GUBERNUR PAPUA PERTAMA ELIEZER JAN BONAI (E.J.BONAY)

Nama Eliezer Jan Bonay (E. J .Bonay) . Ia adalah Gubernur Papua pertama pada masa transisi kekuasaan di Tanah Papua (1963-1964). E.J. Bonay termasuk dua kepala pemerintahan pertama orang asli Papua selain Frans Kaisiepo (1964-1973).

Dasar dari munculnya dua pemimpin asli Papua ini pada masa Presiden Sukarno adalah Penetapan Presiden Nomor 1/1962 dan Undang-Undang 12 Tahun 1969. Selain itu adalah alasan politis yang berhubungan dengan pengalihan kekuasaan administrasi pemerintahan dari Nederlands Nieuw Guinea kepada Republik Indonesia melalui badan pemerintahan dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang disebut dengan UNTEA pada 1 Mei 1963. Hal ini dilakukan juga untuk mengalihkan perhatian kelompok-kelompok masyarakat lokal agar tidak menimbulkan kesan seakan-akan pemerintah Republik Indonesia sebagai penjajah baru (Griapon, 2010: 23-24).
Latar belakang itulah memunculkan E. J. Bonay yang merupakan tokoh terpelajar dan pamong praja lokal yang berasal dari Pulau Yapen, Kabupaten Yapen Waropen. Saingan utama dari E.J.Bonay adalah Frans Kaisiepo yang kemudian akan menggantikannya menjadi Gubernur Irian Barat. Dalam perjalanannya, hidup Bonay penuh dengan kelokan tajam: dari mendukung pemerintah Belanda, berbalik mendukung pemerintah Indonesia, namun akhirnya kecewa dan bergabung dengan para elite Papua di perantauan.

E.J. Bonay adalah generasi elite Papua saat gerakan kelompok elite Papua yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda mendeklarasikan negara Papua Barat dengan bendera, lagu, lambang, nama wilayah. Ia juga adalah anggota Komite Nasional Papua yang mendeklarasikan Negara Papua Barat pada 1 Desember 1961. Dua tahun yang menjadi titik balik dalam hidup E. J. Bonay ketika ia mengetahui bahwa akan terbentuk Provinsi Irian Barat di bawah Indonesia melalui Penetapan Presiden Sukarno Nomor 1 tahun 1962. Ia menaruh harapan dengan otonomi pemerintahan terhadap Irian Barat yang akan memberikan perhatian utama terhadap perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan yang mungkin melebihi Belanda.

Semangatnya yang menggebu-gebu untuk memajukan putra-putri Irian tergambar jelas dalam tulisannya pada Musjawarah ke-1 Rakjat Propinsi Irian Barat (30 April – 9 Mei 1964):

Pembangunan Irian Barat terutama terletak pada putera-puteri Irian Barat sendiri. Tenaga-tenaga putera Indonesia dari luar kita tetap hargakan sebagai tenaga-tenaga tehnis, tapi apa tendensi jang kita lihat pada umumnja. Sedangkan saudara-saudara dari pulau-pulau lain di luar Irian Barat jang telah padat penduduknja sangat susah membudjuknja meninggalkan tempat kelahirannja, biarpun hidupnja umpamanja agak sulit, apalagi jang tjukup kesenangan hidupnja. Sungguhpun ia keluar djuga dari tempat kelahirannja, masih amat susah menghapuskan perasaan dan pikirannja, bahwa di hari tuanja ia akan pulang lagi ke tempat-tempat kelahiran asalnja dan akan dikubur disana, dengan mendjual harta kekajaannja jang telah diperolehnja ditempat ia mengembara.

Sudah tentu kita tidak menolak sama sekali mereka tetap tinggal di daerah ini dan menganggapnja sebagai saudara-saudara sendiri, akan tetapi menusia tetap manusia. Sifat ini masih harus diperhitungkan. Sebab itulah masih sering dikatakan, bahwa pembangungan jang kontinju dari satu daerah terutama terletak ditangan putera-putera daerah itu sendiri dengan bantuan dan pengaruh unsur-unsur jang dibawa oleh saudara-saudara dari luar Irian Barat (hlm. 151-152).

E.J.Bonay pada akhirnya harus kecewa dengan harapannya tersebut. Sukarno digulingkan oleh Suharto lewat “kudeta merangkak” dan dilanjutkan dengan pembantaian massal terhadap orang-orang Indonesia yang dituduh komunis pada tahun 1965-1966. Mimpi dapat mengatur pemerintahan Irian Barat sendiri dan menyiapkan putera-putera Papua untuk membangun Papua harus pupus. Bersama dengan D. S. Ajamiseba dan S. D. Kawab, E. J. Bonay pernah meminta kepada Pemerintah Indonesia mengenai izin konsensi penambangan logam mulia bagi penduduk lokal. Namun permintaan itu ditolak. Lengkaplah sudah sakit hati E. J. Bonay yang dapat tipu (kena tipu) Pemerintah Indonesia (Griapon, 2010: 43).
John Rumbiak mewawancarai E. J. Bonay dalam pengasingannya di Belanda yang dimuat di Suara Papua Nomor 5, Maret/April 1990. Bonay mengungkapkan bahwa tidak terbersit keinginannya untuk mengungsi ke Eropa. Kisah awalnya adalah ketika dia memberikan kesaksian dalam Melanesian Solidarity Week yang diadakan di ibukota Papua New Guinea, Port Moresby pada 23-31 Mei 1981. Namun, pemerintah Papua New Guinea kemudian mengusirnya secara tiba-tiba dan ia selanjutnya berangkat ke Swedia pada 27 Juni 1981 dan tiba pada 30 Juni 1981. Pada 1982, Bonay pindah Belanda dan menetap di kota kecil bernama Wijhe.

Di negeri kincir angina itu, E. J. Bonay bergabung dengan elemen perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Ia menyelesaikan manuskrip panjang berjudul “Sejarah Kebangkitan Nasionalisme Papua” di sana dengan masukan data-data sejarah dari M.W. Kaisiepo, tokoh senior gerakan kemerdekaan Papua Barat di Negeri Belanda. Pandangannya yang kuat dan meyakinkan tentang tumbuhnya nasionalisme saat kolonialisme berlangsung tampak dalam kalimat berikut:

Tapi lazimnya di dunia ini, dimana ada kolonialisme, di sana pasti ada nasionalisme. Itu jelas. Belanda juga berjuang 80 tahun (melawan bangsa Spanyol). Akibat adanya kolonialisme. Rakyat Papua juga. Nasionalisme bukan baru tumbuh empat puluh tahun terakhir ini. Nasionalisme sudah ada sejak nenek-moyang, Tapi biasanya orang asing, terutama orang-orang Barat sering menterjemahkan nasionalisme itu lain, Dan Papua sering disebut Barbarian, Kanibal dank open-sneller. Itu kebiasaan kolonial. Indonesia juga. Pemerintah rezim militer Indonesia yang berkuasa saat ini member cap kepada pejuang Papua, kepada gerilyawan figters kita di hutan sebagai gerakan pengacau keamanan, gerakan pengacau liar dsb. Itu tidak aneh. Tidak usah heran. Kalau dulu, pada waktu revolusi 1945 di Pulau Jawa, Belanda juga memberi cap “ekstremisme” bangsa Indonesia. Jadi sama saja. Kalau dulu dia disebut eksremisme, sekarang dia balik dan bilang “GPL”.

Sayang, E.J.Bonay tak bisa berlama-lama terlibat dalam perjuangan memerdekakan bangsanya. Ia wafat pada usia 65 tahun, di rumah sakit Saint Joseph, Deventer-Nederland pada 14 Maret 1990 Pukul 18.15 waktu Nederland. Jenazahnya kemudian diperabukan pada 19 Maret 1990 di kota Zwolle dengan upacara keagamaan dan politik.***


Pos. Admin 

Dokumen:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK Anda, KATA-KATA Anda, KISAH Anda, PUISI Anda, CINTA-NYA Anda Atau Pun SANJAK Anda TERUNGKAP DISINI

Jadwal Siaran Langsung Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup I.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Kembali Baku Tembak Dan TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel Tetapkan Wilayah Pengungsi