Orang asli Papua akan kehilangan gunung berlapis es yang sangat sakral dalam spiritualitas mereka,
Tetesan Air Mata Ibunda- Kota Konflik Puncak jaya- Melangkah Tanpa Alas-Kaki- Puncak Jaya- 'Salju abadi' di Papua diyakini akan meleleh seluruhnya pada 2027 karena suhu di wilayah Pasifik diprediksi akan segera mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.
Orang asli Papua akan kehilangan gunung berlapis es yang sangat sakral dalam spiritualitas mereka, "walau hampir tak berkontribusi apapun dalam menyebabkan pemanasan global".
BBC News Indonesia berbicara dengan tiga generasi berbeda dari komunitas adat Amungme di Mimika dan Moni di Intan Jaya tentang sejarah serta bayangan mereka tentang kehidupan tanpa puncak salju yang mereka anggap suci.
"Nemangkawi bukan hanya gunung, tapi tempat peristirahatan orang tua dan leluhur," kata Elfrida Natkime, perempuan muda dari keluarga pemilik hak ulayat atas sejumlah kampung di dataran tinggi Mimika—salah satu kawasan pertambangan emas dan tembaga terbesar di dunia yang dieksploitasi PT Freeport Indonesia sejak 1969.
"Nemangkawi itu Hai Jogon—kedudukannya seperti surga," ujar Elfrida.
Puncak gunung bersalju itu tidak hanya sakral bagi masyarakat Amungme, tapi juga untuk masyarakat adat Hubula (sering disebut orang Dani) di sekitar Kabupaten Jayawijaya dan komunitas adat Damal di Kabupaten Puncak.
Kesakralan puncak berlapis es itu diakui pula oleh masyarakat adat Moni yang hidup di sisi utara puncak tersebut—kini dikenal sebagai Kabupaten Intan Jaya. Mereka menyebut puncak itu dengan nama Mbainggela, yang dalam bahasa Moni bermakna tempat suci atau gunung terlarang.
"Menurut pandangan orang Moni secara turun-temurun, Carstensz itu tempat suci," kata Magdalena Sondegau, perempuan di Distrik Sugapa, Intan Jaya.
"Dalam budaya kami, gunung itu dan daerah sekitarnya selalu kami sebut dalam nyanyian," ujar Magdalena, yang pernah bekerja sebagai pemikul barang untuk para pendaki yang hendak menginjakkan kaki di tumpukan es Puncak Carstensz.
Selama ribuan tahun sejumlah puncak bersalju di pegunungan tengah Papua telah menjadi bagian dari spiritualitas komunitas adat yang hidup di kakinya. Namun cara pandang berbeda mendorong orang-orang non-Papua untuk datang dan mendaki puncak-puncak itu.
Lenyapnya lapisan es Puncak Carstensz merupakan penanda bagaimana perubahan iklim terjadi di Papua dan berbagai wilayah yang mengapitnya, kata Marie Sabacka, pakar ekologi gletser di Departemen Ekologi Charles University, Republik Ceko. Dia mendaki dan meneliti glestser di Carstensz, Maret lalu.
Marie berkata, realitas yang terjadi pada Puncak Carstensz menunjukkan ketidakadilan sosial secara global.
"Masyarakat adat Papua berkontribusi sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, tapi mereka menyaksikan perubahan yang tidak terelakkan di ruang hidup mereka," kata Marie.
Klaus Thymann, penjelajah asal Denmark, adalah salah satu orang non-Papua yang baru-baru ini melakukan ekspedisi itu. Akhir 2025, dia menginjakkan kakinya ke Puncak Carstensz untuk membuat peta tiga dimensi gletser yang tersisa.
"Gletser telah berada di puncak itu selama berabad-abad. Menjadi saksi mata bagaimana lapisan es itu telah menyusut sungguh mencengangkan," kata Klaus.
"Ketika Anda berdiri di depan gunung itu dan melihat titik yang 10 tahun lalu berlapis es sekarang tak lagi memiliki gletser, Anda akan menyadari perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat," ucap Thymann.
"Saya tidak yakin apakah orang lain memahami hal ini, tapi saya berharap orang-orang bisa menyadari urgensi untuk melakukan sesuatu," tuturnya.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar