Nasirun Sang 'Seniman Gorengan' Itu Berpulang

Tetesan Air Mata Ibunda Kota Tua Jogyakarta - Melangkah Tanpa Alas Kaki- Jogyakarta _Maestro seni lukis Nasirun berpulang pada usia 61 tahun. Seniman asal Cilacap yang berdomisili di Yogyakarta itu bukan sembarang pelukis. Sejak dekade 90an, namanya booming dan lukisan-lukisannya meledak di pasaran sampai dilabeli sebagai 'seniman gorengan'.
Sejak tahun 1997, Nasirun ngeh kalau namanya kerap dilabeli sebagai 'seniman gorengan', bahkan sampai akhir hayatnya.

"Di tahun 1997, saya termasuk yang dibilang seniman gorengan. Sekarang saya merasa keberhasilan itu salah satu yang membuat laku dan sekarang saya merasa berbalik 100 persen," ujarnya kepada redaksi detikcom saat diwawancarai di kediaman pribadinya di Bayeman, Jalan Wates, Yogyakarta.
Padahal Nasirun sama sekali tidak berpikir tentang pasar seni. Ia hanya fokus berkarya, melukis, dan melukis lagi.

"Saya termasuk yang 'saruh' tentang pasar. Belakangan ini saya agak sedikit mau bikin yang monumen-monumen. Saya senang karya yang agak spekta-lah, karena minimal saya menyemangati diri sendiri. Syukur-syukur bisa memberikan semangat pada publik," katanya.

Sepanjang kariernya sebagai seniman, Nasirun ngaku tetap ada momen stagnan dalam kariernya. Ia mencoba untuk mengeksplorasi medium dan teknik lebih mendalam lagi.

"Saya berpikir harus buat karya yang minimal bisa menyemangati diri sendiri. Saya belajar menertawakan diri sendiri," katanya sembari tertawa.

Pertengahan 2018 di momen Yogya Art Week, redaksi detikcom pernah mengunjungi Nasirun Studio yang terletak di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Nasirun punya rumah besar sebagai kediaman pribadi untuk tinggal bersama keluarganya dan berkarya. Di seberangnya, dipisahkan dengan kali kecil di kompleks perumahannya ada museum tempatnya menyimpan karya ada ribuan di dalamnya.

Di dalam Museum Nasirun tersebut, ia juga mengoleksi karya-karya seni milik seniman Tanah Air. Bagi Nasirun, mengoleksi karya seni adalah hobinya yang juga menolong sesama seniman.

"Saya takut mereka (seniman lain) dilupakan oleh generasi sekarang. Karena sebenarnya dari merekalah saya betul-betul ada prosesnya dan dalam situasi apapun mereka karya," tutur Nasirun.
Di era 1940, 1950, sampai sebelum Orde Lama banyak seniman yang lahir berkat sanggar-sanggar seni. Dari situ, sumber daya manusia yang menjamur tapi sayangnya tak banyak karya mereka dikoleksi oleh kolektor.

"Saya juga bingung, kayaknya ada amanah tersendiri. Contohnya saja ketika Werner Krauss memberikan sketsa Raden Saleh, ia dikasih aja gitu cuma-cuma. Padahal kan penting sekali karya ini yah. Saya juga bingung," katanya lagi.

Selain itu, ada ratusan karya dari seniman Sanggar Bambu yang dikoleksi Nasirun.

Gak banyak yang tahu, makanya saya koleksi dan cukup lengkap karyanya. Ya tujuan saya cuma satu untuk berbagi ke anak muda agar tidak melupakan sejarah," jelas Nasirun.

"Ini bukan soal uang tapi soal riset. Siapapun boleh meriset karya di sini," tambahnya lagi.

Nasirun, yang selalu tampil nyentrik dengan rambut keriting dan sarung itu, juga dikenal sebagai pelukis yang hobi melukis body mobil. Mobil-mobil dari berbagai merek terkenal seperti jenis Mercy, Toyota Celica, VW Caravelle GL, dan lain-lain dijadikan kanvas untuk menorehkan karyanya.
Tiga karya Nasirun memecahkan rekor yang tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Atas karyanya, Nasirun mendapatkan penghargaan dari MURI.

Kabar duka yang diterima hari ini membawa rasa kehilangan yang teramat dalam. Nasirun yang selalu ramah pada siapapun dan tersenyum menerima tamu dari berbagai golongan itu, pernah mengatakan, "Melukis itu ibarat jiwanya saya."

Rasa-rasanya seniman Yogyakarta yang ngeguyub dan mau mengajari juniornya itu telah berpulang. Selamat jalan, Nasirun.

Baca juga:
Teater Nadirah Tampil di SIPFest 2026, Kolaborasi dari 3 Negara.

(tia/aay/ Obituari)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Jadwal Siaran Langsung Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup I.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi