Kalau Kamu Malu Menyanyi Dalam Bahasa Leluhur Sendiri, Maka Kamu Sudah Kalah." Arnold Clement AP
Tetesan Air Mata Ibunda -Kota Tua Holandia Jayapura - Melangkah Tanpa Alas-Kaki- Holandia Jayapura -Di sebuah studio kecil RRI Nusantara V Polimak, ada suara yang tidak pernah asing didengar.
"Selamat malam, Tanah Papua. Ini Pelangi Budaya..."
Laki-laki itu duduk dengan gitar ukulele di pangkuan. Namanya Arnold Clemens Ap. Kurator Museum. Mahasiswa Geografi yang tidak pernah lulus karena terlalu sibuk keliling kampung merekam suara nenek-nenek yang menyanyi.
Orang lain kuliah untuk jadi pegawai. Arnold kuliah untuk mengumpulkan bahasa-bahasa yang mau dihapus.
Dia ajarkan anak-anak Abepura:
"Kalau kamu malu menyanyi dalam bahasa Leluhur sendiri, maka kamu sudah kalah."
Kaset Mambesak Vol I sampai V dijual di pasar-pasar. Dari Biak sampai Wamena, dari tifa sampai piring seng, semua orang memutarnya.
lagu Apuse Kokon Dao ,Itu dulu adalah Doa perpisahan seorang cucu kepada neneknya di Teluk Doreri , Itu lagu yang diselamatkan oleh Arnold dari kepunahan.
Lalu versi Mambesak itulah yang iramanya kemudian dipakai tanpa kredit yang jelas untuk soundtrack film "Garuda di Dadaku" oleh band Netral tahun 2009/2011 dan dipakai untuk Iklan Kacang garuda.
Pemerintahan di Jawa waktu itu sedang punya mimpi: satu bahasa, satu budaya, satu warna.
Arnold punya mimpi yang berlawanan: ribuan warna harus tetap hidup dibumi Papua bagai Pelangi
Maka ia dicap berbahaya.
Bukan karena ia membawa senjata. Karena ia membawa kaset.
π΄30 November 1983.
Pasukan khusus datang. Tidak ada surat. Tidak ada pengadilan.
Arnold dan sepupunya, Edy Mofu, dimasukkan ke sel Polda di APO. Berbulan-bulan. Tuduhannya: simpatisan OPM. Buktinya tidak pernah ada sampai hari ini
π΄21 April 1984.
Malam di dalam dinginnya sel, ia masih bersenandung.
Seorang polisi datang. Pius Wanem namanya. Ia membuka kunci mengarahkan.
"Lari. Ada perahu menunggu."
Lima orang berlari dalam gelap, menembus belakang GOR Cenderawasih. Sebuah Toyota menunggu. Seorang di antaranya, Alex Membri, memilih hilang di kegelapan dan selamat. Sisanya dibawa ke Base-G.
Sampai di pantai, mereka disuruh berenang menuju perahu di tengah ombak Pasifik yang hitam.
Edy Mofu kehilangan tenaga. Ombak menelannya. Mayatnya ditemukan warga keesokan harinya, masih lengkap dengan pakaian.
Arnold sampai di Pasir 6. Bersama dua temannya. Hari terus berganti, menanti janji akan ada kapal yang akan membawa mereka ke Vanimo, Papua New Guinea. Di sana, istri dan anak Arnold sudah menunggu dengan koper kecil menanti dalam perasaan tidak enak.
Sampai dihari terakhir hidupnya, Tidak ada kapal yang dimaksud ke PNG.
Hari keempat, sebuah perahu nelayan yang biasa mengantar mereka makanan merapat. Di dalamnya bukan lagi makanan. Penuh dengan seragam loreng.
Arnold tidak bisa lari lagi.
Tiga letusan menggelegar di bibir pantai Base-G. Satu di perut, satu di lengan kanan. Darah bercampur pasir. Ia digotong ke perahu, dibawa kembali ke Base-G. Dua perawat dari RS Aryoko sudah menunggu dengan alat medis. Sia-sia. Ia sudah kehabisan darah.
π΄26 April 1984. Arnold Clemens Ap mati di umur 38 tahun.
Keesokan harinya, jasadnya dikembalikan ke rumah dinasnya, tepat di depan Museum yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Berita menyebar seperti api di ilalang. Jayapura menangis. Massa memadati rumah duka. Militer keras memaksa: "Kubur malam ini juga, jam 7..!!! "
Maka malam itu, ratusan orang berjalan kaki. Tidak ada mobil, tidak ada teriakan. Yang ada hanya suara tifa pelan, tangis sesak dan suara langkah kaki-kaki telanjang di aspal sejauh dua kilometer menuju Tanah Hitam. Mereka menguburnya di sebelah Edy Mofu, dua musisi yang dibunuh karena mereka menolak diam.
Versi resmi di koran besoknya tersebar, Judulnya hanya satu baris: berusaha melarikan diri.
Tapi di kampung-kampung, kasetnya terus diputar. Makin keras.
Karena mereka baru sadar: mereka bisa membunuh laki-lakinya, tapi tidak bisa membunuh lagu yang sudah ia titipkan ke ribuan mulut dan telinga.
Hari ini, Di Jayapura setiap 26 April, akan lihat anak-anak muda duduk di makamnya., untuk terus menolak lupa.
Mambesak itu bukan cuma grup musik. Itu adalah gerakan penyelamatan identitas Papua.
Mambesak dalam bahasa Biak artinya Burung Cenderawasih - burung surga yang dianggap sakral.
Awalnya tahun 1972 namanya Manyori, artinya Burung Nuri yang juga suci bagi orang Biak. Karena masukan teman-teman, diganti jadi Mambesak biar lebih besar, lebih Papua.
Siapa isinya?
Didirikan oleh Arnold Ap (kurator Museum Uncen) bareng temanya Sam Kapissa dan mahasiswa-mahasiswa Uncen. Isinya bukan musisi profesional, tapi guru, mahasiswa geografi, tukang museum, anak-anak kampung yang dia ajarin main tifa, ukulele, dan gitar.
Apa yang Mambesak lakukan?
3 jurus:
1. Keliling Kampung - Rekam - Aransemen
Arnold dan kawan-kawan jalan kaki dari kampung ke kampung. Mereka rekam mama-mama menyanyi lagu-lagu suku yang hampir punah - lagu Biak, Sentani, Wamena, Serui. Mereka bawa pulang ke studio, lalu diaransemen ulang pakai format band rakyat: gitar + ukulele + tifa.
Itu yang dalam ilmu musik disebut Folksong - lagu rakyat yang penyebarannya turun-temurun dan penciptanya sudah tidak diketahui.
2. Kaset dan Radio
Hasilnya mereka jadiin Kaset Mambesak Vol I sampai V. Di tahun 78-84 itu laku keras, diputar ulang berkali-kali karena cuma itu satu-satunya kaset yang nyanyiin hampir semua bahasa di bumi Papua.
Mereka juga punya 2 acara legendaris di RRI Jayapura:
• Pelangi Budaya - muterin musik tradisional Papua
• Pancaran Sastra - cerita lucu bahasa Melayu Papua yang disebut Mop, dan bacain kiriman teks lagu dari pendengar di pelosok.
3. Panggung dan Regenerasi
Mambesak rutin ikut lomba tari dan musik dari tingkat lokal sampai nasional. Arnold sendiri yang nulis sketsa formasi tarian kreasi Papua. Tujuannya satu: nunjukin ke Indonesia kalau budaya Papua itu bukan primitif, tapi kaya.
Kenapa penting banget?
Waktu itu tahun 70-an, pemerintah lagi gencar program asimilasi - semua harus seragam budaya Jawa. Musik dan tarian Papua dilarang tampil karena dianggap memperkuat nasionalisme Papua.
Mambesak melawan dengan cara paling halus tapi paling bahaya: membuat orang Papua bangga lagi menyanyi dengan bahasa leluhurnya sendiri.
(Bahaya bagi pemerintahan kala itu)
Setelah Arnold dibunuh 26 April 1984, Mambesak pecah. Tapi spiritnya hidup jadi Mambesakologi - istilah yang dipakai 11 penulis dari Uncen di buku yang mereka luncurkan 5 Agustus 2020 berjudul "Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan dan Kebudayaan Masyarakat Papua Proto".
Singkatnya: kalau Arnold Ap adalah otaknya, Mambesak adalah suaranya.
Pos. Admin
Komentar
Posting Komentar