Pembunuhan Dokter Thomas Wanggai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih

Artikel,
Mengulang Oleh , Yegema
Kematian Thomas Wanggai 
Berita Majalah GATRA edisi 20 Maret 1996 menghantam ruang publik Indonesia seperti petir di siang bolong dengan sampul utama bertuliskan tebal "KEMATIAN DR. THOM WAINGGAI". Foto wajah Dr. Thomas Wainggai memenuhi separuh halaman. Matanya menatap lurus, kumis tipis, garis keriput di wajahnya seperti peta luka sejarah. Di belakangnya, langit Abepura berwarna merah menyala. Asap mengepul dari atap-atap rumah yang terbakar. Di bawahnya, lautan manusia berjalan membawa jenazah, bendera, dan kemarahan yang sudah lama dipendam.
Dr. Thomas Wainggai bukan nama asing bagi orang Papua. Ia adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Ia pernah mengabdi di rumah sakit, menyentuh pasien, mengobati luka fisik. Tapi luka yang paling dalam yang ia lihat bukan di ruang UGD. Luka itu ada di kampung, di hutan, di sekolah yang tidak punya guru, di tanah adat yang digusur, di harga diri bangsa yang diinjak. Karena itu ia memilih jalan lain. Jalan politik. Jalan perjuangan. 

Tanggal 14 Desember 1988 menjadi hari yang mengubah hidupnya. Di halaman rumahnya di Waena, Jayapura, Dr. Thom mengibarkan bendera Bintang Kejora dan memproklamasikan kemerdekaan Papua Barat. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa teks deklarasi, beberapa orang, dan keyakinan bahwa rakyat Papua punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Tindakan itu dianggap subversi oleh negara. Ia ditangkap. Diadili. Divonis 20 tahun penjara. Vonis itu kemudian dikurangi, tapi masa di balik jeruji besi menggerogoti kesehatannya. Ia keluar masuk penjara. Tubuhnya melemah, tapi suaranya tidak pernah padam. 

Tahun 1996, di usia 53 tahun, Dr. Thom Wainggai meninggal dunia di Jakarta. Kabar kematiannya sampai ke Papua lewat radio, surat, dan mulut ke mulut. Pemerintah Indonesia kemudian memulangkan jenazahnya dari Jakarta ke Port Numbay, West Melanesia. Pesawat yang membawa peti jenazah mendarat, dan sejak saat itu Jayapura tidak pernah sama lagi. 

Ribuan orang sudah menunggu di bandara. Ada mama-mama dengan noken berisi makanan. Ada anak muda dengan pita hitam di lengan. Ada tetua adat dengan koteka dan cat wajah. Ada mahasiswa dengan poster. Tidak ada yang mengomando. Tapi semua tahu, ini bukan sekadar pemakaman. Ini adalah pertemuan duka kolektif sebuah bangsa. 

Jenazah diarak dari bandara menuju Abepura. Sepanjang jalan orang berlutut. Ada yang menangis. Ada yang bernyanyi lagu duka. Ada yang berteriak "Merdeka". Aparat keamanan berjaga di setiap sudut. Helikopter berputar di atas. Ketegangan terasa di udara. 

Di Abepura, suasana pecah. Massa yang sudah lama menahan marah akhirnya meluap. Mereka melihat kematian Dr. Thom bukan sebagai kematian satu orang. Mereka melihatnya sebagai simbol dari kematian harapan, kematian keadilan, kematian pengakuan. Kantor pemerintahan dilempari batu. Kendaraan dibakar. Toko-toko dijarah. Jalan utama penuh dengan api. Langit Abepura malam itu berwarna oranye. 

Majalah GATRA menulis dengan judul besar di bawah foto: "ABEPURA TERPANGGANG". Di dalam artikelnya ditulis bahwa aparat keamanan konon terlambat mengantisipasi keadaan. Jalan diblokade. Komunikasi terputus. Beberapa orang tewas. Banyak yang luka. Banyak yang ditangkap. Pemerintah menyebutnya kerusuhan. Media Jakarta menyebutnya gangguan keamanan. Tapi bagi orang Papua, itu adalah ratapan. Itu adalah cara mereka berkata kepada dunia bahwa kami masih ada, kami masih sakit, dan kami belum selesai. 

Mengapa kematian satu orang bisa membakar satu kota? Karena Dr. Thom bukan hanya seorang dokter. Ia adalah simbol perlawanan intelektual. Ia orang pertama yang berani berdiri di depan umum dan berkata bahwa Papua adalah bangsa yang berbeda. Ia menulis surat, ia berdebat, ia menolak untuk diam. Di penjara ia tetap menulis. Ia tetap mengajar. Ia tetap menjadi guru bagi tahanan lain. Karena itu ketika ia mati, yang mati bukan hanya tubuhnya. Yang mati adalah harapan bahwa negara akan mendengar lewat cara damai. 

GATRA edisi itu juga memuat wawancara singkat dengan beberapa tokoh. Ada yang bilang Dr. Thom terlalu keras kepala. Ada yang bilang ia pahlawan. Ada yang bilang ia korban sistem. Tapi satu hal yang sama: semua mengakui bahwa ia mengubah cara orang Papua berbicara tentang dirinya sendiri. Sebelum Dr. Thom, banyak yang takut menyebut kata "kemerdekaan". Setelah Dr. Thom, kata itu keluar dari mulut anak sekolah, dari mimbar gereja, dari rapat adat. 

Dampak dari pemakaman itu panjang. Di dalam negeri, peristiwa Abepura 1996 dicatat sebagai catatan kaki. Di luar negeri, organisasi HAM mulai bertanya. Wartawan asing mulai masuk. Foto-foto Abepura terbakar sampai ke meja PBB. Bagi pemerintah, ini masalah keamanan. Bagi rakyat Papua, ini adalah titik balik. Sejak 1996, gerakan mahasiswa makin kuat. Gereja makin vokal. Diaspora Papua di luar negeri makin terorganisir. Nama Dr. Thom disebut di setiap aksi. Wajahnya dicetak di kaos. Tulisan-tulisannya disalin dan diedarkan diam-diam. 

Sampai hari ini, setiap tanggal 20 Maret, sebagian orang Papua memperingati. Bukan dengan pesta. Tapi dengan doa, dengan diskusi, dengan menanam bunga di kuburannya di Port Numbay. Kuburan itu menjadi tempat ziarah. Anak muda datang dan bertanya: "Siapa kita? Dari mana kita? Mau ke mana kita?" Dan jawaban yang mereka dapat selalu kembali ke satu nama: Dr. Thomas Wainggai. 

Ada yang bilang peristiwa itu seharusnya tidak terjadi. Ada yang bilang itu bukti gagalnya dialog. Ada yang bilang itu bukti bahwa luka sejarah tidak bisa ditutup dengan pembangunan jalan dan jembatan saja. Jalan bisa diaspal, tapi kalau hati masih terluka, maka satu percikan kecil bisa membuat semuanya terbakar lagi. 

Kematian Dr. Thom Wainggai membuktikan satu hal. Bahwa di Papua, pemimpin tidak diukur dari berapa lama ia menjabat. Pemimpin diukur dari berapa dalam jejaknya di hati rakyat. Dr. Thom hanya memimpin beberapa tahun. Ia tidak pernah jadi bupati. Ia tidak pernah jadi gubernur. Ia tidak pernah duduk di DPR. Tapi 28 tahun setelah kematiannya, namanya masih disebut. Fotonya masih dipajang. Gagasan nya masih diperdebatkan. 

Dan Abepura? Abepura hari ini sudah berbeda. Sudah ada kampus, sudah ada mal, sudah ada jalan baru. Tapi luka 1996 belum sepenuhnya sembuh. Setiap kali ada penembakan, setiap kali ada penangkapan aktivis, setiap kali ada bendera Bintang Kejora dikibarkan, orang akan mengingat Maret 1996. Mereka akan bilang: "Dulu waktu Dr. Thom meninggal, Abepura juga begini". 

Itulah mengapa berita GATRA 20 Maret 1996 bukan sekadar berita kematian. Itu adalah dokumen. Dokumen tentang bagaimana sebuah bangsa berduka. Dokumen tentang bagaimana negara merespon duka itu. Dokumen tentang bagaimana api bisa lahir dari air mata. 

Sumber: Majalah GATRA, 20 Maret 1996. Foto sampul, wawancara, dan laporan lapangan dari Jayapura dan Abepura.
Berita Majalah GATRA edisi 20 Maret 1996 menghantam ruang publik Indonesia seperti petir di siang bolong dengan sampul utama bertuliskan tebal "KEMATIAN DR. THOM WAINGGAI". Foto wajah Dr. Thomas Wainggai memenuhi separuh halaman. Matanya menatap lurus, kumis tipis, garis keriput di wajahnya seperti peta luka sejarah. Di belakangnya, langit Abepura berwarna merah menyala. Asap mengepul dari atap-atap rumah yang terbakar. Di bawahnya, lautan manusia berjalan membawa jenazah, bendera, dan kemarahan yang sudah lama dipendam.

Pos. Admin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Jadwal Siaran Langsung Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup I.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi