadi bodoh atau anti-intelektual. Ia sedang meminta sesuatu yang gampang difahami namun sulit dilakukan, yaitu agar pengetahuan yang kita kejar benar-benar mempertaruhkan sesuatu dalam diri kita. Agar sesekali, kita bersedia membiarkan petir menyambar makanan kita sendiri dan belajar, sedikit demi sedikit, memakan api.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar